Bagaimana Hong Kong Menjadi Pusat Sinema Asia pada 1980–1990an

Review Movie Terbaru oleh Waktu baca 9 menit 512x dilihat
Bagaimana Hong Kong Menjadi Pusat Sinema Asia pada 1980–1990an

Bagikan Postingan

Pada 1980-an hingga 1990-an, Hong Kong bukan sekadar mempunyai industri movie yang sibuk. Kota ini menjadi salah satu pusat sinema paling krusial di Asia—tempat movie diproduksi dalam jumlah besar, aliran berkembang sangat cepat, bintang baru lahir nyaris setiap tahun, dan style visualnya kemudian memengaruhi sineas dari Hollywood hingga Asia Timur.

Hong Kong Film Archive menyebut 1980-an sebagai golden era sinema Hong Kong. Dalam periode 1980–1982 saja, tercatat 328 movie fiksi dan 11 dokumenter produksi Hong Kong, alias rata-rata lebih dari 110 movie lokal per tahun. Memasuki awal 1990-an, produksi apalagi mencapai puncak 242 movie pada 1993.

Yang membikin periode ini spesial bukan hanya volumenya. Hong Kong sukses menciptakan ekosistem di mana sinema komersial dan penelitian artistik tidak selalu berada di dua kutub yang berbeda.

Industri yang Cepat, Kompetitif, dan Sangat Fleksibel

Pada awal 1980-an, Shaw Brothers, Golden Harvest, dan Cinema City menjadi kekuatan utama industri. Kompetisi antarstudio dan jaringan bioskop mendorong produksi yang garang sekaligus kebutuhan untuk terus menawarkan sesuatu yang baru kepada penonton. Hong Kong Film Archive mencatat bahwa movie lokal pada awal dasawarsa tersebut apalagi bisa mengungguli movie asing di box office domestik.

Berbeda dari model studio Hollywood yang relatif lebih besar dan birokratis, produksi Hong Kong dikenal sigap dan adaptif. Film dapat memadukan komedi, aksi, horor, romansa, melodrama, dan khayalan dalam satu paket tanpa terlalu terikat pada pemisah genre.

Cinema City menjadi salah satu contoh paling jelas. Perusahaan yang didirikan pada awal 1980-an itu membangun reputasi lewat pendekatan kolektif dalam penulisan dan produksi, serta intermezo berkonsep tinggi seperti “Aces Go Places” (1982). Hanya dalam delapan movie pertamanya, Cinema City telah menghasilkan sekitar HK$27 juta di box office.

Sementara Golden Harvest mempunyai warisan dunia dari era Bruce Lee dan kemudian menjadi rumah bagi Jackie Chan serta beragam produksi tindakan besar. D & B Films, yang berdiri pada 1984, ikut memperluas ekosistem dengan memproduksi blockbuster sekaligus movie berbiaya lebih mini dan lebih eksperimental.

The Butterfly Murders

Hong Kong New Wave Mengubah Bahasa Sinema Lokal

Fondasi artistiknya sebenarnya mulai terbentuk pada akhir 1970-an melalui Hong Kong New Wave.

Generasi baru filmmaker—banyak yang belajar movie di luar negeri lampau bekerja di televisi—membawa pendekatan berbeda. Mereka mulai mengarahkan kamera pada Hong Kong kontemporer: kota, kriminalitas, kelas sosial, identitas, kekhawatiran politik, dan kehidupan sehari-hari.

Hong Kong Film Archive menyebut aktivitas ini sebagai transformasi besar yang mengubah perfilman lokal dalam waktu relatif singkat.

Salah satu figur sentralnya adalah Tsui Hark. “The Butterfly Murders” (1979) menjadi salah satu movie yang menandai lahirnya New Wave, sementara “Zu Warriors from the Magic Mountain” (1983) menggabungkan mitologi Tiongkok dengan teknologi pengaruh visual yang lebih modern. “Peking Opera Blues” (1986) kemudian memperlihatkan kemampuannya melebur aksi, komedi, sejarah, politik, dan permainan kelamin dalam satu film.

Tsui kemudian kembali menghidupkan pahlawan rakyat Wong Fei-hung melalui “Once Upon a Time in China” (1991), menjadikan wuxia dan kung fu bukan sekadar nostalgia, tetapi medium untuk membicarakan modernisasi dan identitas Tiongkok.

Filmmaker New Wave lain seperti Ann Hui memilih jalur berbeda. Melalui “Boat People” (1982), “Song of the Exile” (1990), dan kemudian “Summer Snow” (1995), Hui membawa sensitivitas sosial, migrasi, keluarga, dan identitas ke dalam sinema yang lebih intim. Kehadiran filmmaker seperti Hui menunjukkan bahwa masa keemasan Hong Kong tidak hanya dibangun oleh movie laga.

John Woo dan Lahirnya Heroic Bloodshed

Jika ada satu style Hong Kong yang kemudian paling mudah dikenali secara global, salah satunya adalah heroic bloodshed.

John Woo mengubah movie gangster menjadi tragedi romantis tentang persahabatan, loyalitas, pengkhianatan, dan kehormatan. “A Better Tomorrow” (1986), yang diproduksi Tsui Hark, menjadi kejadian besar dan pada saat itu mencetak rekor box office Hong Kong.

Dari sana lahir “The Killer” (1989) dan “Hard Boiled” (1992), dengan baku tembak koreografis, slow motion, dua pistol, burung merpati, dan kekerasan yang nyaris seperti balet. BFI mencatat bahwa karya Woo pada 1980-an dan 1990-an meningkatkan standar movie tindakan hingga Hollywood kemudian berupaya mengejarnya.

Ringo Lam menawarkan sisi yang lebih keras dan pesimistis melalui “City on Fire” (1987), “Prison on Fire” (1987), dan “Full Contact” (1992). Jika Woo memandang kekerasan melalui romantisisme, Lam lebih sering memperlihatkan bumi pidana sebagai ruang yang sadis dan tidak stabil.

Dua pendekatan tersebut membantu membentuk identitas movie pidana Hong Kong yang kemudian berpengaruh jauh melampaui wilayahnya.

Jackie Chan dan Sammo Hung Membawa Aksi ke Level Baru

Keunggulan Hong Kong juga datang dari budaya stunt dan koreografi bentuk yang nyaris tidak mempunyai tandingan pada masanya.

Jackie Chan memadukan seni bela diri, slapstick, dan stunt berisiko tinggi dalam movie seperti “Project A” (1983), “Police Story” (1985), dan “Armour of God” (1986). Kamera tidak sekadar menyembunyikan tindakan lewat editing; tubuh pemain menjadi pusat tontonan.

Sammo Hung juga berkedudukan krusial sebagai aktor, sutradara, produser, sekaligus koreografer aksi. “Wheels on Meals” (1984), “Eastern Condors” (1987), dan “Pedicab Driver” (1989) memperlihatkan gimana Hong Kong mengembangkan action cinema yang sangat fisikal tetapi tetap bisa bergerak antara komedi, drama, dan spektakel.

Tradisi inilah yang kemudian membikin stuntman, koreografer, dan sutradara tindakan Hong Kong menjadi komoditas krusial ketika Hollywood mulai mencari langkah baru merekam pertarungan.

Wong Kar-wai Membawa Hong Kong ke Jalur Arthouse Global

Pada akhir 1980-an muncul generasi yang sering disebut sebagai Hong Kong Second Wave. Jika industri arus utama bergerak dengan kecepatan tinggi, Wong Kar-wai justru menggunakan daya kota itu untuk membangun sinema yang lebih fragmentaris, romantis, dan melankolis.

Debutnya, “As Tears Go By” (1988), tetap menggunakan kerangka movie gangster. Namun “Days of Being Wild” (1990), “Chungking Express” (1994), “Fallen Angels” (1995), dan “Happy Together” (1997) perlahan membentuk bahasa visual yang sangat berbeda.

Bersama sinematografer Christopher Doyle, Wong membikin Hong Kong menjadi karakter: gang sempit, neon, restoran malam, apartemen kecil, eskalator, dan kerumunan manusia bergerak menjadi visual tentang kesenyapan di kota yang padat.

BFI menilai Wong dan filmmaker Second Wave seperti Stanley Kwan membawa estetika art-film baru yang berbincang tentang kegelisahan, kecepatan, dan ketidakstabilan kehidupan urban modern.

Kwan sendiri menghasilkan karya seperti “Rouge” (1987) dan “Center Stage” (1991), yang menggabungkan melodrama, sejarah, identitas, dan refleksi terhadap sinema itu sendiri.

The Heroic Trio

Johnnie To dan Evolusi Film Kriminal

Memasuki 1990-an, Johnnie To mulai memperkuat posisinya sebagai salah satu auteur krusial Hong Kong. Film seperti “The Heroic Trio” (1993) memperlihatkan fleksibilitasnya dalam genre, sementara berdirinya Milkyway Image berbareng Wai Ka-fai pada 1996 membuka jalan bagi movie pidana yang lebih dingin dan formal.

“The Mission” (1999), misalnya, mengurangi ledakan spektakuler ala John Woo dan menggantinya dengan komposisi ruang, ketegangan, serta ritme yang sangat presisi.

Perkembangan To menunjukkan satu karakter krusial sinema Hong Kong: aliran tidak pernah diam. Formula yang sukses selalu segera diolah kembali oleh generasi berikutnya.

Bintang yang Bisa Menjual Film ke Seluruh Asia

Hong Kong juga mempunyai sistem bintang yang sangat kuat. Chow Yun-fat dapat bergerak dari movie pidana ke drama romantis. Leslie Cheung dan Anita Mui menjadi ikon lintas musik dan film. Maggie Cheung berkembang dari bintang komersial menjadi salah satu aktris paling dihormati di sinema Asia. Andy Lau, Tony Leung Chiu-wai, Stephen Chow, Jackie Chan, Brigitte Lin, Michelle Yeoh, dan Jet Li membangun persona yang dapat dikenali audiens di banyak negara.

Hong Kong Film Archive mencatat Leslie Cheung dan Anita Mui sebagai contoh gimana film, televisi, dan Cantopop saling memperkuat selama masa keemasan tersebut.

Ekosistem ini membikin industri movie Hong Kong tidak berdiri sendiri. Soundtrack, penyanyi, televisi, majalah hiburan, iklan, dan celebrity culture bergerak berbareng sebagai satu industri budaya.

Pasar Hong Kong Tidak Pernah Hanya Hong Kong

Faktor lain yang sering dilupakan adalah pengedaran regional. Film-film Hong Kong beredar luas ke Taiwan, Asia Tenggara, Korea, Jepang, kemudian Eropa dan Amerika Serikat. Hong Kong Film Archive menyebut ekspansi internasional tersebut sebagai salah satu karakter krusial awal era emas 1980-an.

Ini menjelaskan kenapa industri lokal dengan populasi pasar domestik yang relatif mini bisa menghasilkan begitu banyak film. Produksi sejak awal mempunyai kemungkinan untuk memperoleh pendapatan dari daerah lain.

Di Indonesia dan beragam negara Asia Tenggara, jejaknya terlihat melalui ketenaran Jackie Chan, Chow Yun-fat, Stephen Chow, Andy Lau, Jet Li, hingga film-film vampire comedy, kung fu, dan gangster yang beredar lewat bioskop, televisi, VCD, serta persewaan video.

Hong Kong pada akhirnya bertindak seperti eksportir budaya terkenal jauh sebelum istilah soft power digunakan secara luas dalam percakapan pop culture Asia.

Kecemasan Menjelang 1997

Di kembali daya tersebut terdapat konteks politik yang tidak sederhana. Kesepakatan Sino-British Joint Declaration pada 1984 memastikan Hong Kong bakal dikembalikan kepada Tiongkok pada 1997. Periode menuju handover menghasilkan campuran optimisme ekonomi dan kekhawatiran terhadap masa depan.

Hong Kong Film Archive mencatat bahwa ketidakpastian politik tersebut menjadi salah satu latar krusial sinema 1980-an dan 1990-an. Bahkan intermezo yang tampak escapist dapat dibaca dalam konteks masyarakat yang sadar bahwa identitas dan struktur politik kotanya segera berubah.

Kecemasan ini datang dengan beragam bentuk. Pada Tsui Hark, dia bisa muncul lewat reinterpretasi sejarah Tiongkok. Pada Wong Kar-wai, dia terasa melalui karakter yang terus berpindah, kehilangan waktu, dan mencoba mempertahankan hubungan yang tidak permanen.

Hong Kong menjadi kota yang terus bergerak, dan sinemanya merekam emosi tersebut.

Ketika Hollywood Mulai Melihat ke Hong Kong

Pengaruhnya akhirnya bergerak ke Barat. John Woo pindah ke Hollywood dan menyutradarai “Face/Off” (1997) serta kemudian “Mission: Impossible II” (2000). Jackie Chan menjadi bintang dunia lewat “Rush Hour” (1998). Yuen Woo-ping membawa koreografi bela diri Hong Kong ke “The Matrix” (1999).

Jejaknya apalagi dapat ditemukan dalam karya Quentin Tarantino, Robert Rodriguez, Wachowski, dan banyak sutradara action modern.

Artinya, Hong Kong bukan sekadar mengikuti perkembangan sinema global. Pada periode tertentu, industri lain justru belajar dari Hong Kong gimana tubuh, kamera, editing, dan ruang dapat digunakan untuk menciptakan aksi.

Mengapa Era Itu Sulit Diulang?

Masa kejayaan tersebut mulai melemah pada 1990-an lantaran kombinasi beragam faktor: perubahan pasar regional, pembajakan, migrasi talenta, kejuaraan dari Hollywood, transformasi ekonomi Asia, serta perubahan struktur industri.

Hong Kong Film Archive menggambarkan penurunan yang drastis dari masa ketika produksi bisa mencapai sekitar 200 movie per tahun menjadi kurang dari 50 pada periode berikutnya. Namun penurunannya justru memperlihatkan sungguh luar biasanya periode sebelumnya.

Dalam rentang kurang lebih dua dekade, satu kota melahirkan John Woo, Tsui Hark, Wong Kar-wai, Ann Hui, Ringo Lam, Stanley Kwan, Johnnie To, Jackie Chan, dan Sammo Hung—filmmaker dengan pendekatan yang berbeda-beda tetapi tumbuh dari ekosistem industri yang sama.

Hong Kong menjadi pusat sinema Asia bukan lantaran mempunyai satu style tertentu. Kekuatannya justru berasal dari keahlian mengubah movie terkenal menjadi laboratorium: cepat, komersial, kadang kacau, tetapi terus bereksperimen.

Dari “Police Story” hingga “A Better Tomorrow”, dari “Peking Opera Blues” hingga “Chungking Express”, Hong Kong membuktikan bahwa sinema aliran dan sinema auteur tidak kudu hidup terpisah. Pada puncaknya, keduanya apalagi bisa tumbuh dari jalan yang sama.

Sumber: Hong Kong Film Archive; Hong Kong Government / Create Hong Kong; British Film Institute (BFI).

Artikel Lainnya Review Movie Terbaru
↑
Close Right Ads
Close Left Ads