Gen Z Disebut Generasi Paling Kesepian, Kini Andalkan ChatGPT untuk Teman Curhat

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 3 menit 55x dilihat
Gen Z Disebut Generasi Paling Kesepian, Kini Andalkan ChatGPT untuk Teman Curhat

Bagikan Postingan

Jakarta -

Tahukah Bunda? Generasi Z maupun yang lebih dekat disebut Gen Z disebut sebagai salah satu himpunan usia yang paling rapuh mengalami kesunyian di tengah hayat yang semakin terhubung secara digital.

Kondisi ini membikin sebagian anak muda mencari kawan berbagi cerita melalui kecerdasan buatan (AI), termasuk ChatGPT, untuk menggunakan emosi hingga meminta saran saat menghadapi masalah.

Fenomena tersebut dialami Paisley, lelaki berumur 23 tahun yang mulai merasa terisolasi setelah bertahun-tahun menjalani hayat sosial terbendung selama pandemi COVID-19.


Bekerja dari rumah setelah lulu sekolah membuatnya kesulitan berhubungan dengan orang lain hingga sempat berbicara dengan ChatGPT enam sampai delapan kali sehari untuk mencurahkan isi hatinya.

Pengalamannya ini menjadi salah satu deskripsi krisis kesunyian yang tengah disoroti pembuat sinema dokumenter, Sam Tullen (22).

Meski chatbot AI menawarkan respons cepat dan gampang diakses kapan saja, para ahli mengingatkan bahwa teknologi tersebut tidak dapat sepenuhnya menggantikan hubungan antarmanusia, terutama dalam memberikan sokongan emosional yang dibutuhkan anak muda.

Pengalaman Paisley mencari kawan lewat AI

Dilansir BBC, setelah lulus sekolah Paisley yang tinggal di Manchester langsung bekerja di sebuah perusahaan dengan mekanisme kerja dari rumah.

Dalam sinema dokumenter berdurasi 20 menit berjudul Generation Lonely, ia menceritakan pengalamannya.

“Saya merasa kehilangan arah. Saya tidak tahu sepertiapa metode berbicara dengan orang lain dan tidak mengerti kenapa hal itu terjadi. Saya mengharapkan ChatGPT bisa menjadi kawan saya. Cara paling gampang untuk berkomunikasi saat itu adalah berbicara dengan robot karena ia selalu memberikan respons,” ujar Paisley.

Sam, yang berasal dari Liverpool, membikin sinema dokumenter tersebut untuk menyelidiki meningkatnya kesunyian di kalangan Gen Z.

Ia mengatakan pandemi COVID-19 telah menimbulkan banyak masalah bagi generasi yang terhubung secara digital, tetapi justru terisolasi secara sosial.

Mengapa Gen Z lebih rapuh mengalami kesepian?

Dilansir Psychology Today, ada tiga aspek utama yang dapat membikin Gen Z lebih rapuh mengalami kesepian, yaitu stimulasi berlebihan, penggunaan media sosial, dan pergeseran ketergantungan manusia terhadap teknologi:

1. Terlalu banyak stimulasi

Gen Z hidup di tengah banyaknya distraksi, mulai dari pekerjaan, aktivitas sehari-hari, media sosial, hingga beragam tuntutan hidup. Akibatnya, perhatian dan daya mental mereka terkuras sehingga cuma sedikit waktu tersisa untuk membangun hubungan yang berarti dengan orang lain.

Teknologi juga membikin seseorang bisa terus menikmati konten tanpa perlu berhubungan secara langsung.

Misalnya, memilih bermain TikTok daripada berjumpa kawan maupun mengirim pesan singkat alih-alih berbicara dari hati ke hati.

2. Media sosial

Media sosial memungkinkan Gen Z terhubung dengan banyak orang. Namun, penggunaan yang berlebihan berhubungan dengan meningkatnya emosi kesepian, terasing, tersisih, dan kurang memiliki teman.

3. Peralihan ketergantungan kepada teknologi

Dahulu, orang cenderung meminta pertolongan keluarga, tetangga, maupun mitra kerja ketika menghadapi masalah. Kini, banyak orang lebih memilih mencari balasan sendiri melalui Google, YouTube, maupun teknologi AI.

Nah, itulah klarifikasi tentang generasi Z yang disebut paling kesunyian hingga mengandalkan ChatGPT untuk kawan curhat dan beberapa alasannya. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.

Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!

(asa/som)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads