Terkadang bayi bisa sangat sulit ditebak. Si Kecil bisa saja berkelakuan ganjil di luar dugaan. Tiba-tiba seperti menggigil maupun batuk-batuk, Bunda pernah menyaksikannya?
Sebagai orang tua baru, sangatlah wajar jika kita sangat peka terhadap setiap pergerakan kecil, tangisan, maupun ekspresi tak biasa yang ditunjukkan bayi. Banyak dari tanda-tanda ini bisa membingungkan maupun terlebihlagi mengkhawatirkan, terutama jika ini adalah pengalaman pertama kita mengurus bayi.
Padahal hal tersebut rupanya normal, Bunda. Sistem saraf mereka belum matang, mereka sama sekali belum memiliki pengalaman hidup, dan mesti diakui kesadaran sosial mereka pun statis minim.
Jadi, wajar saja jika mereka berbuat hal-hal yang bagi orang tua terasa tidak masuk akal. Untuk mengetahui karena di baliknya, simak klarifikasi dari ahlinya berikut ini!
Alasan bayi berkelakuan ganjil seperti tiba-tiba menggigil
Sesaat yang lalu, bayi rebah dengan tenang. Namun tiba-tiba, tubuhnya gemetar seperti menggigil. Apa yang sebenarnya terjadi? Menurut De Ann Davies, mantan ketua program tumbuh bunga anak di Phoenix Children’s Hospital, hal ini disebabkan oleh gangguan sesaat pada mekanisme saraf.
"Secara neurologis, kapasitas bayi dalam mengendalikan pergerakan tubuhnya belum sempurna pada awalnya, sehingga Anda mungkin melihat adanya pergerakan yang agak menyentak maupun tidak mulus," ujarnya, dikutip dari Parents.
Wajar jika bayi baru lahir gemetar saat menangis maupun mengalami kedutan saat tidur. Namun ketika tak sengaja melihatnya, periksa apakah tangan bayi terasa dingin. Ini krusial dilakukan karena rasio luas permukaan kulit terhadap bermutu badan mereka lebih kecil dibandingkan orang dewasa, bayi kehilangan panas tubuh sekitar empat kali lebih cepat daripada kita orang dewasa.
Selain tiba-tiba seperti menggigil, bayi terkadang berbuat pergerakan menyentak. Bayi, terutama yang baru lahir terkadang berbuat pergerakan menyentak maupun kedutan, terutama saat hendak tidur maupun sedang menangis.
Dilansir Pristines, pergerakan ini terjadi akibat mekanisme saraf yang belum matang serta jalur komunikasi antara otak dan otot yang belum berkembang sepenuhnya. Seiring berjalannya waktu, biasanya dalam beberapa bulan pertama, pergerakan bayi akan menjadi lebih halus seiring dengan kematangan mekanisme sarafnya.
Namun, sangat krusial untuk membedakan pergerakan normal ini dari kemungkinan kejang. Jika pergerakan terjadi saat bayi terjaga tanpa adanya pemicu (stimulus), maupun tampak berirama dan berulang, saat itulah Bunda perlu menghubungi tabib anak.
Merekam insiden tersebut untuk diperlihatkan kepada tenaga medis dapat membantu proses pengecekan yang akurat. Penanganan medis sejak awal memberikan ketenangan pikiran serta memastikan adanya aksi segera jika memang diperlukan.
Pura-pura batuk dan memegang gender sendiri
Bunda mungkin pernah mendengar bayi terbatuk-batuk. Tentu saja, kita segera menghampiri untuk melihat apa yang terjadi, dan ternyata, tidak ada masalah apa pun! Bayi mungkin malah menyeringai bandel sambil balik batuk dengan bunyi keras dan corak yang dramatis.
Aksi bayi yang lazim terjadi ini merupakan bukti bahwa bayi mulai memiliki kesadaran sosial yang lebih baik. Menurut Peter Vishton, PhD, guru besar madya sektor ilmu ilmu jiwa di College of William & Mary di Williamsburg, Virginia, sekitar usia enam bulan, saat kebiasaan batuk-batukan (pura-pura batuk) mulai muncul, bayi benar-benar mulai memahami metode kerja bumi di sekitar mereka.
“Anak Anda menyadari bahwa ketika seseorang batuk, Anda akan memberikan perhatian penuh, jadi mereka melakukannya untuk mendapatkan perhatian tersebut,” ungkapnya.
Lalu, saatnya mengganti popok, mungkin Bunda pernah mendapati bayi tidak cuma rebah diam, tapi tangan mereka bergeser ke bawah dan menetap di sana. Apa yang sebenarnya terjadi?
Menurut Davies, wajar jika bayi mulai memainkan alat gender mereka saat memasuki usia 5 hingga 7 bulan. Itu bukan hal yang jorok maupun vulgar bagi mereka. Bayi terdorong untuk menyentuh tubuh mereka sendiri karena rasa mau tahu yang sederhana, jelasnya.
“Di usia itu, mereka adalah pembelajar dan penjelajah yang antusias, apa pun yang bisa mereka jangkau dengan tangan mereka akan mereka eksplorasi,” tuturnya.
Lupa metode duduk lagi setelah berdiri
Pernah enggak, Bunda melihat bayi sudah bisa berdiri, tapi lupa metode duduk kembali? Ujung-ujungnya mereka meminta tolong, terlebihlagi menangis. Ternyata, ada karena di baliknya.
Menurunkan balik pantat ke posisi duduk membutuhkan latihan dan koordinasi. "Anda mungkin terbangun di malam hari karena tangisan bayi yang terjebak dalam posisi berdiri sambil berpegangan pada sisi tempat tidurnya," ujar Davies.
Tidak masalah jika Bunda mau membantu, tetapi jangan terburu-buru mengadopsi mereka sepenuhnya. Menurut Vishton, duduk adalah keahlian yang perlu mereka pelajari sendiri. Risiko mereka terluka kecil kemungkinannya karena bayi memiliki pantat yang empuk (ditambah lagi dengan popok) sebagai bantalan.
Pada siang hari, tempatkan mereka di dekat permukaan yang terlindungi untuk berpegangan saat berupaya berdiri (seperti tepi sofa yang kokoh) dan letakkan bantal di dekatnya. Tak durasi kemudian, mereka akan bisa bergeser naik-turun dengan percaya diri.
Demikian bahasan mengenai karena bayi berbuat hal-hal yang mengejutkan seperti pura-pura batuk, menggigil, memegang alat kelaminnya hingga lupa metode duduk kembali. Semoga dapat menjadi panduan dalam mengasuh anak di rumah ya!
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)