Anak Sulit Menerima Kekalahan? Psikolog Ungkap Arti di Balik Sikapnya

Jul 22, 2026 09:20 AM - 3 minggu yang lalu 8765

Tidak ada orang tua yang senang memandang anaknya menangis alias marah saat kalah. Namun, kesulitan menerima kekalahan adalah perihal yang cukup umum terjadi pada anak saat berkompetisi alias sekadar bermain dengan kawan sebaya.

Menurut sebuah studi di Cognitive, Affective, & Behavioral Neuroscience tahun 2015, rasa sakit psikologis akibat kalah dua kali lebih kuat daripada kesenangan saat kita menang. Tak heran jika bagi sebagian anak, kekalahan bukan sekadar hasil permainan, tetapi pengalaman yang memicu rasa marah apalagi frustrasi.

Saat anak susah menerima kekalahan, orang tua perlu bereaksi. Pasalnya, langkah orang tua dalam mendampingi momen ini berkedudukan krusial untuk membentuk keahlian anak mengelola emosi.


"Kebanyakan orang tidak senang kalah, dan itu wajar. Jadi, krusial untuk berhati-hati agar tidak terlalu memperhatikan satu reaksi saja," kata psikolog klinis di Amerika Serikat, Dr. Kendra Read, PhD, dilansir Parade.

"Kita mungkin memperhatikan beberapa pola pada anak alias mungkin tidak. Bagaimanapun, orang dewasa di sekitar mereka dapat melakukan banyak perihal untuk mendukung langkah mengatasi masalah yang sehat. Kita tidak perlu menunggu sampai masalah muncul," lanjutnya.

Kenapa anak susah menerima kekalahan?

Psikolog Read mengatakan bahwa ketika seorang anak betul-betul kehilangan kendali setelah bermain, sering kali bukan hanya tentang permainannya. Pada dasarnya, mereka kesulitan menerima kekalahan lantaran memang susah mengelola emosi yang besar.

"Itu adalah proses yang sedang berjalan bagi nyaris setiap anak di planet ini," ujarnya.

Selain itu, mungkin ada banyak gejolak jiwa yang tidak dapat kita lihat dan tidak dapat diungkapkan oleh anak. Akibatnya, orang tua tidak mengetahui argumen sebenarnya kenapa seorang anak marah setelah kalah.

"Ada juga orasi jiwa yang terjadi yang tidak selalu kita lihat. Apa yang dikatakan anak pada dirinya sendiri tentang permainan itu? Apakah mereka konsentrasi pada kemenangan sebagai tujuan utama, daripada hanya bermain? Apakah mereka berpikir kekalahan berfaedah sesuatu tentang diri mereka, seperti, 'Saya kalah, oleh lantaran itu, saya adalah pecundang?' Atau mungkin taruhannya terasa sangat besar bagi mereka secara sosial, seolah-olah seluruh reputasi mereka di taman bermain berjuntai pada satu putaran permainan ini," ungkap Read.

Apa yang kudu dilakukan orang tua saat anak menghadapi kekalahan?

Kepribadian anak terus terbentuk seiring bertambahnya usia, Bunda. Jika anak kesulitan menerima kekalahan dalam permainan, orang tua mungkin bakal memperhatikan bahwa mereka rupanya juga kesulitan untuk menghadapi momen-momen krusial lainnya, seperti kesalahan dalam pekerjaan rumah, merasa mengecewakan seseorang, alias cemas bakal dipermalukan.

Sebagai orang tua, Bunda dan Ayah sebaiknya tidak perlu larut dalam emosi anak. Bila mereka mengalami kekalahan, kita perlu memandang polanya dan memberikan pengarahan yang efektif.

"Orang tua tidak semestinya terlalu membesar-besarkan tentang makna kekalahan pada anak mereka. Mereka kudu memperhatikan pola di beragam situasi. Ketika pola-pola tersebut terlihat, mereka dapat lebih konsentrasi pada intervensi untuk membantu anaknya," ujar Read.

Lantas, kapan saatnya orang tua perlu mengkhawatirkan tentang reaksi anak terhadap kekalahan dalam permainan dan hal-hal lainnya?

"Jika anak mengamuk setiap kali hidup tidak melangkah sesuai keinginannya, itu patut diperhatikan," kata Read.

"Itu mungkin menunjukkan pola yang lebih besar mengenai pengaturan emosi yang muncul di beragam situasi. Tetapi jika itu hanya tentang kalah dalam permainan, dan kita tidak melihatnya dapat memengaruhi area lain dalam kehidupan, itu mungkin hanya masalah tersendiri, bukan tanda ancaman untuk sesuatu yang lebih dalam," lanjutnya.

Cara lain adalah dengan mencontohkan yang baik ke anak. Saat terjadi kekalahan, kita mesti bertindak bijak sehingga anak dapat mengelola emosinya saat kalah.

"Jika kekalahan selalu disertai dengan hinaan alias pengabaian, itulah pelajaran yang mereka serap. Mereka memandang kita untuk belajar gimana berpikir tentang orang-orang yang kalah," ujar Read.

Orang tua juga perlu berhati-hati agar tidak selalu berbincang tentang kemenangan dan sungguh pentingnya kemenangan itu. Untuk itu, Read menyarankan agar orang tua bisa memperluas perspektif pandang mereka.

Tak hanya itu, saat anak kalah alias menang, orang tua dapat melontarkan beragam pujian. Selain untuk menekan rasa kecewa, pujian bisa membikin anak merasa diperhatikan.

"Bicaralah tentang bersenang-senang, menjadi rekan satu tim yang baik, dan menikmati pengalaman. Hasil akhir hanyalah bagian mini dari gambaran yang jauh lebih besar," kata Read.

"Kita juga bisa mengakui siapa yang menang dan siapa yang kalah, tetapi kemudian beranjak lah ke hal-hal yang baik," lanjutnya.

Itulah penjelasan tentang makna di kembali anak yang susah menerima kekalahan menurut psikolog. Semoga info ini berfaedah ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/fir)

Selengkapnya