Awal Fase Dakwah Islam Secara Terang-terangan (bag. 1)

Jul 27, 2026 11:00 AM - 18 jam yang lalu 890

Fase dakwah secara sembunyi-sembunyi telah berjalan kurang lebih tiga tahun. Dalam masa tersebut, jumlah orang yang menerima Islam terus bertambah. Lalu, gimana Rasulullah ﷺ mulai membawa dakwah ini ke ruang publik? Dalam tulisan ini, kita bakal membahas awal fase dakwah secara terang-terangan alias jahriyyah.

Perintah memperingatkan kerabat terdekat

Salah satu perintah awal yang berangkaian dengan dakwah secara terang-terangan adalah firman Allah Ta’ala,

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

“Berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (QS. Asy-Syu’ara’: 214)

Setelah ayat tersebut turun, Rasulullah ﷺ naik ke Bukit Shafa kemudian menyeru,

يَا صَبَاحَاهْ!

“Wahai kaumku, waspadalah terhadap ancaman yang mengancam!”

Kabilah-kabilah Quraisy pun berkumpul. Rasulullah ﷺ membujuk mereka untuk mentauhidkan Allah, mengimani kerasulan beliau, dan mengimani hari akhir.

Imam al-Bukhari meriwayatkan sebagian kisah ini dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma menceritakan bahwa tatkala ayat tersebut turun, Rasulullah naik ke Bukit Shafa, kemudian memanggil,

يَا بَنِي فِهْرٍ! يَا بَنِي عَدِيٍّ

“Wahai Bani Fihr! Wahai Bani Adi!” dan kabilah-kabilah Quraisy lainnya hingga mereka berkumpul. Bahkan, seseorang yang tidak dapat datang sendiri mengutus orang lain untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Hadir pula Abu Lahab ketika itu. Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda,

أَرَأَيْتَكُمْ لَوْ أَخْبَرْتُكُمْ أَنَّ خَيْلًا بِالْوَادِي تُرِيدُ أَنْ تُغِيرَ عَلَيْكُمْ، أَكُنْتُمْ مُصَدِّقِيَّ؟

“Bagaimana menurut kalian jika saya kabarkan kepada kalian bahwa ada pasukan berkuda di lembah yang hendak menyerang kalian, apakah kalian bakal mempercayaiku?” Mereka menjawab,

نَعَمْ، مَا جَرَّبْنَا عَلَيْكَ إِلَّا صِدْقًا

“Ya. Kami tidak pernah mendapati darimu selain kejujuran.”

Rasulullah pun bersabda,

فَإِنِّي نَذِيرٌ لَكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَابٍ شَدِيدٍ

“Sesungguhnya saya adalah pemberi peringatan kepada kalian sebelum datangnya balasan yang berat.”

Abu Lahab lampau merespon, “Celakalah engkau sepanjang hari ini! Hanya untuk inikah engkau mengumpulkan kami?” Maka turunlah firman Allah Ta’ala,

تَبَّتْ يَدَا أَبِي لَهَبٍ

“Binasalah kedua tangan Abu Lahab,” hingga akhir surah.

Dalam riwayat lain, Imam Muslim meriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Beliau menceritakan bahwa tatkala surah Asy-Syu’ara’ ayat 214 turun, Rasulullah ﷺ menyeru kaum Quraisy secara umum, kemudian menyebut beberapa family dan kerabat secara khusus. Beliau bersabda,

يَا مَعْشَرَ قُرَيْشٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا مَعْشَرَ بَنِي كَعْبٍ، أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ، يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ، أَنْقِذِي نَفْسَكِ مِنَ النَّارِ، فَإِنِّي وَاللَّهِ لَا أَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا، إِلَّا أَنَّ لَكُمْ رَحِمًا سَأَبُلُّهَا بِبَلَالِهَا

“Wahai seluruh kaum Quraisy, selamatkanlah diri kalian dari api neraka! Wahai Bani Ka’ab, selamatkanlah diri kalian dari api neraka! Wahai Fathimah binti Muhammad, selamatkanlah dirimu dari api neraka! Demi Allah, sesungguhnya saya tidak mempunyai kuasa sedikit pun untuk melindungi kalian dari balasan Allah. Hanya saja, kalian mempunyai hubungan kekerabatan denganku yang bakal tetap saya sambung sebagaimana mestinya.”

Baca juga: Dakwah Para Nabi dan Rasul

Pertemuan Bani Hasyim dalam riwayat sirah

Sebagian riwayat sirah juga menyebut bahwa setelah turunnya surah Asy-Syu’ara’ ayat 214, Rasulullah ﷺ mengundang Bani Hasyim. Sejumlah orang dari Bani al-Muththalib juga turut hadir. Dalam riwayat tersebut, dinukil bahwa Rasulullah ﷺ menyampaikan,

إِنَّ الرَّائِدَ لَا يَكْذِبُ أَهْلَهُ، وَاللَّهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ، إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ خَاصَّةً، وَإِلَى النَّاسِ عَامَّةً، وَاللَّهِ لَتَمُوتُنَّ كَمَا تَنَامُونَ، وَلَتُبْعَثُنَّ كَمَا تَسْتَيْقِظُونَ، وَلَتُحَاسَبُنَّ بِمَا تَعْمَلُونَ، وَإِنَّهَا الْجَنَّةُ أَبَدًا أَوِ النَّارُ أَبَدًا.

“Sesungguhnya seorang pengintai tidak bakal berbohong kepada keluarganya. Demi Allah, tidak ada sesembahan yang berkuasa disembah selain Dia, sesungguhnya saya adalah utusan Allah kepada kalian secara unik dan kepada seluruh manusia secara umum. Demi Allah, sungguh kalian bakal meninggal sebagaimana kalian tidur, lampau kalian bakal dibangkitkan sebagaimana kalian terbangun. Kalian pasti bakal dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatan kalian. Setelah itu, yang ada hanyalah surga untuk selama-lamanya alias neraka untuk selama-lamanya.”

Abu Thalib kemudian berkata, “Betapa senangnya kami dapat membantumu. Kami menerima nasihatmu dan sangat membenarkan perkataanmu. Inilah family ayahmu yang telah berkumpul. Aku hanyalah salah seorang di antara mereka, tetapi akulah yang paling sigap mendukung apa yang engkau sukai. Maka teruskanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu. Demi Allah, saya bakal senantiasa menjaga dan melindungimu. Hanya saja, jiwaku tidak sanggup meninggalkan kepercayaan ‘Abdul Muththalib.”

Abu Lahab berkata, “Demi Allah, ini betul-betul suatu keburukan. Cegahlah dia sebelum orang lain bertindak terhadap kalian.”

Abu Thalib menjawab, “Demi Allah, kami bakal terus melindunginya selama kami tetap hidup.”

Rincian pidato dan perbincangan dalam riwayat tersebut tidak dapat dipastikan berasal dari Nabi ﷺ. Meskipun demikian, pokok peringatan beliau kepada kerabat terdekat telah ditetapkan dalam sabda sahih al-Bukhari dan Muslim.

Penegasan untuk menyampaikan dakwah secara terbuka

Dalam fase dakwah secara terang-terangan tersebut, Allah juga menegaskan kepada Rasulullah ﷺ agar menyampaikan kebenaran secara terbuka dan tidak menghiraukan penentangan kaum musyrikin. Allah Ta’ala berfirman,

فَاصْدَعْ بِما تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

“Maka sampaikanlah secara terang-terangan segala sesuatu yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik.” (QS. Al-Hijr: 94)

Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri rahimahullah menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ mulai membongkar beragam kebatilan kesyirikan setelah turunnya ayat tersebut. Akibatnya, kemarahan dan penolakan merebak di tengah masyarakat Makkah. Kaum Quraisy bangkit untuk bersiap memadamkan dakwah Rasulullah ﷺ lantaran cemas tradisi dan warisan nenek moyang mereka bakal hancur.

Menurut al-Mubarakfuri, kaum Quraisy menyadari besarnya akibat dakwah tauhid. Mengimani bahwa tidak ada sesembahan yang berkuasa disembah selain Allah, membenarkan kerasulan Nabi Muhammad ﷺ, dan beragama kepada hari akhir berfaedah tunduk sepenuhnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka tidak lagi bebas bertindak semaunya terhadap diri, harta, maupun orang lain. Dakwah tersebut juga menakut-nakuti kekuasaan dan kebanggaan sosial yang selama ini menopang kedudukan mereka di tengah bangsa Arab. Selain itu, mereka kudu meninggalkan kezaliman terhadap masyarakat lemah dan tidak lagi dapat mendahulukan kemauan pribadi di atas kehendak Allah dan Rasul-Nya.

Jiwa mereka menolak menerima keadaan yang dianggap “menghinakan” itu. Penolakan tersebut bukanlah demi menjaga kemuliaan ataupun kebaikan, tetapi sebagaimana firman Allah Ta’ala,

بَلْ يُرِيدُ الْإِنْسانُ لِيَفْجُرَ أَمامَهُ

“Bahkan manusia hendak terus melakukan maksiat pada masa yang bakal datang.” (QS. Al-Qiyamah: 5)

Menurut al-Mubarakfuri, Quraisy kebingungan menghadapi seorang laki-laki yang jujur dan terpercaya, teladan tertinggi dalam nilai-nilai kemanusiaan dan kemuliaan akhlak. Sepanjang sejarah kaum dan nenek moyang mereka, tidak pernah mereka mengenal seseorang yang sebanding dengan Rasulullah  ﷺ dalam kejujuran dan kemuliaan akhlak.

Setelah mempertimbangkan beragam cara, akhirnya kaum musyrikin Quraisy memutuskan untuk mendatangi Abu Thalib. Mereka berambisi om Rasulullah ﷺ itu bersedia menghentikan dakwah keponakannya yang semakin meluas.

Bagaimana tanggapan Abu Thalib terhadap tuntutan kaum Quraisy? Insyaallah, kisahnya bakal dibahas dalam tulisan selanjutnya.

[Bersambung]

***

Penulis: Fajar Rianto

Artikel Kincai Media

Referensi:

ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Syekh Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri.

Selengkapnya