Kincai Media– Ada penyakit yang tidak membikin tubuh demam, tetapi dapat menggerogoti hati. Ia tidak terlihat dalam hasil pemeriksaan medis, tetapi jejaknya bisa tampak dalam langkah seseorang memandang orang lain. Namanya hasad, ialah emosi tidak senang memandang orang lain memperoleh nikmat, disertai kemauan agar nikmat itu lenyap dari tangannya.
Hasad sering tumbuh diam-diam. Ia bisa muncul ketika memandang kawan mendapatkan jabatan, tetangga membeli rumah baru, kerabat memperoleh rezeki berlimpah, alias seseorang yang dulu biasa saja tiba-tiba lebih dikenal dan dihormati. Di permukaan, seseorang mungkin tetap tersenyum. Namun di dalam hati muncul pertanyaan: kenapa dia, bukan saya?
Di sinilah persoalan bermula. Hasad bukan sekadar rasa mau mempunyai sesuatu yang dimiliki orang lain. Ia adalah ketidakrelaan terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain.
Imam Abu Hamid al-Ghazali menjelaskan persoalan ini secara tajam dalam Ihya’ ‘Ulumiddin, Jilid III, laman 189. Ia mengatakan:
اعلم أنه لا حسد إلا على نعمة فإذا أنعم الله على أخيك بنعمة فلك فيها حالتان
Artinya; “Ketahuilah, bahwa hasad hanya berangkaian dengan suatu nikmat. Apabila Allah memberikan suatu nikmat kepada saudaramu, maka ada dua keadaan yang mungkin terjadi pada dirimu.”
Keadaan pertama, menurut al-Ghazali, adalah ketika seseorang membenci nikmat yang diterima orang lain dan menginginkan nikmat itu lenyap.
إحداهما أن تكره تلك النعمة وتحب زوالها وهذه الحالة تسمى حسداً فالحسد حده كَرَاهَةُ النِّعْمَةِ وَحُبُّ زَوَالِهَا عَنِ الْمُنْعَمِ عَلَيْهِ
Artinya; “Pertama, engkau membenci nikmat tersebut dan menginginkan agar nikmat itu hilang. Keadaan ini disebut hasad. Jadi, prinsip hasad adalah membenci suatu nikmat yang diterima seseorang dan menginginkan agar nikmat itu lenyap dari orang yang mendapatkannya.”
Ada perbedaan krusial yang perlu diperhatikan. Tidak semua kemauan untuk mempunyai apa yang dimiliki orang lain merupakan hasad. Al-Ghazali menjelaskan keadaan kedua:
الحالة الثانية أن لا تحب زوالها ولا تكره وجودها ودوامها ولكن تشتهي لنفسك مثلها
Artinya; “Kedua, engkau tidak menginginkan nikmat tersebut lenyap dan tidak membenci keberadaan maupun keberlangsungannya, tetapi engkau menginginkan agar dirimu juga memperoleh nikmat yang serupa.”
Dengan demikian, persoalannya bukan semata-mata pada kemauan untuk memperoleh nikmat yang sama. Yang menjadi masalah adalah ketika hati tidak sanggup menerima realita bahwa Allah memberikan nikmat itu kepada orang lain.
Seseorang boleh berambisi memperoleh kekayaan seperti orang kaya. Ia boleh bercita-cita mempunyai pengetahuan seperti seorang ulama. Ia boleh berambisi mendapatkan kedudukan yang baik seperti orang lain. Tetapi dia tidak boleh berambisi agar kekayaan orang itu musnah, ilmunya hilang, alias kedudukannya runtuh hanya agar dirinya merasa lebih baik.
Di sinilah Islam membedakan antara ghibah, kemauan mendapatkan kebaikan serupa tanpa berambisi kebaikan itu lenyap dari orang lain dan hasad yang menghendaki lenyapnya nikmat dari orang lain.
Hasad Tidak Mengurangi Nikmat Orang Lain
Ironisnya, orang yang dengki sering kali justru menjadi korban pertama dari kedengkiannya sendiri. Orang yang dia dengki mungkin tetap kaya. Orang yang dia iri tetap mempunyai jabatan. Orang yang dia tidak suka tetap memperoleh penghargaan. Sementara itu, dia sendiri hidup dalam kegelisahan lantaran pikirannya terus sibuk menghitung nikmat orang lain.
Al-Ghazali mengutip perkataan sebagian ulama:
وَقَالَ بَعْضُهُمْ الْحَاسِدُ لَا يَنَالُ مِنَ الْمَجَالِسِ إِلَّا مَذَمَّةً وَذُلًّا وَلَا يَنَالُ مِنَ الْمَلَائِكَةِ إِلَّا لَعْنَةً وَبُغْضًا وَلَا يَنَالُ مِنَ الْخَلْقِ إِلَّا جَزَعًا وَغَمًّا وَلَا يَنَالُ عند النزع إلا شدة وهولاً وَلَا يَنَالُ عِنْدَ الْمَوْقِفِ إِلَّا فَضِيحَةً وَنَكَالًا
“Sebagian ustadz berkata, ‘Orang yang dengki tidak memperoleh apa-apa dari majelis-majelis selain hinaan dan kehinaan. Ia tidak memperoleh dari para malaikat selain laknat dan kebencian. Ia tidak memperoleh dari manusia selain kegelisahan dan kesedihan. Ketika menghadapi kematian, dia tidak memperoleh apa-apa selain kesulitan dan ketakutan yang dahsyat. Dan ketika berada di tempat perhentian pada hari kiamat, dia tidak memperoleh apa-apa selain kehinaan dan hukuman.’” (Ihya’ ‘Ulumiddin, Jilid III, hlm. 189).
Kutipan tersebut menunjukkan sungguh hasad bukan hanya persoalan hubungan sosial, tetapi juga penyakit spiritual. Ia membikin seseorang kehilangan ketenangan lantaran kebahagiaannya berjuntai pada keadaan orang lain.
Jika orang lain naik, dia gelisah. Jika orang lain dipuji, dia tersiksa. Jika orang lain berhasil, dia kecewa. Bahkan ketika dirinya sendiri memperoleh nikmat, dia tetap tidak merasa cukup selama memandang orang lain mempunyai sesuatu yang lebih.
Pada titik tertentu, hasad membikin manusia hidup bukan untuk menikmati karunia Allah, melainkan untuk mengawasi karunia yang diberikan kepada orang lain.
Lebih jauh, Al-Qur’an mengabadikan kejadian hasad dalam Surah al-Nisa ayat 54. Allah berfirman:
اَمْ يَحْسُدُوْنَ النَّاسَ عَلٰى مَآ اٰتٰىهُمُ اللّٰهُ مِنْ فَضْلِهٖۚ فَقَدْ اٰتَيْنَآ اٰلَ اِبْرٰهِيْمَ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَاٰتَيْنٰهُمْ مُّلْكًا عَظِيْمًا
Artinya; “Ataukah mereka dengki kepada manusia lantaran karunia yang telah dianugerahkan Allah kepadanya? Sungguh, Kami telah menganugerahkan kitab dan hikmah kepada family Ibrahim dan Kami telah menganugerahkan kerajaan (kekuasaan) yang sangat besar kepada mereka.” (QS. al-Nisa’: 54)
Ayat ini mengandung pesan, bahwa nikmat pada hakikatnya adalah pemberian Allah. Ketika seseorang dengki terhadap nikmat yang diterima orang lain, persoalannya bukan lagi sekadar hubungan antara dirinya dan orang tersebut. Ada dimensi ketuhanan yang ikut tersentuh: kenapa Allah memberikan karunia itu kepadanya?
Tentu, bukan berfaedah setiap orang yang merasa iri secara otomatis telah menentang Allah. Namun hasad yang dipelihara dapat menyeret hati kepada sikap tidak menerima pembagian karunia yang telah Allah tetapkan.
Karena itu, obat pertama dari hasad adalah menyadari bahwa kehidupan manusia memang tidak dirancang dengan pembagian nikmat yang seragam.
Allah memberi seseorang ilmu, tetapi mungkin tidak memberinya kekayaan. Allah memberi orang lain kekayaan, tetapi mungkin tidak memberinya ketenangan. Seseorang memperoleh popularitas, sementara yang lain mendapatkan kehidupan yang sederhana tetapi tenteram.
Manusia sering hanya memandang nikmat yang tampak. Ia tidak memandang keseluruhan kehidupan orang yang menjadi objek kedengkiannya.
Hasad adalah Dosa Pertama Umat Manusia
Murtadha al-Zabidi dalam Ithaf al-Sadat al-Muttaqin mengutip pernyataan sebagian ustadz salaf tentang akar persoalan hasad. Ia menyebut bahwa dosa pertama yang terjadi adalah hasad. Itu terjadi pada masa Nabi Adam, antara anaknya Habil dan Qabil. Pun, terjadi ketika Iblis iri hati memandang Nabi Adam.
قال بعض السلف: إن أول خطيئة كانت هي الحسد
Artinya; “Sebagian ustadz salaf berkata: Sesungguhnya dosa pertama yang pernah terjadi adalah kedengkian (hasad).”
Al-Zabidi kemudian menjelaskan:
حسد إبليس آدم على ما شرفه وآتاه من فضله، فأبى أن يسجد له فحمله على المعصية
Artinya; “Iblis merasa dengki kepada Adam atas kemuliaan yang diberikan kepadanya dan keistimewaan yang dianugerahkan Allah kepadanya. Lalu Iblis enggan bersujud kepadanya, sehingga kedengkian itu mendorongnya melakukan kemaksiatan.”
Al-Zabidi menutup penjelasan tersebut dengan ungkapan:
فَهُنَّ أَصْلُ الْخَطِيئَةِ
“Maka itulah asal mula dosa.” (Ithaf al-Sadat al-Muttaqin, Jilid VIII, hlm. 55).
Kisah Iblis dan Adam memberikan gambaran paling ekstrem tentang gimana penyakit hati dapat berubah menjadi pembangkangan. Iblis bukan tidak mengetahui Allah. Ia bukan tidak mengenal kebesaran-Nya. Persoalannya adalah dia tidak menerima kemuliaan yang diberikan Allah kepada Adam.
Lebih jauh, Nabi Muhammad memberikan peringatan tentang ancaman hasad. Kata Nabi, penyakit iri hati alias dengki itu bakal menyantap kebaikan yang pernah kita lakukan, seperti api yang membakar kayu bakar. Tak tersisa. Hanya ada abu:
إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
“Jauhilah oleh kalian sifat hasad, lantaran sesungguhnya hasad itu menyantap kebaikan sebagaimana api menyantap kayu bakar.” (HR. Abu Dawud).
Seseorang mungkin giat beribadah, banyak bersedekah, menghadiri majelis ilmu, dan melakukan beragam kebaikan. Tetapi jika semua itu hidup berdampingan dengan hati yang terus membenci keberhasilan orang lain, dia menghadapi persoalan serius dalam kehidupan batinnya.
Hasad juga mudah berkembang menjadi penyakit sosial. Dari hati dia bergerak menuju lisan: meremehkan, mencela, menyebarkan keburukan, dan mencari-cari kesalahan. Dari lisan dia dapat bergerak menuju tindakan: menghalangi, menjatuhkan, memfitnah, apalagi melakukan kezaliman.
Karena itu, salah satu langkah melawan hasad adalah mengubah pertanyaan dalam hati. Bukan lagi, “Mengapa dia mendapatkan itu?” tetapi, “Apa yang bisa saya pelajari dari nikmat yang Allah berikan kepadanya?”
Bukan, “Kapan nikmat itu hilang?” tetapi, “Bagaimana saya memperoleh karunia Allah dengan langkah yang legal dan baik?”
Dan bukan, “Mengapa Allah tidak memberiku seperti dia?” tetapi, “Nikmat apa yang selama ini telah Allah berikan kepadaku tetapi kandas kusyukuri?”
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini mengubah iri menjadi motivasi dan mengubah komparasi menjadi pembelajaran.
Karena itu, obat hasad bukan sekadar memaksa diri agar tidak iri. Ia memerlukan latihan batin: memperkuat syukur, memperbanyak angan untuk kebaikan orang lain, menahan lisan dari mencela, dan menyadari bahwa rezeki manusia tidak pernah menjadi perlombaan yang pembagiannya ditentukan oleh manusia.