Awal Fase Dakwah Islam Secara Terang-Terangan (Bag. 2)

Akidah dan Sunnah oleh Waktu baca 6 menit 525x dilihat
Awal Fase Dakwah Islam Secara Terang-Terangan (Bag. 2)

Bagikan Postingan

Pada tulisan sebelumnya, kita telah membahas gimana awal perintah dakwah secara terang-terangan turun kepada Rasulullah ﷺ. Pada tulisan kali ini, kita bakal lanjutkan gimana para pembesar kafir Quraisy melakukan perundingan dengan Abu Thalib agar mau menghentikan dakwah sang keponakan.

Mengapa Quraisy mendatangi Abu Thalib?

Mungkin bakal ada yang bertanya, “Mengapa para pembesar Quraisy tidak langsung mencegah Rasulullah ﷺ? Mengapa kudu melalui Abu Thalib terlebih dahulu?”

Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ adalah seorang laki-laki yang mulia, berwibawa, dan mempunyai kepribadian yang luar biasa. Keagungan pribadi beliau tertanam dalam jiwa kawan maupun lawan, sehingga orang seperti beliau tidak layak diperlakukan selain dengan penghormatan dan pemuliaan. Tidak ada yang berani melakukan tindakan-tindakan rendah dan tercela terhadap beliau selain orang-orang buruk dan bodoh.

Selain itu, Rasulullah ﷺ juga berada di bawah perlindungan Abu Thalib. Abu Thalib termasuk tokoh terkemuka Makkah. Oleh lantaran itu, sangat susah bagi siapa pun untuk berani melanggar agunan perlindungannya dan menyerang orang yang berada di bawah naungannya. Karena itulah mereka memilih jalan perundingan dengan Abu Thalib sebagai tokoh yang memberikan perlindungan kepada Rasulullah ﷺ. Mereka melakukannya dengan penuh kalkulasi dan kesungguhan dengan angan agar Abu Thalib mau tunduk kepada tuntutan mereka.

Perundingan pertama dengan Abu Thalib

Sejumlah tokoh terkemuka Quraisy mendatangi Abu Thalib lampau berkata, “Wahai Abu Thalib, sesungguhnya keponakanmu telah mencela tuhan-tuhan kami, mencela kepercayaan kami, menganggap tolol pikiran kami, dan menyatakan sesat nenek moyang kami. Engkau kudu menghentikannya dari mengganggu kami, alias biarkanlah kami berhadapan langsung dengannya. Sebab engkau sendiri berbeda dengannya sebagaimana kami berbeda dengannya. Dengan demikian, kami bakal menyelesaikan urusanmu dengannya.”

Mendengar perkataan tokoh Quraisy tersebut, Abu Thalib membalasnya dengan kata-kata yang lembut dan menolak permintaan mereka dengan langkah yang baik. Maka para tokoh Quraisy pun pergi meninggalkan Abu Thalib.

Ancaman kedua para pembesar Quraisy

Setelah pertemuan itu, Rasulullah ﷺ tetap terus mendakwahkan Islam kepada manusia. Namun, kaum Quraisy semakin tidak senang memandang dakwah Rasulullah ﷺ terus berjalan. Orang-orang kafir Quraisy tidak bisa bersabar lagi memandang kondisi tersebut. Akhirnya, mereka memutuskan untuk kembali menemui Abu Thalib dengan langkah yang lebih keras dari sebelumnya.

Pada kali yang kedua ini, para pembesar Quraisy mendatangi Abu Thalib dan berkata, “Wahai Abu Thalib, sungguh engkau mempunyai usia, kemuliaan, dan kedudukan di tengah kami. Kami telah meminta kepadamu agar menghentikan keponakanmu, tetapi engkau tidak menghentikannya dari mengganggu kami. Demi Allah, kami tidak bakal bersabar terus menghadapi pencelaan terhadap nenek moyang kami, penghinaan terhadap logika kami, dan pencelaan terhadap tuhan-tuhan kami. Engkau kudu menghentikannya dari kami alias kami bakal menghadapi dia dan engkau sekaligus dalam persoalan ini, hingga salah satu dari kedua pihak binasa.” Ancaman keras itu terasa sangat berat bagi Abu Thalib.

Keteguhan Rasulullah ﷺ dan pembelaan Abu Thalib

Setelah ancaman pembesar Quraisy itu, Abu Thalib mengutus seseorang untuk memanggil Rasulullah ﷺ. Kemudian Rasulullah ﷺ pun tiba di hadapan Abu Thalib. Abu Thalib berkata, “Wahai keponakanku, sesungguhnya kaummu telah mendatangiku dan mengatakan…” Ia pun menceritakan ucapan para pembesar Quraisy itu. Abu Thalib lampau berkata, “Maka kasihanilah saya dan dirimu sendiri. Janganlah engkau membebankan kepadaku sesuatu yang tak sanggup saya pikul.”

Mendengar perkataan pamannya itu, Rasulullah ﷺ mengira Abu Thalib bakal meninggalkannya dan mulai lemah dalam memihak Rasulullah ﷺ. Setelah itu Rasulullah ﷺ berkata,

يَا عَمِّ، وَاللهِ لَوْ وَضَعُوا الشَّمْسَ فِي يَمِينِي، وَالْقَمَرَ فِي يَسَارِي، عَلَى أَنْ أَتْرُكَ هَذَا الْأَمْرَ، حَتَّى يُظْهِرَهُ اللهُ، أَوْ أَهْلِكَ فِيهِ، مَا تَرَكْتُهُ

“Wahai pamanku, demi Allah, seandainya mereka meletakkan mentari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar saya meninggalkan urusan ini, saya tidak bakal meninggalkannya sampai Allah memenangkannya alias saya lenyap karenanya.”

Kemudian Rasulullah ﷺ tidak dapat menahan air matanya, lampau menangis dan berdiri untuk pergi.

Ketika Rasulullah ﷺ berpaling, Abu Thalib memanggilnya kembali. Setelah Rasulullah ﷺ menghadap kepadanya, Abu Thalib berkata, “Pergilah, wahai keponakanku. Katakanlah apa yang engkau sukai. Demi Allah, saya tidak bakal menyerahkanmu kepada siapa pun selama-lamanya.” Kemudian Abu Thalib melantunkan syair. Di antara penggalan syair tersebut:

وَاللهِ لَنْ يَصِلُوا إِلَيْكَ بِجَمْعِهِمْ ** حَتَّى أُوَسَّدَ فِي التُّرَابِ دَفِينًا

Demi Allah, mereka takkan dapat menjangkaumu dengan seluruh kekuatan mereka, hingga saya dibaringkan sebagai mayit yang terkubur di dalam tanah.

فَاصْدَعْ بِأَمْرِكَ مَا عَلَيْكَ غَضَاضَةٌ ** وَابْشِرْ وَقَرَّ بِذَاكَ مِنْكَ عُيُونًا

Maka sampaikanlah urusanmu dengan terang-terangan, tidak ada kehinaan atasmu. Bergembiralah dan tenanglah lantaran perihal itu.

Dengan demikian, Rasulullah ﷺ terus melanjutkan kegiatannya menyerukan kepercayaan Allah kepada manusia.

Perlu dicatat, redaksi perbincangan “matahari dan bulan” ini termasuk riwayat sirah yang masyhur, tetapi dinilai dha’if oleh Syekh al-Albani. Meski demikian, makna keteguhan Rasulullah ﷺ dalam mempertahankan dakwah tetap sejalan dengan keseluruhan perjalanan sirah beliau.

Tawaran menukar Rasulullah ﷺ dengan ‘Umarah bin al-Walid

Setelah pembesar Quraisy mengetahui bahwa Abu Thalib tidak bakal meninggalkan Rasulullah ﷺ, mereka kembali mendatangi Abu Thalib dengan membawa seorang pemuda berjulukan ‘Umarah bin al-Walid bin al-Mughirah (عمارة بن الوليد بن المغيرة). Mereka berkata, “Wahai Abu Thalib, pemuda ini adalah pemuda Quraisy yang paling kuat, paling tampan, dan paling baik. Ambillah dia. Engkau dapat memperoleh faedah dari kepintaran dan pertolongannya. Jadikanlah dia sebagai anakmu, maka dia menjadi milikmu. Sebagai gantinya, serahkan kepada kami keponakanmu yang telah menyelisihi agamamu dan kepercayaan nenek moyangmu, memecah persatuan kaummu, serta menganggap tolol pikiran mereka. Kami bakal membunuhnya. Seorang laki-laki ditukar dengan seorang laki-laki.”

Abu Thalib merespons, “Demi Allah, sungguh jelek sekali tawaran kalian kepadaku! Apakah kalian memberikan anak kalian kepadaku agar saya memberi makan dan membesarkannya untuk kalian, sementara saya memberikan anakku kepada kalian agar kalian membunuhnya? Demi Allah, perihal ini tidak bakal pernah terjadi.”

al-Muth’im bin ‘Adi bin Naufal bin ‘Abdu Manaf (المطعم بن عدي بن نوفل بن عبد مناف) kemudian berbicara kepada Abu Thalib, “Demi Allah, wahai Abu Thalib, kaummu telah bertindak setara kepadamu. Mereka telah bersungguh-sungguh mencari jalan keluar dari sesuatu yang engkau tidak sukai. Namun saya memandang engkau sama sekali tidak mau menerima apa pun dari mereka.”

Abu Thalib lampau menjawab, “Demi Allah, kalian tidak bertindak setara kepadaku. Akan tetapi, tampaknya engkau telah berkeinginan untuk meninggalkanku dan membantu mereka melawanku. Maka lakukanlah apa yang menurutmu pantas.”

Kegagalan perundingan dan awal gangguan langsung

Ketika pembesar kafir Quraisy kandas dalam beragam perundingan tersebut dan tidak sukses meyakinkan Abu Thalib agar mencegah Rasulullah ﷺ serta menghentikannya dari berceramah kepada Allah, mereka akhirnya memutuskan untuk menempuh jalan yang sebelumnya berupaya mereka hindari lantaran takut terhadap akibat dan konsekuensinya. Jalan itu adalah melakukan serangan secara langsung terhadap pribadi Rasulullah ﷺ. Dari sinilah permusuhan Quraisy memasuki tahap baru menuju gangguan langsung terhadap Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin.

[Bersambung]

KEMBALI KE BAGIAN 1

***

Penulis: Fajar Rianto

Artikel Kincai Media

Referensi:

ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri jenis revisi penulis 1415 H/1994 M.

Is’āf al-Akhyār bimā Isytahara wa lam Yashih min al-Ahādits wa al-Ātsār wa al-Qashash wa al-Asy’ār, karya Muhammad bin Abdullah Bāmūsā.

Artikel Lainnya Akidah dan Sunnah
↑
Close Right Ads
Close Left Ads