Jakarta -
Setiap orang bakal menghadapi beragam macam emosi dalam kehidupannya, Bunda. Emosi datang sebagai respons alami terhadap pengalaman hingga hubungan yang kita alami setiap hari.
Merasakan emosi adalah perihal yang wajar. Beberapa orang mungkin dapat merasakan emosi dengan intensitas yang terasa sangat kuat hingga memengaruhi caranya berpikir dan bertindak.
Dilansir Your Tango, banyak aspek yang memengaruhi emosi kita secara emosional. Tidak ada standar yang jelas tentang seberapa banyak emosi yang dianggap 'normal'.
Penyebab orang lebih mudah emosional
Ada beberapa penyebab orang lebih mudah emosional. Simak penjelasan lengkapnya berikut ini:
1. Mereka mempunyai angan yang tidak terkendali
Orang bisa lebih mudah emosional lantaran mempunyai angan alias ekspektasi yang tak terkendali. Ekspektasi adalah kepercayaan kita tentang gimana orang lain alias hal-hal di sekitar semestinya berperilaku alias terjadi.
Kita sering menggunakan ekspektasi sebagai sistem pertahanan. Ketika kita percaya bahwa sesuatu alias seseorang semestinya bertindak dengan langkah tertentu, perihal itu dapat memberikan rasa kepastian dan kendali tiruan tentang hal-hal yang pada dasarnya tidak berada di bawah kendali kita, Bunda.
Jika kita tidak pernah memeriksa ekspektasi, memperbaruinya, alias mengetahui kegunaan sebenarnya dari angan tersebut, maka perihal itu dapat dengan mudah menyebabkan banyak rasa sakit dan penderitaan emosional yang sebenarnya tidak perlu.
2. Kebutuhan bentuk yang tidak terpenuhi
Menurut psikiater Nicole Washington, DO, MPH, pikiran dan tubuh bukanlah entitas yang terpisah, lantaran keduanya saling berhubungan. Ini berfaedah bahwa perubahan kondisi bentuk seseorang dapat memengaruhi emosi mereka.
"Misalnya, seseorang mungkin merasa lebih emosional lantaran lapar alias kurang tidur. Dengan makan teratur dan tidur yang cukup, mereka mungkin merasa lebih baik lagi," ungkap Washington, dilansir Medical News Today.
"Individu yang secara konsisten merasa capek kronis, apalagi setelah mendapatkan tidur yang cukup, kudu berkonsultasi dengan dokter."
3. Sedang mengalami stres
Stres terjadi lantaran respons 'fight, flight, or freeze' (melawan, lari, alias membeku). Ketiganya merupakan langkah tubuh merespons bahaya.
Dalam waktu singkat, respons tersebut dapat membantu orang melarikan diri, bersembunyi, alias melawan ancaman. Namun, orang juga dapat mengalami stres lantaran merasa kewalahan oleh tuntutan sehari-hari.
4. Perubahan hormon
Hormon adalah pembawa pesan kimiawi tubuh. Oleh lantaran itu, perubahan hormon yang dramatis dan tiba-tiba, dapat memengaruhi emosi seseorang.
Ada banyak aspek yang dapat menyebabkan perubahan hormon, seperti kehamilan, menopause, pubertas, kadar testosteron rendah alias tinggi, dan penggunaan steroid anabolik. Penyebab utama lainnya adalah siklus menstruasi, termasuk Sindrom pramenstruasi dan gangguan disforia pramenstruasi.
"Kedua kondisi yang berasosiasi dengan siklus menstruasi dapat menyebabkan seseorang merasa lebih emosional, mudah tersinggung, cemas, alias depresi, dengan tingkat keparahan yang bervariasi," kata Washington.
5. Trauma
Orang yang mempunyai riwayat trauma alias tengah mengalami situasi traumatis mungkin mempunyai reaksi emosional yang lebih intens dibandingkan orang lain. Hal ini terutama bertindak jika mereka mempunyai pemicu, ialah pengingat bakal peristiwa tersebut.
Pemicu dapat menghasilkan emosi yang kuat seperti kecemasan, panik, marah, alias disosiasi, ialah ketika seseorang merasa terlepas dari dirinya sendiri alias lingkungannya. Ketika indikasi akibat pengalaman traumatis berjalan lebih dari 1 bulan, perihal itu dikenal sebagai gangguan stres pascatrauma (PTSD).
6. Kondisi kesehatan fisik
Kondisi kesehatan bentuk dapat memengaruhi emosi dalam banyak cara. Misalnya, kondisi sakit bisa menyebabkan seseorang kesulitan melakukan tugas sehari-hari, mengelola stres, mendapatkan cukup tidur, berjamu dan berjumpa teman, hingga mengikuti tanggung jawab pekerjaan alias rumah tangga.
"Masalah kesehatan bentuk alias pengobatannya juga dapat secara langsung mengubah emosi dengan memengaruhi sistem saraf," ujar Washington.
7. Ekspektasi masyarakat
Norma budaya dapat memengaruhi tingkat emosi seseorang, Bunda. Jika seseorang yang terbiasa mengekspresikan perasaannya secara lebih terbuka melakukannya di antara orang-orang yang lebih tertutup, maka mereka mungkin terlihat lebih emosional.
Stereotip kelamin juga dapat memengaruhi persepsi orang lain terhadap emosi. Misalnya, sebuah studi tahun 2018 di Pain Research & Management, menemukan bukti bahwa orang sering memandang wanita yang melaporkan rasa sakit sebagai sesuatu yang emosional alias histeris, sementara laki-laki yang melaporkan rasa sakit dipandang sebagai sikap sabar alias berani.
8. Terjebak dalam perenungan
Perenungan adalah kebalikan dari kekhawatiran. Ketika khawatir, kita sering kali terlibat dalam pemikiran dan pemecahan masalah yang tidak bermanfaat. Ketika kita merenung, kita berpikir secara tidak produktif tentang masa lalu.
Orang yang terjebak dalam perenungan biasanya lebih mudah emosional lantaran mereka suka memikirkan komentar jelek yang dilontarkan orang lain padanya. Orang-orang ini kerap memutar ulang isi pikirannya hanya untuk mengingat pengalaman jelek di masa lalu.
9. Kesulitan berkomunikasi
Orang yang sangat emosional biasanya kesulitan berkomunikasi, Bunda. Komunikasi pasif adalah kecenderungan untuk mengabaikan kemauan dan kebutuhan sendiri, lampau condong mengikuti kemauan orang lain untuk menghindari konflik.
Ketika seseorang terbiasa menghindari bentrok eksternal, dia hanya memindahkan semua bentrok itu ke dalam dirinya sendiri. Ketika dirinya penuh dengan bentrok batin, maka emosi bakal terasa kacau dan ekstrem.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/som)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·