7 Hadis tentang Keutamaan Shalat Isya

Bincang Syariah oleh Waktu baca 6 menit 512x dilihat
7 Hadis tentang Keutamaan Shalat Isya

Bagikan Postingan

7 Hadis tentang Keutamaan Shalat Isya7 Hadis tentang Keutamaan Shalat Isya

Kincai Media– Malam telah tiba. Aktivitas bumi mulai mereda, tubuh mulai terasa lelah, dan sebagian orang sudah bersiap untuk beristirahat. Pada saat seperti inilah seorang Muslim kembali dipanggil untuk menghadap Allah melalui shalat Isya.

Shalat Isya mungkin terasa sederhana lantaran dia merupakan shalat wajib terakhir dalam sehari. Namun, di kembali waktunya yang datang ketika manusia mulai lelah, terdapat keistimewaan yang begitu besar.

Rasulullah  bahkan memberikan gambaran bahwa orang yang menjaga shalat Isya berjamaah memperoleh pahala yang seakan-akan dia melakukan qiyamullail selama separuh malam.

Ini menunjukkan bahwa Isya bukan sekadar penutup rangkaian shalat wajib harian. Ia adalah salah satu pintu besar menuju pahala, kedisiplinan, ketakwaan, dan kecintaan kepada masjid.

Berikut tujuh sabda yang menggambarkan keistimewaan shalat Isya.

1. Shalat Isya berjamaah seperti melakukan qiyam selama separuh malam

Dari Utsman bin Affan, Rasulullah  bersabda:

مَنْ صَلَّى الْعِشَاءَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا قَامَ نِصْفَ اللَّيْلِ، وَمَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ

“Barang siapa melaksanakan shalat Isya secara berjamaah, maka seakan-akan dia telah melakukan qiyam selama separuh malam. Dan peralatan siapa melaksanakan shalat Subuh secara berjamaah, maka seakan-akan dia telah melaksanakan shalat sepanjang malam.” (HR. Muslim)

Hadis ini merupakan salah satu dalil paling jelas tentang besarnya keistimewaan shalat Isya berjamaah. Bayangkan, seseorang mungkin merasa bahwa dirinya hanya melangkahkan kaki ke masjid untuk menunaikan shalat beberapa rakaat. Tetapi di sisi Allah, kebaikan tersebut mempunyai nilai yang begitu besar hingga diserupakan dengan qiyam selama separuh malam.

Karena itu, jangan memandang ringan perjalanan menuju masjid ketika waktu Isya tiba. Bisa jadi langkah yang terasa berat bagi tubuh justru menjadi karena datangnya pahala yang sangat besar.

2. Pahala Isya begitu besar hingga manusia rela datang walaupun kudu merangkak

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah  bersabda:

وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي الْعَتَمَةِ وَالصُّبْحِ لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

Artinya; “Seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat dalam shalat Isya dan Subuh, niscaya mereka bakal mendatanginya walaupun kudu dengan merangkak.”

Perhatikan gimana Rasulullah  menggambarkan besarnya pahala kedua shalat tersebut. Beliau tidak mengatakan bahwa manusia bakal datang dengan melangkah biasa. Beliau menggambarkannya dengan sesuatu yang sangat kuat: walaupun kudu merangkak.

Ini bukan berfaedah seorang Muslim kudu betul-betul memaksakan diri dalam keadaan yang membahayakan. Akan tetapi, sabda tersebut menggambarkan sungguh besar pahala Isya dan Subuh sehingga jika manusia mengetahui prinsip pahalanya, mereka tidak bakal menjadikannya sebagai shalat yang mudah ditinggalkan.

Sering kali yang membikin seseorang malas bukan lantaran pahala shalat Isya kecil, tetapi lantaran dia belum menyadari sungguh besar pahala yang Allah sediakan di baliknya.

3. Isya dan Subuh merupakan shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik

Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah  bersabda:

إِنَّ أَثْقَلَ الصَّلَاةِ عَلَى الْمُنَافِقِينَ صَلَاةُ الْعِشَاءِ وَصَلَاةُ الْفَجْرِ، وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا

Artinya; “Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat Isya dan shalat Subuh. Seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat pada keduanya, niscaya mereka bakal mendatanginya walaupun dengan merangkak.” (Muttafaq ‘alaih)

Keduanya berada pada waktu yang secara manusiawi cukup berat. Isya datang ketika tubuh mulai capek dan mau beristirahat, sedangkan Subuh datang ketika seseorang tetap berada dalam suasana tidur.Karena itu, kedua shalat tersebut menjadi ujian nyata bagi kesungguhan seorang hamba.

Hadis ini sekaligus mengajarkan bahwa semangat beragama bukan hanya terlihat ketika tubuh sedang segar dan suasana menyenangkan. Salah satu tanda kesungguhan ketaatan adalah tetap menjaga tanggungjawab ketika hawa nafsu menginginkan sebaliknya.

Maka, beratnya Isya bukan argumen untuk meninggalkannya. Justru perjuangan melawan rasa malas itulah yang menjadikan ketaatan semakin bernilai.

4. Menunggu shalat Isya juga berbobot seperti berada dalam keadaan shalat

Keutamaan Isya rupanya tidak hanya terdapat pada penyelenggaraan shalatnya. Bahkan menunggu pelaksanaannya pun dapat mendatangkan pahala.

Anas bin Malik meriwayatkan bahwa suatu malam Rasulullah  mengakhirkan shalat Isya hingga mendekati tengah malam. Setelah itu beliau datang dan bersabda:

إِنَّ النَّاسَ قَدْ صَلَّوْا وَرَقَدُوا، وَإِنَّكُمْ لَمْ تَزَالُوا فِي صَلَاةٍ مَا انْتَظَرْتُمُوهَا

“Sesungguhnya orang-orang telah melaksanakan shalat lampau tidur, sedangkan kalian senantiasa berada dalam keadaan shalat selama kalian menunggu shalat tersebut.” (HR. Muslim)

Ini adalah berita ceria yang luar biasa. Seseorang yang telah datang ke masjid untuk menunaikan shalat Isya, kemudian duduk menunggu iqamah, tidak sekadar dianggap sedang “menunggu”. Ia memperoleh keistimewaan seperti orang yang berada dalam keadaan shalat selama penantiannya.

Maka, jangan terburu-buru menganggap waktu sebelum Isya sebagai waktu kosong. Duduk di masjid, berdzikir, membaca Al-Qur’an, alias sekadar menunggu shalat dengan niat yang betul dapat menjadi bagian dari rangkaian ibadah.

5. Rasulullah  menyukai mengakhirkan Isya jika tidak memberatkan umat

Pada sabda lain, Sayyidah Aisyah meriwayatkan bahwa pada suatu malam Rasulullah  mengakhirkan shalat Isya hingga sebagian besar malam telah berlalu. Setelah itu beliau keluar untuk melaksanakan shalat dan bersabda:

إِنَّهُ لَوَقْتُهَا لَوْلَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي

Artinya; “Sesungguhnya itu adalah waktunya, seandainya saya tidak cemas bakal memberatkan umatku.”

Riwayat-riwayat dalam Sahih Muslim juga menunjukkan bahwa Rasulullah  tidak keberatan mengakhirkan Isya hingga mendekati tengah malam, sementara beliau mempertimbangkan keadaan umat agar tidak mengalami kesulitan.

Hadis ini memberikan pelajaran penting: waktu yang lebih akhir untuk Isya mempunyai keistimewaan dalam keadaan tertentu, tetapi pelaksanaannya kudu mempertimbangkan kemudahan bagi jamaah dan tidak menyebabkan seseorang kehilangan shalat.

Dengan demikian, sabda ini tidak berfaedah bahwa setiap orang kudu menunda Isya sampai tengah malam. Yang lebih krusial adalah memahami sunnah Rasulullah  dengan memperhatikan keseluruhan dalil dan kondisi masing-masing.

6. Rasulullah  tidak menyukai tidur sebelum Isya dan banyak berbincang setelahnya

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَحِبُّ أَنْ يُؤَخِّرَ الْعِشَاءَ وَكَانَ يَكْرَهُ النَّوْمَ قَبْلَهَا وَالْحَدِيثَ بَعْدَهَا

Artinya; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suka mengakhirkan shalat isya`, membenci tidur sebelumnya dan membenci berbincang-bincang setelahnya.” (HR. Ibnu Majah)

Hadis ini memperlihatkan gimana Rasulullah  menjaga waktu Isya. Tidur sebelum Isya berpotensi membikin seseorang tertidur terlalu lelap sehingga kehilangan shalat. Sementara terlalu banyak berbincang setelah Isya dapat menyebabkan malam berlalu tanpa manfaat, apalagi berpotensi membikin seseorang terlambat alias meninggalkan shalat Subuh.

Namun, larangan tersebut tidak berfaedah bahwa setiap pembicaraan setelah Isya otomatis haram. Para ustadz menjelaskan adanya pembicaraan yang dibolehkan lantaran kebutuhan alias kemaslahatan, seperti belajar, berbincang dengan keluarga, menerima tamu, alias keperluan lainnya.

Pesan utamanya adalah agar seorang Muslim tidak menjadikan malam sebagai waktu untuk percakapan sia-sia tanpa batas.

Setelah Isya, malam semestinya menjadi kesempatan untuk beristirahat, berdzikir, membaca Al-Qur’an, alias mempersiapkan diri untuk beragama pada malam dan pagi berikutnya.

7. Shalat berjamaah mempunyai keistimewaan 27 derajat

Keutamaan Isya semakin sempurna ketika ditunaikan secara berjamaah.

Abdullah bin Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah  bersabda:

صَلَاةُ الْجَمَاعَةِ تَفْضُلُ صَلَاةَ الْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً

Artinya; Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim )

Hadis ini merupakan keistimewaan umum shalat berjamaah, sehingga mencakup shalat Isya yang ditunaikan secara berjamaah.

Jika digabungkan dengan sabda Utsman bin Affan tentang Isya berjamaah yang seakan-akan menjadi qiyam separuh malam, kita dapat memandang sungguh besar keistimewaan Isya berjamaah.

Ia bukan sekadar tanggungjawab yang mau segera diselesaikan sebelum tidur.

Ia adalah kesempatan untuk mendapatkan pahala berjamaah, mendapatkan keistimewaan menunggu shalat, dan memperoleh pahala yang diserupakan dengan qiyam separuh malam.

Artikel Lainnya Bincang Syariah
↑
Close Right Ads
Close Left Ads