Jakarta -
Keterampilan sosial diperlukan dalam beragam konteks kehidupan, salah satunya dalam ranah profesional. Keterampilan sosial menjadi perihal yang krusial dalam membangun relasi. Hal tersebut disampaikan oleh pembimbing kehidupan pribadi dan korporat, Mason Farmani.
"Mengembangkan keahlian sosial Anda krusial lantaran itu adalah dasar gimana Anda berinteraksi dengan orang lain dan membangun hubungan," ujarnya.
Meskipun tidak selalu tampak secara langsung, seperti misalnya di media sosial di mana nada dan bahasa tubuh tidak terlihat, terdapat karakter orang yang tidak pandai bersosialisasi. Ciri orang yang tidak pandai bersosialisasi dapat terlihat dari pemilihan frasa tertentu.
Bagi seseorang yang mau terlihat lebih terampil dalam bersosialisasi, ada baiknya mengurangi penggunaan kalimat-kalimat berikut ini.
1. Kurangi pengucapan kata “Sebenarnya...”
Ahli etiket dan pembawa kegiatan podcast Were You Raised By Wolves?, Nick Leighton, menyampaikan bahwa sebaiknya ketika seseorang melakukan kesalahan dalam pengucapan kalimat, tidak selalu perlu dikoreksi.
"Ketika seseorang mengacaukan pengucapan kata Prancis, salah mengutip lirik lagu, alias menggunakan tata bahasa yang tidak 100 persen benar, tidak selalu perlu untuk mengoreksi orang dalam percakapan," katanya.
2. Perhatikan pengucapan “Saya hanya jujur”
Ucapan yang mengisyaratkan bahwa seseorang sedang berupaya berbicara jujur tentang suatu situasi tidaklah salah. Akan tetapi, Leighton menyarankan untuk menggunakan kejujuran dengan mempertimbangkan emosi orang lain. Ia tidak menyarankan untuk berbohong, tetapi menggunakan “kejujuran” sebagai argumen untuk bersikap sadis juga bukan corak sosial yang baik.
"Etiket yang baik memerlukan kejujuran dan taktik," kata Leighton. "Perhatikan emosi orang lain," lanjutnya.
3. Hindari frasa "Bukan masalahku”
Frasa "Bukan masalahku” ini memberi nuansa tidak acuh dan individual. Utamanya dalam situasi ketika seseorang berada dalam forum membahas perihal penting, ucapan ini kurang tepat disampaikan. Farmani mengibaratkan frasa "Bukan masalahku” seperti paku di papan tulis bagi sebagian orang.
"Frasa ini memindahkan beban tanggung jawab kepada orang lain dan menandakan kurangnya kemauan untuk membantu, yang bisa membikin Anda terlihat dingin dan mementingkan diri sendiri," jelas Farmani.
4. Ucapan "Tidak bermaksud menyinggung, tapi..."
Dalam sebuah perdebatan alias perselisihan, kalimat "Tidak bermaksud menyinggung, tapi...," umum digunakan untuk berupaya meredam emosi. Namun upaya ini seringkali gagal. Farmani beranggapan bahwa ucapan, "Tidak bermaksud menyinggung, tapi..." jarang sukses meredam akibat perselisihan dan biasanya menghina orang.
5. Hindari berbicara ”Itu bodoh“
Kalimat yang mengindikasikan seseorang tidak pandai bersosialisasi berikutnya adalah kalimat ”Itu bodoh.“ Dalam sebuah pertemuan, komentar seperti ini bakal membikin sebagian besar orang tak bersuara dan tidak ada solusi dari percakapan yang dijalin.
Hal ini sejalan dengan pertanyaan reflektif yang dilontarkan oleh Ahli Etiket Modern sekaligus COO Fresh Starts Registry, Jenny Dreizen, "Ke mana percakapan ini bisa bersambung setelah ini?"
6. Kalimat "Kamu selalu/tidak pernah..."
Menurut Farmani, uapan "Kamu selalu/tidak pernah..." merupakan salah satu contoh frasa yang dilontarkan seseorang dengan keahlian sosial yang buruk. Ucapan itu terlalu menggeneralisasi perilaku musuh bicara. "Generalisasi semacam ini tidak proporsional dan tidak adil," kata Farmani. "Mereka saling bersikap melindungi dan memulai konfrontasi," sambungnya.
7. Pengucapan kalimat "Tunggu, tunggu. Aku punya cerita yang lebih baik"
Dalam bersosialisasi, kalimat "Tunggu, tunggu. Aku punya cerita yang lebih baik" sebaiknya dihindari. Mengungguli seseorang dalam percakapan dengan kalimat ini dapat membikin seseorang tidak mau melanjutkan percakapan.
Untuk mengatasi perihal ini, Dreizen memberi saran agar memberi waktu kepada musuh bicara untuk menyampaikan cerita mereka, tanggapi dengan baik, baru kemudian membagikan cerita yang mau disampaikan.
"Berikan waktu yang tepat pada cerita mereka, ajukan beberapa pertanyaan dan tertawalah jika perlu. Lalu, Anda bisa membagikan ceritamu alias menyimpannya untuk nanti," kata Dreizen.
Itu dia beberapa karakter seseorang yang tidak pandai bersosialisasi berasas kalimat yang diucapkannya.
Apabila seseorang mau belajar meningkatkan keahlian sosial ada beberapa perihal yang dapat dilakukan, ialah menjadi pengamat dan pendengar yang baik, mengusulkan pertanyaan sebagai tanda kita betul-betul memperhatikan, serta percaya kepada musuh bicara ketika dia menceritakan tentang dirinya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·