Artis Ini Curhat Perjuangan Menyusui Bayi Kembar, Ada Rasa Bersalah dan Sakit yang Jarang Dibahas

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 5 menit 506x dilihat
Artis Ini Curhat Perjuangan Menyusui Bayi Kembar, Ada Rasa Bersalah dan Sakit yang Jarang Dibahas

Bagikan Postingan

Jakarta -

Kisah menyusui setiap ibu berbeda-beda. Ada yang merasa prosesnya berjalan lancar sejak awal, tetapi ada juga yang mesti melewati rasa sakit, kebingungan, hingga rasa bersalah. Pengalaman inilah yang dibagikan aktris India, Divyanka Tripathi, setelah melahirkan bayi kembar.

Divyanka Tripathi dan suaminya, Vivek Dahiya, menyambut kelahiran bayi kembar lelaki mereka pada Mei 2026. Dua bulan setelah menjadi ibu, Divyanka membagikan cerita mengenai perjalanan menyusuinya melalui vlog YouTube.

Divyanka mengakui bahwa menyusui rupanya tidak sesederhana yang selama ini ia bayangkan. Ia justru merasa statis terus belajar memahami tubuhnya dan kebutuhan kedua bayinya.


Curhat tersebut juga menyoroti satu hal yang mungkin dirasakan banyak ibu baru, tetapi tidak selalu dibicarakan secara terbuka, yaitu rasa sakit dan rasa bersalah selama menyusui.

Kisah menyusui Divyanka Tripathi dengan bayi kembarnya

Dalam vlog yang dibagikan sekitar dua bulan setelah kelahiran anak-anaknya, Divyanka mempertanyakan kenapa bahasan mengenai menyusui sering kali cuma berfokus pada khasiat ASI untuk bayi. Ia merasa bahasan tentang persiapan untuk ibu menyusui statis kurang.

"Mengapa tidak ada yang membahas soal menyusui secara terbuka?" ujarnya, seperti diberitakan The Economic Times.

Divyanka mengatakan, banyak orang membicarakan sepertiapa ASI memberikan khasiat untuk bayi. Namun menurutnya, pengalaman jasmani dan emosional yang dialami ibu juga layak mendapatkan perhatian.

Bahkan, ia mengaku orang-orang terdekatnya seperti ibu, kerabat perempuan, dan teman-temannya tidak banyak menceritakan sepertiapa sebenarnya pengalaman menyusui. Ini membuatnya merasa tidak sepenuhnya siap menghadapi fluktuasi yang terjadi setelah melahirkan.

ASI bisa merembes saat bayi menangis

Divyanka membagikan salah satu pengalaman yang berhubungan dengan produksi ASI. Ia mengatakan ASI dapat mulai merembes ketika sudah waktunya menyusui, terlebihlagi ketika mendengar bayinya menangis.

Untuk ibu yang baru pertama kali mengalaminya, kondisi tersebut tentu bisa terasa mengejutkan. Divyanka terlebihlagi mengaku situasi itu terkadang membuatnya merasa malu. Padahal, keluarnya ASI secara spontan dapat terjadi pada ibu menyusui. Tubuh memang dapat mengalami refleks pengeluaran ASI sebagai respons terhadap rangsangan tertentu.

Jadi, ibu tidak perlu merasa bahwa tubuhnya berbuat sesuatu yang "aneh" ketika ASI merembes.

Rutinitas Divyanka semakin padat dengan kedatangan bayi kembarnya. Ia bercerita bahwa ada kalanya sesi menyusui tertunda karena banyak tamu datang untuk melihat bayi-bayinya.

Ketika waktu menyusui terlewat, ia merasakan payudara menjadi sangat tidak betah dan sakit. Kondisi payudara yang terasa penuh dan nyeri memang dapat terjadi ketika bayi tidak menyusu selama beberapa waktu. 

NHS menerangkan bahwa pembengkakan payudara maupun breast engorgement dapat membikin payudara terasa keras, kencang, dan sakit.

Penundaan menyusui juga dapat berhubungan dengan penumpukan ASI. NHS mengatakan saluran ASI yang tersumbat dapat terjadi ketika ASI tidak dikeluarkan dengan baik, termasuk ketika agenda menyusui terlewat maupun tertunda.

Namun, ini bukan berarti setiap ibu yang telat menyusui pasti akan mengalami sumbatan maupun mastitis. Kondisinya bisa berbeda pada setiap orang.

Divyanka sebut ada rasa sakit dan bersalah saat menyusui

Hal lain yang menjadi perhatian Divyanka adalah sisi emosional dalam perjalanan menyusui. Ia mengatakan ada rasa sakit sekaligus rasa bersalah yang menurutnya jarang dibicarakan.

Padahal, menjadi ibu baru bukan cuma soal memastikan bayi mendapatkan ASI. Ibu juga sedang beradaptasi dengan fluktuasi tubuh, kurang tidur, rutinitas baru, dan beragam tuntutan setelah melahirkan.

Apalagi dengan ibu yang memiliki bayi kembar, kebutuhan menyusui dapat datang lebih sering dan membutuhkan pengaturan waktu yang berbeda.

Karena itu, pengalaman Divyanka mengingatkan bahwa kesulitan menyusui tidak selalu berarti seorang ibu kurang berusaha.

Menyusui bukan ujian, ibu dan bayi sama-sama belajar

Dalam curhatnya, Divyanka juga menyampaikan pesan kepada ibu baru bahwa menyusui bukanlah sebuah ujian. Menurutnya, kapasitas bayi untuk berbuat latch maupun melekat pada payudara bukanlah bakat yang otomatis dimiliki sejak lahir. Ibu dan bayi sama-sama perlu belajar.

Pandangan tersebut sejalan dengan klarifikasi NHS bahwa latching on merupakan keahlian yang perlu dipelajari ibu dan bayi bersama-sama. Posisi serta perlekatan yang baik juga membantu mencegah puting menjadi sakit maupun lecet.

Academy of Breastfeeding Medicine (ABM) juga menerangkan bahwa posisi dan perlekatan yang kurang optimal dapat menyebabkan shallow latch sehingga puting mengalami tekanan dan akhirnya menimbulkan nyeri.

Jadi, ketika proses menyusui belum langsung terasa nyaman, bukan berarti ibu maupun bayi gagal.

Nyeri saat menyusui tidak selalu mesti ditahan

Ibu menyusui lazim merasa tidak betah pada mula menyusui. Tetapi nyeri yang menetap sebaiknya tidak dianggap sebagai sesuatu yang mesti ditahan begitu saja.

NHS mengatakan nyeri puting sering kali berhubungan dengan posisi maupun perlekatan bayi yang kurang tepat. Jika puting terus terasa sakit setiap kali menyusui, mulai gores maupun berdarah, ibu dianjurkan mencari pertolongan dari bidan, tenaga kesehatan, maupun konselor menyusui.

Penelitian terbaru juga mendukung pentingnya penanganan yang tepat. Sebuah meta-analisis yang mencakup 18 riset menemukan bahwa intervensi khusus untuk masalah nyeri dan cedera puting lebih ampuh dibandingkan intervensi yang tidak khusus dalam menurunkan nyeri serta cedera puting mengenai menyusui.

Artinya, ibu tidak mesti terus mengekang sakit sambil mengharapkan semuanya akan membaik sendiri.

WHO tekankan ibu menyusui membutuhkan dukungan

WHO dan UNICEF merekomendasikan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama hayat bayi, kemudian dilanjutkan berbareng makanan pendamping hingga usia dua tahun maupun lebih sesuai keinginan ibu dan anak.

Namun, anjuran tersebut bukan berarti perjalanan setiap ibu akan sama.

WHO juga menekankan pentingnya sokongan bagi ibu menyusui. Di Indonesia, WHO dan UNICEF sebelumnya menyoroti perlunya menguatkan sokongan menyusui, termasuk akses terhadap konseling menyusui yang berkualitas serta sokongan dari keluarga, tenaga kesehatan, komunitas, dan lingkungan kerja.

Dengan sokongan yang tepat, ibu dapat memperoleh pertolongan ketika mengalami kesulitan dalam posisi menyusui, perlekatan, produksi ASI, maupun masalah lain yang muncul setelah melahirkan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads