Rezeki Sudah Dijamin, Mengapa Kita Masih Cemas Soal Uang?Kincai Media– Ketakutan manusia terhadap masa depan nyaris selalu bermuara pada satu hal: rezeki. Menariknya, kegelisahan ini tidak mengenal pemisah kelas sosial. Ia menghampiri mereka yang hidup dalam kekurangan, sekaligus mereka yang bergelimang harta.
Di satu sisi, ada orang yang setiap hari dihantui pertanyaan sederhana: Apakah besok dapur tetap bisa mengepul? Di sisi lain, ada mereka yang mempunyai kekayaan berlimpah, tetapi hidup dalam kekhawatiran yang tak pernah selesai lantaran takut hartanya berkurang, usahanya merugi, alias suatu saat jatuh miskin.
Sekilas kedua golongan ini tampak bertolak belakang. Namun, jika ditelisik lebih dalam, keduanya menderita penyakit jiwa yang sama. Mereka memandang rezeki semata-mata sebagai hasil kalkulasi matematis. Mereka lupa bahwa angka-angka di atas kertas sering kali kehilangan kuasanya ketika berhadapan dengan kehendak Tuhan.
Dalam Islam, pembahasan tentang rezeki selalu bermuara pada takdir yang telah ditetapkan apalagi sebelum manusia lahir. Rasulullah SAW bersabda:
إنَّ أحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ في بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا نُطْفَةً ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذلكَ ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذلكَ ثُمَّ يُرْسَلُ المَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بأرْبَعِ كَلِماتٍ: بِكَتْب رِزْقِهِ وَأجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٍّ أَوْ سَعِيدٍ
Artinya; “Sesungguhnya setiap dari kalian dikumpulkan penciptaannya di rahim ibunya selama empat puluh hari dalam corak nutfah, kemudian menjadi segumpal darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Setelah itu diutuslah malaikat untuk meniupkan ruh dan diperintahkan menulis empat perkara: rezekinya, ajalnya, amalnya, serta apakah dia termasuk orang yang senang alias celaka.”
Hadis ini menunjukkan bahwa ruh, rezeki, dan ajal ditetapkan dalam satu paket takdir. Selama ruh tetap berada di dalam jasad, rezeki tidak bakal pernah berakhir mengalir. Seseorang yang ditakdirkan hidup hingga usia enam puluh tahun, niscaya telah ditetapkan pula kadar rezeki yang mencukupi kehidupannya hingga pemisah usia tersebut. Kematianlah yang menjadi penanda berakhirnya jatah rezeki manusia di dunia.
Karena itu, selama napas tetap berembus, kekhawatiran berlebihan terhadap rezeki sejatinya lahir dari kepercayaan yang belum sempurna kepada Allah. Rasulullah SAW kembali menegaskan:
أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ
Artinya;“Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dan tempuhlah langkah yang baik dalam mencari rezeki. Tidaklah seseorang meninggal hingga dia menyempurnakan seluruh rezekinya, sekalipun rezeki itu datang terlambat. Maka bertakwalah kepada Allah, carilah rezeki yang halal, dan tinggalkan yang haram.”
Hadis ini bukan mengajarkan manusia untuk berpangku tangan, melainkan menenangkan hati agar tidak menghalalkan segala langkah lantaran takut tidak kebagian rezeki.
Anomali Kehidupan: Logika Beasiswa dan Rahasia Kecukupan
Kehidupan sering menghadirkan realita yang menertawakan logika matematika manusia. Salah satu contohnya adalah seleksi beasiswa.
Ketika pengumuman keluar dan nama kita tidak tercantum, bumi seolah runtuh. Sebagian merasa kecewa, sebagian lagi mulai mencurigai proses seleksi. Padahal, sebelum berita danasiwa itu ada, kita sudah beriktikad bayar biaya pendidikan secara berdikari dan merasa sanggup menjalaninya.
Aneh rasanya. Sesuatu yang sebelumnya bukan kebutuhan mendesak, tiba-tiba berubah menjadi sumber kekhawatiran hanya lantaran kandas mendapatkannya.
Logika kita berbicara bahwa tanpa beasiswa, pendidikan bakal menjadi sangat berat, apalagi mustahil diselesaikan. Namun realita sering berbincang sebaliknya. Bertahun-tahun kemudian, mereka yang memperoleh danasiwa maupun yang kandas mendapatkannya sama-sama berdiri di panggung wisuda.
Jalannya memang berbeda. Ada yang bayar kuliah melalui biaya beasiswa, ada pula yang Allah cukupkan melalui rezeki orang tua, pekerjaan sampingan, support keluarga, alias jalan-jalan lain yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.
Bahkan tidak jarang muncul ironi yang menarik. Ada penerima danasiwa yang justru kudu meminjam duit kepada temannya yang kuliah dengan biaya mandiri. Tentu ini bukan untuk menggeneralisasi, melainkan sekadar ilustrasi bahwa besarnya akomodasi tidak selalu identik dengan rasa cukup.
Dari sini kita belajar satu pelajaran penting. Rezeki tidak selalu datang melalui pintu yang kita inginkan. Ketika satu pintu tertutup, Allah sering kali membuka pintu lain yang tidak pernah kita perhitungkan. Yang berubah hanyalah jalur distribusinya, bukan kadar kecukupannya.
Kaya dan Miskin Berakhir pada Titik yang Sama
Perhitungan manusia kembali runtuh ketika kita membahas hubungan antara kekayaan dan kebutuhan.
Banyak orang mengira semakin besar penghasilan, semakin besar pula sisa duit yang dimiliki. Padahal, tidak selalu demikian. Sering kali semakin besar pendapatan seseorang, semakin besar pula biaya hidup yang kudu dia tanggung.
Bayangkan dua orang.
Orang pertama mempunyai penghasilan Rp10.000.000 setiap bulan. Namun dia menderita penyakit kronis sehingga kudu mengeluarkan biaya pengobatan sebesar Rp7.000.000.
Sementara itu, tetangganya hanya berpenghasilan Rp3.000.000 setiap bulan. Ia hidup sederhana, tetapi Allah menganugerahinya kesehatan yang prima sehingga tidak mengeluarkan biaya pengobatan sedikit pun.
Pada akhirnya, keduanya mempunyai ruang ekonomi yang nyaris sama untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Ilustrasi sederhana ini menunjukkan bahwa kecukupan tidak ditentukan oleh besarnya pemasukan semata, melainkan oleh keseimbangan antara rezeki dan kebutuhan.
Di sinilah kesombongan orang kaya dipatahkan, sekaligus kesedihan orang miskin dihibur. Sebab yang menentukan kualitas hidup bukan hanya banyaknya harta, tetapi juga sedikit alias banyaknya kebutuhan yang kudu dipenuhi.
Mana yang Datang Lebih Dahulu: Rezeki alias Kebutuhan?
Dari sini muncul pertanyaan menarik. Apakah Allah terlebih dulu menciptakan kebutuhan, lampau menurunkan rezeki untuk memenuhinya? Ataukah Allah lebih dulu melimpahkan rezeki, kemudian menghadirkan kebutuhan yang sesuai dengannya?
Barangkali keduanya sama-sama terjadi. Ada saat ketika seseorang mempunyai kebutuhan, tetapi belum mempunyai biaya untuk memenuhinya. Namun tidak lama kemudian, Allah membukakan jalan yang sama sekali tidak disangka-sangka. Ketika seorang anak lahir, ketika diterima di perguruan tinggi, alias ketika mendapatkan amanah baru, sering kali pada saat yang sama Allah membuka keran rezeki yang sebelumnya tidak pernah ada.
Sebaliknya, ada pula keadaan ketika Allah lebih dulu melapangkan rezeki seseorang. Setelah itu barulah datang kebutuhan-kebutuhan baru yang memerlukan biaya besar. Rezeki datang lebih dahulu, kemudian manusia diarahkan untuk mengalokasikannya sesuai kehendak-Nya.
Karena itu, kekayaan dan kebutuhan adalah dua variabel yang selalu bergerak bersama. Jarang sekali seseorang mempunyai kekayaan yang sangat banyak sekaligus kebutuhan yang sangat sedikit. Sebaliknya, jarang pula orang hidup dalam kekurangan tetapi dibebani kebutuhan yang tidak pernah diberi jalan keluarnya.
Allah menyeimbangkan keduanya dengan langkah yang sering kali tidak bisa dipahami oleh logika manusia.
Pada akhirnya, semua manusia melangkah menuju satu titik yang sama: kecukupan yang telah Allah tetapkan bagi masing-masing.
Karena itu, mencemaskan hari esok—baik lantaran penghasilan yang terasa sempit maupun lantaran takut kehilangan kekayaan—sesungguhnya lahir dari kegagalan memercayai salah satu nama Allah yang paling agung, Al-Razzāq, Sang Maha Pemberi Rezeki.
Selama manusia tetap diberi napas, selama itu pula rezekinya tetap berjalan. Tugas kita bukan memastikan dari mana rezeki bakal datang, melainkan menjemputnya dengan langkah yang halal, ikhtiar yang terbaik, dan hati yang penuh tawakal.
Sebab pada akhirnya, bukan matematika manusia yang menentukan kecukupan, melainkan matematika Tuhan yang bekerja dengan cara-cara yang sering kali tidak pernah kita duga.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·