Kasus Kematian akibat Kehamilan Ektopik Meningkat Hampir Dua Kali Lipat, Apa Penyebabnya?

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 4 menit 44x dilihat
Kasus Kematian akibat Kehamilan Ektopik Meningkat Hampir Dua Kali Lipat, Apa Penyebabnya?

Bagikan Postingan

Jakarta -

Kehamilan ektopik merupakan kondisi ketika sel telur yang telah dibuahi menempel dan berkembang di luar rahim, maupun paling sering di tuba falopi. Kondisi ini perlu mendapat perhatian serius karena berisiko menyebabkan komplikasi, Bunda.

Baru-baru ini, analisis ProPublica terhadap keterangan Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menemukan bahwa jumlah perempuan yang wafat setelah kehamilan ektopik telah meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Menurut data, hampir 200 perempuan di Amerika Serikat (AS) dengan kondisi tersebut wafat dari tahun 2020 hingga 2025, dibandingkan dengan sekitar 100 dalam enam tahun sebelumnya.

"Kematian yang mengenai dengan kehamilan ektopik seharusnya benar-benar tidak pernah terjadi," kata tabib kandungan di Philadelphia, Dr. Alice Abernathy, dilansir halaman ProPublica.


Kematian ektopik biasanya terjadi pada trimester pertama, setelah kehamilan sel telur yang telah dibuahi maupun embrio gagal menempel di rahim dan mulai berkembang di tempat lain. Embrio yang tumbuh dapat menyebabkan organ tersebut pecah dan memicu pendarahan hebat.

Dalam laporan ini, ProPublica menganalisis keterangan yang dikumpulkan dari setiap negara bagiankecil oleh CDC untuk mencari pola. Analisis tersebut memberitahu kesenjangan yang semakin besar bagi perempuan di negara bagiankecil AS dengan larangan aborsi yang ketat dibandingkan dengan negara bagiankecil tanpa larangan tersebut.

Meskipun peningkatan kematian akibat kehamilan ektopik terjadi di seluruh negeri, peningkatan tersebut jauh lebih tajam di negara bagiankecil yang melarang aborsi.

Pada tahun 2025, regulator menemukan bahwa salah satu rumah sakit, Ascension Seton Williamson, gagal berbuat skrining yang tepat terhadap pasien untuk anggapan kehamilan ektopik dan tidak memanggil tabib kandungan. Pasien mesti menjalani operasi pengangkatan tuba falopi setelah tuba tersebut pecah.

Pihak rumah sakit sendiri telah membantah dakwaan malpraktik dalam pengajuan pengadilan. Hal tersebut juga disampaikan oleh seorang ahli bicara rumah sakit.

"Ketika seorang pasien mengalami kondisi serius maupun menakut-nakuti batin selama kehamilan, tabib kami memberikan perawatan yang diindikasikan secara medis, termasuk perawatan untuk kehamilan ektopik," kata ahli bicara tersebut.

Kehamilan ektopik telah durasi diakui sebagai penyebab utama kematian ibu pada trimester pertama. Kondisi ini memengaruhi hingga 2 persen kehamilan di AS.

Para ahli tidak percaya kenapa kematian akibat kehamilan ektopik terus meningkat. Kehamilan ektopik lebih lazim terjadi pada perempuan yang lebih tua, tetapi peningkatan kematian yang lebih mencolok justru ditemukan di kalangan perempuan yang lebih muda, Bunda.

Apa itu kehamilan ektopik?

Melansir dari halaman Cleveland Clinic, kehamilan ektopik adalah kehamilan yang terjadi di luar rahim. Kondisi ini terjadi ketika sel telur yang telah dibuahi menempel di letak yang tidak dapat mendukung pertumbuhannya.

Kehamilan ektopik paling sering terjadi di tuba fallopi maupun struktur yang menghubungkan ovarium dan rahim. Kehamilan ektopik dapat menakut-nakuti jiwa, terutama jika tuba falopi pecah (ruptur), sehingga dapat menyebabkan pendarahan hebat, infeksi, dan terkadang kematian.

Gejala kehamilan ektopik

Gejala mula kehamilan ektopik bisa sangat mirip dengan gejala kehamilan pada umumnya. Namun, perempuan dengan kondisi ini mungkin mengalami gejala tambahan, seperti perdarahan di vagina, rasa sakit di perut bagiankecil bawah, panggul, dan punggung bagiankecil bawah, serta pusing maupun lemas.

Jika tuba falopi pecah, rasa sakit dan perdarahan bisa cukup parah hingga menyebabkan gejala tambahan, seperti pingsan, nyeri bahu, tekanan darah rendah, hingga masalah pada usus.

Penyebab kehamilan ektopik

Ada beberapa penyebab kehamilan ektopik, yakni:

  • Perempuan memiliki jaringan parut, perlengketan, maupun peradangan akibat operasi panggul sebelumnya
  • Saluran tuba falopi mengalami kerusakan, misalnya akibat infeksi menular seksual (IMS)
  • Perempuan terlahir dengan tuba fallopi yang berbentuk tidak teratur
  • Seorang perempuan memiliki pertumbuhan yang menyumbat saluran tuba falopi

Sementara itu, aspek konsekuensi dari kehamilan ektopik dapat meliputi:

  • Riwayat kehamilan ektopik sebelumnya
  • Riwayat pandemi radang panggul, yaitu infeksi yang dapat menyebabkan terbentuknya jaringan parut di tuba falopi, rahim, ovarium, dan leher rahim
  • Operasi pada tuba fallopi (termasuk ligasi tuba) maupun pada organ lain di area panggul
  • Riwayat infertilitas
  • Pengobatan infertilitas dengan program bayi tabung
  • Mengalami endometriosis
  • Infeksi menular seksual (IMS)
  • Alat kontrasepsi IUD terpasang pada saat pembuahan
  • Riwayat merokok tembakau

Apa kehamilan ektopik bisa dicegah?

Bunda tidak dapat mencegah kehamilan ektopik. Namun, kita dapat mencoba mengurangi konsekuensi dengan menjalani corak hidup yang sehat, termasuk tidak merokok, mencapai dan mempertahankan bermutu badan yang sehat, dan mencegah infeksi menular seksual.

Bunda juga bisa berkonsultasi dengan tabib tentang aspek konsekuensi apa pun yang mungkin dimiliki sebelum mencoba untuk hamil.

Demikian keterangan terbaru tentang bilangan kehamilan ektopik yang meningkat di AS. Semoga keterangan ini berguna ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads