Jakarta -
Bunda, banyak orang yang mungkin bertanya, apakah kolesterol tinggi kudu langsung minum obat untuk menurunkannya. Sebelum mengambil langkah tersebut, krusial memahami pilihan penanganan yang dapat dilakukan.
Mengonsumsi obat kolesterol tentu tidak selalu sama pada setiap orang. Dokter biasanya bakal mempertimbangkan beragam faktor, mulai dari usia, riwayat kesehatan, hingga tingkat akibat kardiovaskular sebelum menentukan terapi yang tepat.
Lantas, bolehkah Bunda mengonsumsi obat untuk menurunkan kolesterol tinggi? Simak penjelasan master berikut ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Minum obat penurun kolesterol
Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSU Bunda Margonda, dr. Resna Murti Wibowo, Sp.PD, FINASIM,MKES,CH,CHt. AIFO-K, mengingatkan untuk tidak langsung mengonsumsi obat penurun kolesterol.
“Jangan langsung pakai obat kolesterol,” ungkap Resna kepada HaiBunda.
Alih-alih langsung minum obat, sebaiknya Bunda konsultasikan terlebih dulu dengan master untuk penggunaan obat yang tepat.
“Konsultasikan dahulu, apakah ini betul alias salah,” tuturnya.
Selain pengobatan, Bunda juga dapat melakukan style hidup sehat untuk meningkatkan kolesterol sehat, sekaligus menurunkan kolesterol jahat.
Misalnya, lakukan olahraga secara rutin setidaknya jalan kaki selama 30-60 menit, menenangkan pikiran, hingga mendapatkan waktu tidur yang berkualitas.
“Kalau memang terdapat tingginya kadar kolesterol total, LDL dan trigliserida, maka kita batasi dengan perbaikan pola style hidup. Olahraganya yang cukup minimal jalan kaki 30 menit sampai dengan 60 menit cukup jalan kaki,” ujar Resna.
“Membuat relaks, tidak boleh terlalu stres, kurangi masa-masa yang membikin tidur sangat malam,” sambungnya.
Selain itu, Bunda juga perlu memperhatikan pola makan sehat dengan menghindari daging, gorengan tepung, makanan berbumbu kacang, dan makanan bersantan.
“Kemudian, makanannya juga ingat. Lemak itu yang jahat bukan hanya dari daging, tapi ingat gorengan tepung, kemudian makanan berbumbu kacang, yang ketiga adalah makanan bersantan yang diulang-ulang pemanasannya, sehingga dia bakal memberikan lemak-lemak jenuh alias lemak-lemak jahat yang membuka akibat tinggi kadar kolesterol pada darah,” ujar Resna.
Lemak hewani mana yang lebih berisiko?
Pada dasarnya, lemak terbagi menjadi dua jenis, ialah lemak baik yang disebut HDL dan lemak jahat alias LDL.
“Pada makanan lemak itu ada dua pada dasarnya. Ada lemak baik, ada lemak jahat, ya lemak yang baik itu lemak HDL, alias High Density Lipid. Sementara lemak yang jahat itu, LDL alias Low Density Lipid,” ujar Resna.
Selain itu, daging juga mempunyai bagian berbeda yang perlu diperhatikan saat dikonsumsi, terutama bagi orang yang cemas dengan kadar kolesterol.
“Jika kita makan daging itu ada dua, ada daging murni, ada yang lemaknya yang kita bilang gajih. Nah, jika memang takut dengan lemak daging, ya sudah gajihnya disingkirkan, kita makan dagingnya saja,” tuturnya.
Beberapa potongan daging apalagi mempunyai bagian lemak yang cukup terlihat, sehingga sebaiknya lebih diperhatikan oleh orang dengan akibat kolesterol tinggi.
“Jika kita menggunakan makanan yang seperti itu, contohnya sirloin ya, itu kan ada gajihnya. Nah, jika umpama seperti itu, jika seseorang mempunyai akibat gangguan kolesterol tinggi, maka risikonya yang menggunakan makanan yang bergajih akibat kolesterolnya bakal naik,” ungkap Resna.
Lebih lanjut, dia menyarankan lebih baik untuk mengonsumsi daging dengan protein penuh yang rendah lemak.
“Bagaimana agar aman, kita pakai yang dagingnya full protein. Jadi, lemaknya lebih rendah,” ujarnya.
Nah, itulah penjelasan master mengenai konsumsi obat untuk menurunkan kolesterol tinggi. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/som)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·