Apa Itu Zuhud? Pengertian, Dalil, Ciri-ciri, Dan Cara Mengamalkannya

Jul 28, 2026 04:24 PM - 13 jam yang lalu 155
Apa Itu Zuhud? Pengertian, Dalil, Ciri-Ciri, dan Cara MengamalkannyaApa Itu Zuhud? Pengertian, Dalil, Ciri-Ciri, dan Cara Mengamalkannya

Kincai Media– Apa itu zuhud? Pasalnya, zuhud sering kali dipahami sebagai sikap menjauhi dunia, hidup miskin, mengenakan busana sederhana, alias meninggalkan pekerjaan. Padahal, pemahaman seperti itu tidak sepenuhnya benar. Dalam aliran Islam, zuhud bukanlah tentang meninggalkan dunia, melainkan mengendalikan hati agar tidak diperbudak oleh dunia.

Kesalahpahaman mengenai zuhud telah muncul sejak lama. Ada orang yang menganggap dirinya zuhud lantaran hidup serba kekurangan, enggan bekerja, apalagi memandang sinis orang yang mempunyai harta. Sebaliknya, ada pula yang bergelimang kekayaan, tetapi mengaku telah bersikap zuhud, padahal seluruh hidupnya hanya berputar untuk mengejar dunia.

Padahal, prinsip zuhud tidak diukur dari sedikit alias banyaknya harta, melainkan dari posisi kekayaan di dalam hati. Seorang muslim boleh kaya, mempunyai kedudukan tinggi, apalagi menjadi pengusaha sukses. Namun, semua itu tidak boleh membikin hatinya beralih dari Allah SWT.

Apa Itu Zuhud Menurut Ulama?

Syekh Abdul Qadir Isa dalam kitab Haqaiq at-Tashawuf menjelaskan bahwa zuhud merupakan keadaan hati yang kosong dari ketergantungan kepada selain Allah. Seorang yang zuhud tetap memanfaatkan dunia, tetapi tidak menjadikan bumi sebagai tujuan utama hidupnya.

Senada dengan itu, Al-Manawi dalam Faidh al-Qadir Syarh al-Jami’ ash-Shaghir memberikan penjelasan yang sangat terkenal:

“Zuhud itu kosongnya hati dari dunia, bukan kosongnya tangan dari dunia.”

Ungkapan tersebut menegaskan bahwa Islam tidak melarang seorang muslim mempunyai kekayaan. Yang dilarang adalah ketika kekayaan menguasai hati sehingga melahirkan kesombongan, kerakusan, dan lupa kepada Allah SWT.

Karena itu, seorang pedagang yang jujur, pejabat yang amanah, alias pengusaha yang murah hati dapat lebih zuhud dibandingkan orang yang hidup sederhana tetapi tetap dipenuhi rasa iri terhadap kekayaan orang lain.

Kesalahan Memahami Zuhud

Banyak orang mengidentikkan zuhud dengan kemiskinan. Mereka mengira semakin miskin seseorang, semakin tinggi pula derajat kezuhudannya.

Padahal Rasulullah SAW tidak pernah mengajarkan demikian. Beliau menikah, berdagang, memimpin negara, menerima hadiah, mempunyai keluarga, dan memanfaatkan beragam nikmat bumi untuk kemaslahatan umat. Kehidupan beliau membuktikan bahwa bumi bukan sesuatu yang kudu dibenci, melainkan sarana untuk beragama kepada Allah SWT.

Karena itu, meninggalkan pekerjaan, tidak mencari nafkah, alias sengaja hidup melarat bukanlah corak zuhud. Sebaliknya, Islam mendorong umatnya bekerja keras, mencari rezeki yang halal, lampau menggunakan kekayaan tersebut untuk beribadah, membantu sesama, serta menegakkan keadilan.

Al-Manawi apalagi menegaskan bahwa bumi tidak boleh ditinggalkan lantaran alambaka hanya dapat diraih melalui dunia. Harta, jabatan, keluarga, dan beragam kenikmatan bumi dapat menjadi kendaraan menuju ridha Allah andaikan dimanfaatkan sesuai syariat.

Dalil Al-Qur’an tentang Zuhud

Salah satu ayat yang menjadi dasar sikap zuhud adalah firman Allah SWT:

قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيْلٌۚ وَالْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّمَنِ اتَّقٰىۗ

Artinya: “Katakanlah, kesenangan bumi hanyalah sebentar, sedangkan alambaka lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. An-Nisa’: 77).

Ayat ini mengingatkan bahwa kehidupan bumi hanyalah persinggahan. Seluruh kenikmatannya berkarakter sementara, sedangkan kehidupan alambaka berkarakter kekal. Karena itu, seorang muslim hendaknya tidak menjadikan bumi sebagai tujuan akhir kehidupannya.

Rasulullah SAW bersabda:

يقول ابن آدم مالي مالي قال وهل لك يا ابن آدم من مالك إلا ما أكلت فأفنيت أو لبست فأبليت أو تصدقت فأمضيت

Artinya: “Anak Adam berkata, ‘Hartaku, hartaku.’ Padahal yang betul-betul menjadi miliknya hanyalah apa yang dia makan hingga habis, apa yang dia pakai hingga usang, dan apa yang dia sedekahkan sehingga menjadi bekal akhirat.”

Hadis ini mengajarkan bahwa kekayaan yang betul-betul berfaedah hanyalah yang digunakan untuk kebaikan. Kekayaan yang sekadar ditimbun tidak bakal menemani manusia setelah kematian.

Dalam sabda lain yang diriwayatkan Imam At-Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda:

الزهادة في الدنيا ليست بتحريم الحلال ولا إضاعة المال ولكن الزهادة في الدنيا أن لا تكون بما في يديك أوثق مما في يد الله

Artinya: “Zuhud terhadap bumi bukanlah mengharamkan yang legal alias menyia-nyiakan harta. Akan tetapi, zuhud adalah ketika keyakinanmu terhadap apa yang ada di sisi Allah lebih besar daripada apa yang ada di tanganmu.” (HR. At-Tirmidzi).

Hadis ini meluruskan dugaan bahwa zuhud berfaedah membenci harta. Justru Islam mengajarkan keseimbangan antara ikhtiar mencari rezeki dan tawakal kepada Allah.

Tiga Cara Menggapai Zuhud

Syekh Abdul Qadir Isa menjelaskan bahwa ada tiga jalan untuk menumbuhkan sifat zuhud dalam hati.

Pertama, menyadari bahwa bumi hanyalah sementara. Sebanyak apa pun kekayaan yang dikumpulkan, semuanya bakal ditinggalkan ketika kematian datang.

Kedua, meyakini bahwa kehidupan alambaka jauh lebih kekal daripada kehidupan dunia. Kesadaran ini membikin seseorang lebih antusias memperbanyak kebaikan saleh daripada sekadar mengejar kenikmatan materi.

Ketiga, meyakini bahwa rezeki telah ditetapkan oleh Allah SWT. Keyakinan ini melahirkan sikap qanaah, menjauhkan seseorang dari sifat tamak, iri hati, korupsi, serta beragam corak kezaliman.

Ciri-Ciri Orang Zuhud

Orang yang zuhud bukanlah orang yang anti terhadap kekayaan alias sengaja hidup dalam kemiskinan. Sebaliknya, dia bisa menempatkan kekayaan pada posisi yang semestinya, ialah sebagai amanah dan sarana beribadah, bukan tujuan hidup.

Harta boleh berada di tangan, tetapi tidak boleh menguasai hati. Karena itu, ketika memperoleh nikmat, dia berterima kasih kepada Allah, dan ketika kehilangan sebagian hartanya, dia tetap tenang lantaran meyakini bahwa seluruh rezeki berada dalam ketetapan-Nya.

Sikap zuhud juga tercermin dalam perilaku sehari-hari. Orang yang zuhud tidak serakah mengejar kenikmatan dunia, tidak iri terhadap kekayaan orang lain, serta tetap berupaya mencari rezeki yang legal dengan penuh tanggung jawab.

Ia menyadari bahwa bekerja merupakan bagian dari ibadah, sedangkan kekayaan yang diperoleh kudu dimanfaatkan untuk kemaslahatan, seperti membantu sesama, bersedekah, dan memenuhi kewenangan keluarga. Dengan demikian, kecintaannya kepada alambaka tidak membuatnya meninggalkan tanggungjawab hidup di dunia.

Pandangan ini sejalan dengan penjelasan Az-Zuhri yang menyebut bahwa prinsip zuhud adalah mensyukuri rezeki legal yang dianugerahkan Allah, menjauhi segala corak penghasilan yang haram, serta merasa cukup dengan apa yang telah ditetapkan-Nya.

Sikap qanaah inilah yang melahirkan ketenangan batin, membebaskan seseorang dari sifat rakus, dan menjadikan hatinya lebih dekat kepada Allah SWT. Inilah karakter utama orang yang betul-betul zuhud: hidup di tengah dunia, tetapi tidak diperbudak oleh dunia.

Zuhud Relevan untuk Kehidupan Modern

Di era modern, manusia menghadapi bujukan bumi yang jauh lebih besar dibandingkan masa lalu. Persaingan ekonomi, budaya konsumtif, media sosial, hingga style hidup mewah sering kali membikin seseorang mengukur kebahagiaan berasas materi.

Akibatnya, lahirlah beragam persoalan seperti korupsi, penipuan, eksploitasi, hingga ketimpangan sosial. Semua itu berasal dari hati yang tidak pernah merasa cukup.

Di sinilah zuhud menjadi solusi. Zuhud mengajarkan bahwa manusia boleh mengejar kesuksesan, tetapi tidak boleh kehilangan integritas. Boleh kaya, tetapi tetap dermawan. Boleh mempunyai kedudukan tinggi, tetapi tetap amanah. Boleh menikmati dunia, tetapi tidak menjadikan bumi sebagai tujuan hidup.

Sikap seperti inilah yang dicontohkan Rasulullah SAW dan para ulama. Mereka memanfaatkan bumi sebagai sarana beribadah, bukan sebagai sesuatu yang dipertuhankan.

Zuhud bukanlah hidup miskin, bukan pula meninggalkan pekerjaan alias membenci harta. Zuhud adalah keahlian menjaga hati agar tidak diperbudak oleh kenikmatan dunia.

Seorang muslim yang zuhud tetap bekerja, mencari nafkah, membangun keluarga, apalagi menjadi kaya andaikan Allah menghendaki. Namun, seluruh nikmat itu dipandang sebagai amanah yang kudu dipergunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Sebagaimana ditegaskan Al-Manawi, prinsip zuhud bukanlah kosongnya tangan dari dunia, melainkan kosongnya hati dari ketergantungan kepada dunia. Ketika hati telah merdeka dari kerakusan, seseorang bakal lebih mudah bersyukur, berbagi, dan menjalani hidup dengan tenang. Inilah makna zuhud yang sejati menurut aliran Islam.

Sertifikasi Halal

Selengkapnya