Otak anak dapat berkembang seiring evolusi usianya, terlebihlagi sejak kandungan. Dalam proses ini, kebiasaan orang tua dapat berpengaruh pada tahap evolusi otak anak.
Lisa Feldman Barrett, Ph.D., merupakan peneliti yang telah selama bertahun-tahun menganalisis kebiasaan orang tua yang dapat membantu evolusi otak anak. Ia merupakan ahli saraf dan psikolog, guru besar di Northeastern University, serta memiliki jabatan akademis di Harvard Medical School dan Massachusetts General Hospital. Ia juga menjabat sebagai Kepala Ilmuwan di Center for Law, Brain & Behavior, Harvard University.
7 Kebiasaan orang tua yang membikin anak cerdas dan tangguh
Berikut ini 7 kebiasaan orang tua yang membikin anak cerdas dan handal menurut Psikolog Harvard Lisa Feldman Barrett, Ph.D. Cara ini bisa diterapkan dalam memaksimalkan pertumbuhan otak anak, sehingga ia tumbuh jadi anak yang cerdas dan tangguh.
1. Mendukung potensi anak, bukan memaksanya jadi sesuatu
Kebiasaan orang tua yang dapat membentuk karakter anak cerdas dan handal adalah dengan mendukung potensi anak, alih-alih memaksanya menjadi seseorang yang diinginkan orang tua.
Barrett menggunakan perumpamaan tukang kayu dan tukang kebun untuk menggambarkan situasi ini. Tukang kayu mengukir kayu sesuai bentuk yang mereka inginkan. Tukang kebun membantu flora tumbuh sendiri dengan memelihara lanskap yang subur. Ia beranggapan agar orang tua sebaiknya menjadi seperti tukang kebun.
Kebiasaan orang tua mengarahkan anak seperti tukang kayu bisa saja berhasil. Namun, dalam jangka panjang anak bisa saja tidak menyenangi aktivitas yang ia jalani.
Sementara orang tua dengan pendekatan tukang kebun umumnya lebih fleksibel. Mereka menempatkan anak di beragam aktivitas untuk melihat minatnya. Setelah anak mengetahui letak minatnya, di sana lah peran orang tua untuk menyediakan lingkungan yang mendorong pertumbuhan yang sehat.
2. Sering membujuk anak berbicara dan membaca
Kebiasaan orang tua membujuk anak berbicara dan membaca memiliki khasiat yang baik dalam pembangunan fondasi saraf anak. Semakin banyak kata yang mereka dengar, semakin besar efeknya. Anak juga dapat memiliki kosakata dan pemahaman bahanbacaan yang lebih banyak.
Dalam riset berjudul Linking Language and Cognitionin Infancy tahun 2018, kebiasaan orang tua membujuk anak berbicara dan membaca baik dilakukan ketika Si Kecil baru berumur beberapa bulan. Meskipun ia belum memahami arti kata-kata, otak anak akan statis meresponnya.
Orang tua juga dapat mengajarkan anak kata-kata yang berhubungan dengan emosi, seperti ceria dan sedih. Sehingga, Semakin banyak kata yang mereka kenal, semakin luwes mereka dalam menyikapi perasaannya.
3. Menjelaskan aktivitasnya, alih-alih orangnya
Ketika anak berbuat sesuatu yang tidak baik, orang tua sebaiknya tidak langsung melabelinya sebagai anak nakal. Namun, bisa jelaskan situasi seperti apa yang dilarang dilakukan anak. Sehingga ia mengerti aksi seperti apa yang seharusnya tidak boleh ia lakukan.
Barret memberi contoh ketika anak menampar imam kerabat perempuannya, alih-alih mengatakan “anak nakal” Akan lebih baik jika orang tua menjelaskan. "Berhenti memukul kerabat perempuanmu. Itu menyakitinya dan membuatnya merasa kesal. Katakan padanya Anda meminta maaf."
Hal ini juga berjalan ketika anak berbuat sesuatu yang baik. Dibanding memberi pujian “anak baik“, orang tua bisa memberi komentar atas tindakannya. "Kamu membikin pilihan yang baik dengan tidak membalas dengan menghajar saudaramu."
Jenis kata-kata ini akan membantu otak anak dalam membangun konsep yang lebih berguna tentang tindakannya dan dirinya sendiri.
Barret juga memberi studi kasus lain. Ketika sedang menggambarkan karakter dalam buku cerita, kemudian ada figur yang tidak mengatakan keadaan yang sebenarnya, daripada berkata "Sam itu pembohong," yang berhubungan dengan orangnya.
Orang tua dapat memberi keterangan lebih lanjut. "Menurutmu kenapa Sam berbuat itu? Bagaimana emosi orang lain jika mereka mengetahuinya? Haruskah mereka memaafkan Sam?"
Dengan demikian, anak akan lebih elastis dalam bersikap di situasi nyata. Orang tua dapat memberi pemahaman bahwa Sam ini tidak jujur, tetapi ia berbohong dalam situasi tertentu. Apabila ada situasi lain, mungkin saja ia akan bersikap lebih jujur.
4. Aktif dalam menerangkan sesuatu
Anak-anak umumnya memiliki rasa mau tahu yang tinggi. Pertanyaan “Kenapa?” mungkin sering didengar oleh sebagian orang tua.
Akan lebih baik jika orang tua menghindari berkata ”Karena memang sudah dari sananya seperti itu” maupun “Karena Bunda/Ayah bilang begitu.” ketika anak bertanya “Kenapa?”
Sebagai contoh, dibanding anak cuma tahu bahwa ia tidak boleh makan semua kue karena ada orang yang melarangnya dan ia akan mendapat masalah, akan lebih baik anak diberi pengertian. Misalnya, ia tidak boleh makan semua kue karena ia akan sakit perut. Selain itu, saudaranya akan kecewa jika tidak kebagian kue.
Hal ini dapat membantu anak dalam memahami akibat dari aksi mereka, sekaligus menumbuhkan empati. Selain itu, nak-anak yang memahami karena untuk berperilaku, dapat mengatur aksi mereka dengan lebih efektif.
5. Bimbing anak saat ia meniru orang dewasa
Anak-anak secara alami meniru perilaku dan rutinitas yang dilakukan orang dewasa. Apabila ini terjadi, orang tua dapat mengajarkan anak untuk belajar untuk dapat menguasai sesuatu.
Misalnya, ketika orang tua berbuat pekerjaan rumah seperti membersihkan rumah maupun mencabut rumput liar, orang tua dapat memberi anak sapu kecil maupun sekop taman. Dengan demikian, anak dapat berbuat peniruan.
Karena anak-anak merupakan peniru yang baik, orang tua juga perlu memperhatikan hal ini. Ia bisa saja meniru kebiasaan orang dewasa, baik itu kebiasaan baik maupun buruk.
6. Membiarkan anak mengeksplorasi dunianya
Ada kalanya anak-anak gemar mencoba sesuatu sendiri tanpa pertolongan dari orang tuanya. Meskipun terkadang mereka berbuat hal yang tampak seperti kekacauan, tetapi ini bisa jadi upaya anak memahami akibat dari yang ia lakukan.
Dalam menyikapi hal ini, orang tua perlu tahu kapan mesti membiarkan anak dan kapan mesti turun tangan. Terkadang membiarkan mereka berjuang membangun ketahanan dan membantu mereka memahami akibat dari aksi mereka.
7. Mengajak anak berhubungan secara rutin
Kebiasaan orang tua membujuk anak bersosialisasi dapat berakibat baik bagi anak. Dalam sebuah penelitian, bayi yang rutin berhubungan secara rutin dengan pengujar bahasa berbeda berpotensi mempertahankan jaringan otak krusial yang membantu mereka belajar bahasa lain di masa depan.
Begitu juga, bayi yang sering melihat beragam macam wajah. Otak anak dapat terbentuk untuk lebih gampang membedakan dan mengingat lebih banyak ragam wajah saat dewasa nanti. Ini mungkin cara paling sederhana yang bisa Anda lakukan sebagai orang tua untuk melawan rasisme.
Itu dia, Bunda, kebiasaan orang tua yang berpengaruh dalam pembentukan karakter anak yang cerdas dan handal menurut Psikolog Harvard.
(rap/rap)