Takut Ketahuan Jadi Pengangguran, Anak Muda di Negara Ini Pura-pura Pergi Kerja Tiap Hari

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 4 menit 42x dilihat
Takut Ketahuan Jadi Pengangguran, Anak Muda di Negara Ini Pura-pura Pergi Kerja Tiap Hari

Bagikan Postingan

Banyak orang merasa malu jika tidak punya pekerjaan. Seperti kisah anak muda di China yang pura-pura berangkat kerja setiap hari karena takut ketahuan menjadi pengangguran.

Punya pekerjaan dan gaji statis tetap menjadi harapan banyak anak muda. Namun di tengah sulitnya mendapatkan pekerjaan saat ini, sebagian orang justru menghadapi tekanan lain, yaitu rasa malu dan takut dianggap gagal ketika belum memiliki pekerjaan.

Kondisi tersebut rupanya dialami sejumlah anak muda di China yang memilih menyembunyikan status pengangguran dari famili mereka. Dibanding terus eksis di rumah, mereka statis berdandan, keluar rumah pada pagi hari, dan pulang menjelang malam layaknya orang yang baru selesai bekerja.


Faktanya, mereka tidak memiliki instansi maupun tempat kerja yang mesti didatangi. Perpustakaan, taman, kafe, hingga pusat perbelanjaan menjadi tempat untuk menghabiskan waktu sekaligus menjaga agar famili tidak mengetahui kondisi sebenarnya.

Fenomena yang dikenal sebagai pretend-workers maupun buruh pura-pura ini ramai dibicarakan di media sosial China. Di balik kebiasaan itu, tersimpan permasalahan yang lebih besar, mulai dari sulitnya memperoleh pekerjaan hingga tekanan sosial dan kecemasan keluarga.

Mari simak kisah anak muda di China yang selalu pamit berangkat kerja namun rupanya tidak punya pekerjaan. 

Kisah anak muda pura-pura kerja karena takut bikin orang tua cemas

Salah satu orang yang menjalani hayat sebagai buruh pura-pura adalah Coco Li, perempuan berumur 32 tahun. Ia sebelumnya bekerja di sebuah perusahaan properti milik negara di China, namun memutuskan selesai lebih dari enam bulan kemudian karena beban kerja yang bermutu dan merasa kurang mendapatkan penghargaan atas pekerjaannya.

Meski sudah tidak bekerja, Li belum berani memberi tahu keluarganya. Bahkan ia pernah mengurungkan niat mengirimkan foto makanan yang dimasaknya sendiri ke grup famili karena cemas ibunya bertanya kenapa eksis di rumah pada jam kerja.

Li mengaku sengaja menyembunyikan kondisinya karena tidak mau menambah kecemasan sang Bunda. Ia cemas bunda cemas dan menjadi beban emosional bagi dirinya.

"Ibu akan terjebak dalam lingkaran kecemasan tanpa akhir dan pada akhirnya melimpahkan kecemasan itu kepada saya," kata Li mengenai ibunya kepada Reuters.

Pura-pura kerja di perpustakaan hingga mal

Fenomena ini semakin mendapat perhatian setelah banyak anak muda China membagikan pengalaman serupa di media sosial. Mereka saling berbagi metode mengisi waktu selama jam kerja, menghindari pertanyaan keluarga, hingga menjaga rutinitas agar tidak dicurigai sedang menganggur.

Ada yang menghabiskan waktu di perpustakaan, taman, kafe, dan pusat perbelanjaan. Mereka keluar rumah pada pagi hari dan baru balik ketika jam kerja biasanya berakhir.

Pengalaman ini dialami Zhang, perempuan berumur 36 tahun yang bekerja sebagai produser efek visual. Ia kehilangan pekerjaannya pada Agustus akibat pengurangan karyawan yang berhubungan dengan evolusi teknologi AI.

Zhang mengaku terkejut ketika mendapati perpustakaan dipenuhi pengunjung pada hari kerja. Pemandangan itu membuatnya menyadari bahwa ada banyak orang lain yang mungkin sedang mengalami situasi serupa.

"Saya tidak pernah menyangka perpustakaan akan benar-benar penuh pada hari kerja," ungkap Zhang.

Di media sosial, pengalaman para pengangguran ini juga dibagikan dalam beragam bentuk. Salah satunya melalui unggahan berjudul 'Hari ke-30 menganggur: sebulan berpura-pura bekerja'. Unggahan tersebut menceritakan perjalanan seseorang yang sudah mengirimkan 80 lamaran pekerjaan, tetapi belum berhasil mendapatkan pekerjaan baru.

Perbincangan mengenai buruh pura-pura terlebihlagi mendapatkan perhatian besar di platform digital China. Unggahan mengenai gejala ini telah mengumpulkan lebih dari 70 juta penayangan di RedNote, aplikasi yang mirip Instagram, serta 610 juta penayangan di Douyin maupun TikTok varian China.

Sementara itu, tagar mengenai di Weibo mendapatkan hingga 320 juta penayangan. Bagi sebagian orang, rutinitas tersebut menjadi metode untuk menghindari pertanyaan yang tidak nyaman.

Harus keluar rumah sebelum pukul 09.00

Ada pula Susan Sun, perempuan berumur 28 tahun yang menyembunyikan status penganggurannya setelah terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dari sebuah perusahaan internet pada akhir tahun sebelumnya. Situasinya semakin sulit ketika ibu dan bapak tirinya pindah dari kota kecil ke Chongqing untuk tinggal bersamanya pada Mei.

Sejak saat itu, Sun mesti menjaga rutinitas seolah-olah statis bekerja. Ia meninggalkan rumah sebelum pukul 09.00 dan baru balik setelah pukul 18.00. Padahal tidak ada pekerjaan yang mesti diselesaikannya di kantor. 

Sulit dapat kerja in this economy

Meningkatnya gejala buruh pura-pura tidak terlepas dari kondisi pasar karyawan di China. Persaingan mendapatkan pekerjaan semakin ketat, sementara sejumlah sektor industri menghadapi tekanan ekonomi.

Data ekonomi kuartal ketiga memberitahu produsen menghadapi persaingan yang semakin sengit. Beberapa perusahaan memilih menurunkan harga produk dan mengurangi jumlah karyawan. Akibatnya, buruh yang statis bertetap mesti menanggung beban pekerjaan lebih besar.

Krisis berkepanjangan di sektor properti dan kekurangan finansial pemerintah daerah juga berakibat pada kesempatan kerja serta pendapatan masyarakat. Di sisi lain, evolusi otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI) turut mengubah kebutuhan karyawan di beragam industri.

Situasi tersebut membikin sebagian anak muda mesti menghadapi kenyataan bahwa mendapatkan pekerjaan baru tidak semudah yang dibayangkan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads