Bekal Menjadi Pemimpin Terbaik (Bag 3): Manajemen Tim dan Waspadai Penjilat

Akidah dan Sunnah oleh Waktu baca 6 menit 504x dilihat
Bekal Menjadi Pemimpin Terbaik (Bag 3): Manajemen Tim dan Waspadai Penjilat

Bagikan Postingan

Tidak hanya kepada Allah ﷻ, tetapi pemimpin pun kudu meletakkan kepercayaan kepada bawahannya

ولا تتهمن أحدا من الناس فيما توليه من عملك قبل أن تكشف أمره

“Janganlah engkau mencurigai siapapun yang bekerja untukmu mengenai tugas yang telah engkau percayakan kepadanya, sebelum engkau memastikan apa yang sebenarnya terjadi dengannya.”

Mencurigai orang-orang yang tak bersalah dan berprasangka jelek kepada mereka merupakan perbuatan dosa. Maka, jadikanlah berbaikan sangka kepada teman-temanmu sebagai bagian dari tugasmu. Buanglah suuzhan (berprasangka buruk) kepada mereka, niscaya itu bakal membantumu meningkatkan keahlian mereka.

Jangan biarkan setan, musuh Allah, menemukan jalan masuk ke dalam urusanmu. Sedikit saja kelemahanmu itu sudah cukup bagi setan. Dia bakal memasukkan semacam kesedihan kepada dirimu melalui sikap berburuk sangka terhadap mereka, sehingga itu bakal mengganggu kenyamanan hidupmu.

واعلم أنك تجد بحسن الظن قوة وراحة وتكفى به ما أحببت كفايته من أمورك وتدعو به الناس إلى محبتك والاستقامة في الأمور كلها لك

“Ketahuilah bahwa berbaikan sangka bakal memberimu kekuatan dan ketenteraman. Dengan berhusnuzan, engkau bakal terbantu dalam menangani beragam urusan yang mau engkau selesaikan. Dan dengannya pula, manusia bakal terdorong untuk mencintaimu serta bersikap lurus dan baik dalam seluruh hubungan mereka denganmu.”

Nasihat Thahir ini relevan dengan saran para mahir bagian kepemimpinan. Seorang pemimpin kudu memberikan kepercayaan kepada timnya untuk mengerjakan amanahnya. Apabila seorang pemimpin tidak mempercayai timnya, ini justru melahirkan langkah yang tidak baik dalam manajemen yang disebut micro-management. Ini adalah tindakan pemimpin yang terlalu mengatur urusan dan produktivitas timnya dalam bekerja. Tindakan micro-managing selalu berhujung pada hasil kerja yang tidak optimal.

Tetap lakukan pengawasan yang proporsional dalam tim

Panduan manajemen tim ini dilengkapi lagi dalam wasiat Thahir berikut ini:

“Jangan biarkan sikap baik sangkamu kepada orang-orang di sekitarmu dan rasa sayangmu kepada rakyatmu mencegahmu untuk bertanya dan memeriksa urusanmu. Menangani langsung masalah-masalah yang tak tertangani oleh para pejabatmu, melindungi rakyat, memperhatikan kebutuhan mereka, dan menanggung keperluan mereka, itu bagimu lebih mudah dari apa pun. Sesungguhnya perihal itu lebih membantu penegakan kepercayaan dan lebih menghidupkan sunah Nabi.”

Prinsip yang dibawakan Tahir ini adalah asas kepercayaan + asas memudahkan siapapun. Karena memudahkan urusan tim yang kesulitan, jika kita memang mampu, adalah refleksi dari sunah Nabi ﷺ.

مَن كانَ في حاجَةِ أخِيهِ كانَ اللَّهُ في حاجَتِهِ، ومَن فَرَّجَ عن مُسْلِمٍ كُرْبَةً، فَرَّجَ اللَّهُ عنْه بها كُرْبَةً مِن كُرَبِ يَومِ القِيامَةِ

“Barangsiapa yang memenuhi rencana seorang saudaranya, Allah bakal penuhi hajatnya. Barangsiapa yang melepaskan kesulitan seorang muslim, maka Allah bakal melepaskan kesulitannya pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Thahir melanjutkan wasiatnya:

“Ikhlaskanlah niatmu dalam semua ini. Berilah perhatian unik untuk meningkatkan dirimu sebagai pribadi, yang menyadari bahwa dia bakal dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya, bahwa dia bakal diberi pahala untuk perbuatan baiknya, dan bakal dihukum lantaran perbuatan buruknya. Sesungguhnya Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahaagung menjadikan kepercayaan sebagai perlindungan dan kekuatan. Dia mengangkat orang yang mengikuti dan memuliakan-Nya.”

Wasiat untuk menjalankan pemerintahan dengan memperhatikan nilai-nilai Islam dan meninggalkan bidah

Oleh lantaran itu, berjalanlah berbareng orang yang engkau pimpin dan engkau urus melalui jalur kepercayaan dan metode petunjuk. Terapkan balasan hudud terhadap para penjahat sesuai tingkatan mereka dan apa yang layak bagi mereka. Jangan abaikan perihal itu, dan jangan meremehkannya. Janganlah engkau menunda balasan orang-orang yang kudu dihukum. Jika engkau kandas dalam perihal ini, gambaran baikmu bakal rusak.

واعزم على أمرك في ذلك بالسنن المعروفة وجانب الشبه والبدعات يسلم لك دينك وتقم لك مروءتك

“Dalam perihal ini, pastikan tindakanmu dipandu oleh sunah yang dikenal. Hindarilah bid’ah dan syubhat, sehingga agamamu selamat bagimu dan kehormatanmu tegak.”

Jika engkau telah mengikat suatu perjanjian, penuhilah. Jika engkau telah berjanji melakukan baik, laksanakanlah. Terimalah kebaikan dan balaslah dengan kebaikan pula. Tutup matamu dari memandang abnormal yang mungkin dimiliki rakyatmu.

Jangan mendusta dan hati-hati dari para pembohong

Tahan lidahmu dari ucapan bohong dan palsu. Bencilah orang-orang yang suka memfitnah. Sesungguhnya awal kegagalan urusanmu, baik di bumi ini maupun di akhirat, terjadi setelah engkau memberikan akses kepada pembohong alias berani berbohong. Sebab, mendusta adalah pangkal segala dosa, sementara tuduhan dan adu domba merupakan ujungnya. Fitnah tidak bakal membikin selamat orang yang melakukannya dan yang mengatakannya. Teman yang mendengarkan tuduhan tidak bakal selamat. Urusan orang yang suka memfitnah pun tidak bakal bekerja dengan baik .

Wasiat ini sangatlah relevan dengan era ini. Banyak sekali buletin bohong yang tersebar di masyarakat, apalagi yang sampai kepada para pemimpin. Maka, seorang pemimpin hendaklah berhati-hati jangan sampai melakukan dua hal:

Pertama: Menerima berita bohong dan bertindak berasas itu;

Kedua: Memproduksi kebohongan.

Seorang pemimpin kudu mempunyai perangkat untuk tatsabbut dan tabayyun. Allah ﷻ berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِن جَآءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوٓا۟ أَن تُصِيبُوا۟ قَوْمًۢا بِجَهَٰلَةٍ فَتُصْبِحُوا۟ عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَٰدِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar Anda tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan Anda menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Pelajari masalah prinsip ini pada artikel, “Asas Dakwah dan Menghadapi Perselisihan”

Telah berlalu dari era ke zaman, para penjilat di sekitar penguasa bakal mereproduksi berita agar sesuai dengan gairah si penjilat sehingga kepentingannya terpenuhi. Sebagaimana yang terjadi dengan Imam Ahmad dan Ibnu Taimiyah rahimahumallah yang menyebabkan mereka dihukum oleh para penguasa lantaran bisikan ustadz suu’.

Di sisi lain, para penguasa juga sangat rentan untuk melakukan bohong, di antaranya untuk menutupi suatu realita yang sebenarnya tidak esensial, tetapi menciderai kesempurnaan kekuasaannya. Sebagaimana yang terjadi pada raja-raja Mesir yang menutupi sejarah kepemimpinan seorang ratu, hanya lantaran mau melegitimasi kepemimpinannya berbasis darah kerajaan murni. Hal ini terjadi pada beragam rezim dan zaman.

Namun, sejatinya seorang pemimpin tidak memerlukan ketidakejujuran untuk melegitimasi kekuasaannya. Dan sangat besar ancaman bagi seorang pemimpin yang berbohong. Nabi ﷺ bersabda,

ثَلاثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمْ اللَّه يوْمَ الْقِيَامةِ، وَلاَ يُزَكِّيهِمْ، وَلا ينْظُرُ إلَيْهِمْ، ولَهُمْ عذَابٌ أليمٌ: شَيْخٌ زَانٍ، ومَلِكٌ كَذَّابٌ، وَعَائِل مُسْتَكْبِرٌ

“Ada tiga golongan manusia yang mereka kelak tidak bakal diajak bicara oleh Allah ﷻ di hari hariakhir kelak. Allah tidak bakal menyucikan mereka, dan Allah tidak bakal memandang mereka dengan penglihatan rahmat dari Allah ﷻ. Dan bagi mereka balasan yang pedih. Tiga golongan itu adalah: 1) seorang tua yang berzina; 2) raja alias penguasa pendusta; 3) family miskin yang sombong.” (HR. Muslim)

Tidak hanya pemimpinnya, tetapi orang yang membantu pemimpin untuk berbohong dan curang bakal mendapatkan ancaman besar. Nabi ﷺ bersabda,

إِنَّهَا سَتَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ يَكْذِبُونَ وَيَظْلِمُونَ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ بِكِذْبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ بِوَارِدٍ عَلَيَّ الْحَوْضَ

“Sesungguhnya bakal ada setelahku para pemimpin yang berbohong dan zalim. Barangsiapa mendatangi mereka, kemudian membenarkan ketidakejujuran mereka, alias membantu mereka dalam kezalimannya, maka dia bukan dari golonganku dan saya bukan dari golongannya. Serta dia tidak bakal minum dari telagaku.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, An-Nasai, dan disahihkan Al-Albani)

Sebaliknya, dalam sabda ini disebutkan, orang yang tidak mendukung kezaliman dan kedustaan itu, niscaya bakal mendapatkan kesempatan menyeruput air dari telaga Nabi ﷺ.

Cintailah kejujuran dan orang jujur

Cintailah orang-orang yang baik dan yang jujur. Muliakanlah orang-orang yang mulia dengan benar. Kasihilah orang-orang yang lemah. Sambunglah silaturahmi. Usahakanlah dengan itu untuk dapat memandang wajah Allah Yang Mahatinggi dan memuliakan perintah-Nya. Carilah di dalamnya pahala-Nya dan kampung akhirat.

Wasiat Thahir ini mengandung pesan untuk menjaga keadilan bersikap. Thahir bakal banyak mengulangi wasiat bersikap setara dalam banyak konteks ke depannya. Tidak lupa selalu wasiat itu dilengkapi dengan pengingat agar senantiasa tulus dalam menjalankannya. Karena tiada faedah dari kebaikan yang berat sekalipun dikerjakan jika tidak dilandasi dengan keagamaan yang murni.

[Bersambung]

KEMBALI KE BAGIAN 2

***

Penulis: Glenshah Fauzi

Artikel Kincai Media

Artikel Lainnya Akidah dan Sunnah
↑
Close Right Ads
Close Left Ads