Terdapat sebuah pertanyaan: mungkinkah Allah ﷻ menghukum orang yang alim luar biasa kepada-Nya di neraka dan orang yang mendurhakai-Nya diberi nikmat di surga? Pertanyaan ini muncul dari kajian pemikiran alias penalaran sebagian orang yang sibuk menguji konsep ketuhanan. Lantas, gimana perspektif ahlus sunah dalam perihal ini?
Ibnul Qayyim rahimahullah sudah menjawab perihal ini dalam kitabnya, Ad-Daa wa Ad-Dawaa,
لَمْ يَقْدِرْهُ حَقَّ قَدْرِهِ مَنْ قَالَ أَنَّهُ يَجُوزُ أَنْ يُعَذِّبَ أَوْلِيَاءَهُ، وَمَنْ لَمْ يَعْصِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَيُدْخِلَهُمْ دَارَ الْجَحِيمِ، وَيُنَعِّمَ أَعْدَاءَهُ وَمَنْ لَمْ يُؤْمِنْ بِهِ طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَيُدْخِلَهُمْ دَارَ النَّعِيمِ
“Tidaklah mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya orang yang mengatakan bahwa mungkin saja bagi Allah mengazab para wali-Nya dan orang-orang yang tidak pernah bermaksiat kepada-Nya, lampau memasukkan mereka ke dalam neraka Jahanam, serta memberikan nikmat kepada para musuh-Nya dan orang-orang yang tidak pernah beragama kepada-Nya, kemudian memasukkan mereka ke dalam surga.” (Ad-Daa wa Ad-Dawaa, hal. 141; cet. Darul Marifah)
Syubhatnya adalah bahwa Allah ﷻ itu maha kuasa untuk melakukan sesuatu. Daya-Nya tiada pemisah sehingga Dia berkuasa melakukan apa saja, termasuk menenggelamkan wali-Nya ke neraka dan memasukkan orang paling bejat ke surga. Dua tindakan ini, di sisi mereka sama saja dari segi potensi. Namun, menurut mereka, Allah ﷻ melakukan itu sebagai suatu corak ketetapan saja, tanpa menyelisihi sikap hikmah dan keadilan-Nya. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah,
وَأَنَّ كِلَا الْأَمْرَيْنِ بِالنِّسْبَةِ إِلَيْهِ سَوَاءٌ، وَإِنَّمَا الْخَبَرُ الْمَحْضُ جَاءَ عَنْهُ بِخِلَافِ ذَلِكَ، فَمَعْنَاهُ لِلْخَبَرِ لَا لِمُخَالَفَةِ حِكْمَتِهِ وَعَدْلِهِ
“Menurut orang ini, dua perkara itu sama di sisi-Nya. Kabar dari-Nya yang bertentangan dengan perihal itu hanya pengabaran belaka. Dengan kata lain, tujuannya hanya pengabaran, tidak menyelisihi hikmah dan keadilan-Nya.” (Ad-Daa wa Ad-Dawaa, hal. 141; cet. Darul Marifah)
Bantahan keras dari Allah ﷻ atas potensi perbuatan tersebut
Namun, sungguh Allah mengingkari perihal ini dengan pengingkaran yang serius. Allah ﷻ menyebut praktik memasukkan wali-Nya ke neraka dan sebaliknya sebagai tindakan yang terburuk. Maha suci Allah ﷻ dari perbuatan semacam itu. Allah ﷻ berfirman,
أَمْ نَجْعَلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَالْمُفْسِدِينَ فِي الْأَرْضِ أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّارِ
“Pantaskah Kami memperlakukan orang-orang yang beragama dan mengerjakan amal sama dengan orang-orang yang melakukan kerusakan di bumi? Atau pantaskah Kami menganggap orang-orang yang bertakwa sama dengan orang-orang yang jahat.” (QS. Shad: 27-28)
Allah ﷻ secara tegas mengatakan dengan kalimat pertanyaan, namun dengan maksud sebagai corak sanggahan bahwa tindakan itu tidak layak dilakukan oleh Allah ﷻ.
Allah ﷻ mulai argumen ini dengan menyatakan bahwa pembuatan langit dan bumi itu tidaklah sia-sia. Pasti ada tujuan dan hikmah di baliknya.
وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا
“Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan sia-sia.”
Dalam bagian ayat ini, terdapat tiga penetapan:
1) Allah ﷻ mempunyai tujuan dalam perbuatan-Nya;
2) Allah ﷻ mempunyai sifat hikmah;
3) Penciptaan langit dan bumi mempunyai tujuan sesuai hikmah Allah ﷻ.
Allah ﷻ menegaskan dugaan bahwa pembuatan langit dan bumi itu tidak ada tujuannya adalah pemikiran orang kafir. Atas dasar kepercayaan ini, mereka pun masuk neraka. Allah ﷻ berfirman,
ذَلِكَ ظَنُّ الَّذِينَ كَفَرُوا فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ كَفَرُوا مِنَ النَّارِ
“Itu dugaan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang yang kafir itu lantaran mereka bakal masuk neraka.” (QS. Shad: 27-28)
Maka, beragam isme yang mempunyai kepercayaan semacam ini, mulai dari julukan ajaran rasionalisme, materialisme, hingga ateisme, semuanya mendapatkan ancaman ini.
Allah memasukkan manusia ke surga dan neraka dengan keadilan-Nya
Konstruksi argumen keadilan Allah ﷻ juga disebutkan dalam QS. Al-Jatsiyah, di mana tujuan keadilan itu lebih tegas dinyatakan. Allah ﷻ berfirman,
أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ – وَخَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ وَلِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
“Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami bakal memperlakukan mereka seperti orang-orang yang beragama dan yang mengerjakan kebajikan, ialah sama dalam kehidupan dan kematian mereka? Alangkah buruknya penilaian mereka itu. Dan Allah menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang betul dan agar setiap jiwa diberi jawaban sesuai dengan apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak bakal dirugikan.” (QS. Al-Jatsiyah: 21-22)
Dalam ayat ini, Allah ﷻ menggunakan susunan argumen yang sama dengan QS. Shad yang disebutkan, yaitu:
1) Menafikan sangkaan bahwa Allah ﷻ bakal menyamakan tindakan mukmin dan kafir;
2) Menegaskan bahwa Allah ﷻ menciptakan langit dan bumi dengan tujuan.
Apa tujuan itu? Tujuan utamanya ialah menjadi arena ujian untuk memisahkan hamba yang layak masuk surga dan yang cocoknya menjadi penunggu neraka. Di ayat ke-22, Allah ﷻ menegaskan bahwa pembuatan alam semesta dilakukan bil haqq. Maksudnya, menurut Ibnu Katsir rahimahullah, adalah Allah ﷻ menciptakan alam semesta dengan keadilan. Yakni, setara dalam membalas perbuatan setiap orang tanpa menzalimi mereka sedikitpun.
Firman Allah ﷻ ini sama seperti apa yang diungkapkan dalam firman-Nya yang lain,
لَا يَسْتَوِىٓ أَصْحَٰبُ ٱلنَّارِ وَأَصْحَٰبُ ٱلْجَنَّةِ ۚ أَصْحَٰبُ ٱلْجَنَّةِ هُمُ ٱلْفَآئِزُونَ
“Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga; penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 20)
Ibnu Katsir rahimahullah, tokoh otoritatif ahlus sunah, berbicara dalam tafsirnya,
سَاءَ مَا ظَنُّوا بِنَا وَبِعَدْلِنَا أَنْ نُسَاوي بَيْنَ الْأَبْرَارِ وَالْفُجَّارِ فِي الدَّارِ الْآخِرَةِ، وَفِي هَذِهِ الدَّارِ
“Betapa buruknya dugaan mereka terhadap Allah ﷻ, padahal mustahil Allah ﷻ menyamakan di antara orang-orang yang bertakwa dengan orang-orang yang pendurhaka dalam kehidupan di negeri alambaka kelak dan juga dalam kehidupan di bumi ini.” (Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Jatsiyah: 21, tafsir.app)
Dugaan orang kafir yang diterangkan Ibnu Katsir rahimahullah ini jelas bertentangan dengan realita. Nyatanya, kehidupan orang yang saleh secara asasi bakal mendapatkan nikmat di dunia, apalagi di alambaka sebagai kampung sejati. Demikian pula kesudahan orang yang membangkang pasti tersiksa. Ini adalah sesuatu yang pasti terjadi. Adapun kita mendapati orang saleh mengalami kesulitan di dunia, hakikatnya tetaplah ketaatan memberikan rasa lapang di hatinya. Atau sebaliknya, ketika orang kafir seakan mendapatkan nikmat di dunia, sejatinya jiwanya kosong dari rasa bahagia. Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menyatakan ini menyelisihi logika yang lurus. Demikian pula dalam tafsirnya, beliau menyatakan,
بل الحكم الواقع القطعيُّ أنَّ المؤمنين العاملين الصالحات، لهم النَّصر والفلاح والسعادة والثواب في العاجل والآجل؛ كلٌّ على قدر إحسانه، وأنَّ المسيئين لهم الغضبُ والإهانةُ والعذاب والشقاء في الدُّنيا والآخرة.
“Bahkan keputusan yang betul dan pasti adalah bahwa orang-orang beragama yang beramal saleh bakal memperoleh pertolongan, keberuntungan, kebahagiaan, dan pahala di bumi maupun di akhirat, masing-masing sesuai kadar kebaikan yang mereka lakukan. Adapun orang-orang yang melakukan keburukan, bagi mereka kemurkaan, kehinaan, azab, dan kesengsaraan di bumi dan di akhirat.’ (Taisir Karimir Rahman fi Tafsir Kalamil Mannan, hal. 825; cet. Ar-Risalah)
Dasarnya adalah lantaran Allah ﷻ mengharamkan diri-Nya dari kezaliman. Allah ﷻ berfirman melalui lisan Nabi ﷺ dalam sabda qudsi,
يَا عِبَادِى إِنِّى حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِى وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلاَ تَظَالَمُوا
“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi. Wahai hamba-Ku, kalian semua sesat selain orang yang telah Kami beri petunjuk, maka hendaklah kalian minta petunjuk kepada-Ku, pasti Aku memberinya.” (HR. Muslim no. 6737 dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu)
Allah ﷻ mengharamkan kezaliman atas diri-Nya dan menetapkan sifat hikmah. Allah ﷻ tidak mungkin melakukan dan memutuskan perkara yang menyelisihi keadilan, sedangkan menghukum orang saleh dan mengganjar pahala bagi orang kafir adalah salah satu corak kezaliman.
[Bersambung]
***
Penulis: Glenshah Fauzi
Artikel Kincai Media
English (US) ·
Indonesian (ID) ·