Nilai sekolah yang bagus sering dianggap sebagai tanda bahwa anak baik-baik saja. Nilai tinggi juga sering dianggap sebagai bukti bahwa seorang anak rajin, disiplin, dan berada di jalur yang betul menuju kesuksesan.
Dalam keseharian, anak yang berprestasi mungkin terlihat giat belajar. Padahal, di kembali prestasi akademik yang membanggakan, anak bisa saja sedang mengalami tekanan emosional, Bunda.
Masalahnya, pergumulan emosional tidak selalu tercermin dalam nilai akademik. Beberapa anak mungkin menyembunyikan kekhawatiran mereka lantaran takut mengecewakan orang tua alias kehilangan kepercayaan.
Penelitian menunjukkan bahwa tekanan akademis umum terjadi di kalangan siswa. Studi menemukan bahwa nyaris dua pertiga siswa sekolah menengah mengalami stres akademis yang signifikan, dan banyak yang mengatakan bahwa angan orang tua menambah beban tersebut.
Ketika anak-anak mulai percaya bahwa kasih sayang, pujian, alias penerimaan berjuntai pada prestasi, mereka mungkin mengabaikan emosi dan hanya konsentrasi pada pencapaian yang lebih banyak.
Ciri anak berprestasi tertekan secara emosional
Dilansir laman India Today, penulis dan pendiri ConsciousLeap, Sanjay Desai, mengatakan bahwa orang tua semestinya bisa memandang lebih dari sekadar nilai dan memperhatikan perubahan perilaku sehari-hari yang mungkin secara diam-diam menandakan tekanan emosional pada anak-anaknya. Namun, tanda-tanda ini sering kali disalahartikan sebagai karakter kepribadian alias kebiasaan sementara.
Mengenali tanda-tanda ini sejak awal memungkinkan orang tua untuk mendukung kesehatan emosional anak mereka sebelum stres menjadi masalah yang lebih besar. Nah, berikut ciri-ciri anak tertekan secara emosional meski nilai sekolahnya tetap bagus:
1. Anak terus mengulang pekerjaan yang sudah cukup baik
Si Kecil suka berulang kali menghapus jawaban, menulis ulang pekerjaan rumah, alias menolak menyerahkan tugas lantaran merasa tidak sempurna? Kepribadian tersebut mungkin terlihat seperti dedikasi. Namun tanpa disadari, perihal itu bisa menjadi tanda perfeksionisme.
Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang dipuji terutama lantaran 'pintar' sering kali menjadi takut membikin kesalahan. Alih-alih memandang kesalahan sebagai bagian dari pembelajaran, mereka mulai percaya bahwa kesalahan menentukan nilai diri mereka sendiri, Bunda.
Seorang anak yang terus-menerus mengejar kesempurnaan mungkin sebenarnya tidak cemas tentang pekerjaan itu sendiri. Mereka mungkin cemas tentang hasil yang tidak sempurna tentang diri mereka.
2. Anak sering mengeluh sakit kepala alias sakit perut
Sebagian anak tidak mudah mengungkapkan emosi ketika mengalami kekhawatiran alias stres. Mereka secara tidak sadar menunjukkan perasaannya melalui kondisi fisik, seperti sakit kepala alias sakit perut.
Ketika anak merasa tidak lezat badan, terutama sebelum sekolah, ujian, alias kegiatan penting, perihal itu dapat dikaitkan dengan stres emosional dan bukan penyakit medis. Jika keluhan-keluhan ini sering terjadi tanpa penyebab bentuk yang jelas, ada baiknya untuk menyelidiki apakah Si Kecil merasa kewalahan secara emosional.
3. Anak tetap tenang di sekolah tapi menjadi emosional di rumah
Banyak pembimbing menggambarkan siswa berprestasi sebagai anak yang sopan dan berperilaku baik di sekolah. Namun, ketika sudah sampai di rumah, anak-anak ini bisa saja menunjukkan kepribadian yang berbeda. Mereka jadi mudah tersinggung, marah, alias menangis setelah pulang ke rumah.
Para mahir mengatakan perihal itu sebenarnya adalah pola yang umum. Anak-anak sering menghabiskan sepanjang hari di sekolah untuk mengendalikan emosi, mengikuti aturan, dan memenuhi harapan. Rumah menjadi satu-satunya tempat di mana mereka akhirnya merasa cukup kondusif untuk melepaskan semua yang selama ini dipendam.
Nah, alih-alih hanya memandang luapan emosi ini sebagai perilaku buruk, orang tua semestinya bertanya pada diri sendiri apa yang mungkin telah dipendam anak mereka sepanjang hari.
4. Mereka suka merendahkan diri sendiri sebelum orang lain melakukannya
Seorang anak yang sering berbual tentang dirinya yang 'bodoh', 'tidak becus dalam segala hal', alias 'tidak cukup baik' mungkin terlihat kocak alias percaya diri. Namun, terkadang lawakyang merendahkan diri sendiri menjadi perisai terhadap kritik.
Anak yang suka melontarkan komentar negatif tentang diri mereka sendiri mungkin merasa mempunyai kendali lebih besar atas potensi penilaian dari orang lain. Seiring waktu, lelucon-lelucon ini dapat mengungkap rasa tidak kondusif yang lebih dalam dan rendah diri.
Orang tua kudu memperhatikan jika komentar seperti itu menjadi sering terjadi. Jangan menganggapnya sebagai lelucon yang tidak rawan ya.
5. Anak terus meminta maaf alias mencari kepastian
Anak yang terus-menerus meminta maaf atas perihal yang sepele bisa jadi mengalami tekanan emosional. Mereka juga mungkin mengaitkan nilai diri dengan persetujuan orang lain.
Alih-alih merasa percaya diri, anak justru berjuntai pada pengesahan eksternal untuk merasa aman. Pola tersebut bisa saja bersambung hingga dewasa jika anak-anak tidak pernah belajar bahwa mereka dihargai tanpa memandang keahlian alias kesempurnaan.
6. Tidak terlalu suka menghabiskan waktu dengan teman
Salah satu tanda yang paling mudah terlewatkan ketika anak mengalami tekanan emosional adalah keputusan mereka untuk menarik diri dari pergaulan. Seorang anak mungkin terus berprestasi secara akademis sementara secara perlahan menjauhkan diri dari teman, hobi, alias hubungan keluarga.
Bagi anak-anak ini, tugas sekolah menjadi satu-satunya bagian yang dapat mereka kendalikan, sehingga mereka mencurahkan seluruh daya di sana sementara bagian lain dari kehidupan perlahan-lahan menyusut. Meskipun anak terus mendapatkan nilai yang bagus, tanpa disadari kesenyapan dan kelelahan emosional mungkin semakin meningkat di baliknya.
7. Permainan dianggap seperti tugas
Bagi anak-anak yang mengalami tekanan emosional, bermain bisa dianggap lebih dari sekedar hiburan. Para psikolog menganggap permainan imajinatif merupakan salah satu langkah terpenting bagi anak-anak untuk memproses emosi, membangun kreativitas, dan pulih dari stres.
Jika seorang anak yang dulunya menyukai menggambar, bercerita, alias sekadar bermain di luar tiba-tiba hanya lebih menyukai kegiatan terstruktur dengan tujuan yang jelas, perihal itu mungkin menunjukkan bahwa mereka kesulitan untuk bersantai. Ketika setiap kegiatan berfokus pada pencapaian, anak-anak kehilangan kesempatan berbobot untuk memproses emosi secara alami.
Itulah ciri-ciri anak tertekan secara emosional meski nilai sekolahnya tetap bagus. Semoga info ini berfaedah ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/fir)