Bagian emas dari wasiat Thahir
Paragraf yang mengalir di bawah ini adalah bagian paling spesial menurut penulis. Kekuasaan condong menghadirkan rasa serakah pada pribadi. Sementara kenikmatan bumi selalu menuntut saudarinya. Sebagaimana yang diisyaratkan oleh Nabi ﷺ, andaikan sudah mendapatkan satu gunung emas, jiwa manusia mau mendapatkan dua alias lebih gunung lainnya. Lantas, gimana mencegah gairah ini? Simak wasiat Thahir berikut.
Menjaga keadilan dan mengontrol hawa nafsu sebagai pondasi kepemimpinan
Hindarilah keburukan hawa nafsu dan ketidakadilan. Jauhkan panjimu dari keduanya. Tunjukkan kepada rakyatmu bahwa engkau bebas dari perihal itu. Anugerahkan nikmat keadilan dalam mengatur mereka. Perlakukan mereka dengan kebaikan dan dengan pengetahuan yang bakal membawamu mencapai jalan petunjuk.
Wasiat ini meliputi perintah memimpin dengan setara dan mengedepankan pengetahuan pengetahuan dibandingkan perasaan. Hal ini terlihat dalam lanjutan wasiatnya:
1) Kendalikan dirimu ketika marah;
2) Utamakan kebijaksanaan dan kelembutan;
3) Waspadalah terhadap sikap kasar, sembrono, dan tipu daya dalam perkara yang engkau terlibat di dalamnya.
Contoh dari perbuatan yang tidak terkontrol logika adalah ketika seseorang mengatakan, “Aku diberi kekuasaan, maka saya bakal melakukan apa yang saya inginkan!” Perkataan ini menunjukkan kurangnya pertimbangan logis dan sedikitnya kepercayaan kepada Allah ﷻ.
Obat agar tidak otoriter dalam memimpin
Thahir mengingatkan diri seorang pemimpin yang berhasrat untuk semena-mena dengan wasiat takwa:
Ikhlaskan niatmu untuk Allah dan keyakinanmu kepada-Nya. Ketahuilah, kekuasaan itu milik Allah. Dia memberikannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan mengambilnya dari siapa saja yang Dia kehendaki.
ولن تجد تغير النعمة وحلول النقمة إلى أحد أسرع منه إلى حملة النعمة من أصحاب السلطان والمبسوط لهم في الدولة
“Engkau sama sekali tidak bakal menemukan perubahan dari nikmat menjadi siksa dan dari siksa menjadi nikmat, yang terjadi atas seseorang, lebih sigap dari yang terjadi kepada para penguasa dan orang-orang yang menikmati posisi baik dalam pemerintahan.”
Tabungan terbaik adalah kebaikan jariyah, bukan penyimpanan harta
Ini adalah salah satu potongan emas dari wasiat Thahir bin Al-Husain, semoga menjadi pengingat bagi kita semua yang mengurus rencana orang banyak.
ولتكن ذخائرك وكنوزك التي تدخر وتكنز البر والتقوى والمعدلة واستصلاح الرعية وعمارة بلادهم والتفقد لأمورهم والحفظ لدهمائهم والإغاثة لملهوفهم
“Hendaklah yang menjadi kekayaan simpanan dan kekayaanmu yang engkau kumpulkan dan timbun adalah kebajikan, ketakwaan, perbaikan rakyat, pembangunan negeri mereka, pengawasan urusan mereka, perlindungan darah mereka, dan support atas orang-orang lemah di antara mereka.”
واعلم أن الأموال إذا كثرت وذخرت في الخزائن لا تثمر وإذا كانت في إصلاح الرعية وإعطاء حقوقهم وكف المئونة عنهم نمت وربت وصلحت به العامة
“Ketahuilah bahwa kekayaan benda, andaikan hanya dikumpulkan dan disimpan di dalam perbendaharaan, maka dia tidak bakal menghasilkan manfaat. Namun, andaikan diinvestasikan untuk kesejahteraan rakyat, memberikan hak-hak mereka, mencegah kesulitan dan meringankan beban mereka, maka kekayaan itu bakal berkembang dan bertambah. Lantas rakyat pun menjadi baik keadaannya.”
وتزينت به الولاة وطاب به الزمان واعتقد فيه العز والمنعة
“Dengan itu, para penguasa bakal memperoleh kemuliaan dan keelokan nama, masa kehidupan bakal menjadi baik dan tenteram, serta kemuliaan dan kekuatan bakal tertanam dan mengakar.”
فَلْيَكُنْ كَنْزُ خَزَائِنِكَ تَفْرِيقَ الْأَمْوَالِ فِي عِمَارَةِ الْإِسْلَامِ وَأَهْلِهِ
“Maka hendaklah penyimpanan hartamu sesungguhnya adalah kekayaan yang disalurkan untuk memakmurkan Islam dan kaum Muslimin.”
Susunan wasiat ini menjadi pengingat bagi para pemimpin bahwa kekayaan terbaik yang dimilikinya adalah apa yang menjadi legacy alias warisan berfaedah bagi masyarakatnya. Tidaklah motivasi seorang pemimpin itu untuk memperkaya dirinya sendiri, tetapi untuk memakmurkan rakyatnya. Bahkan, sebaik-baik kekayaan pemimpin adalah yang disalurkan untuk kemakmuran Islam dan kaum muslimin. Allahu Akbar.
Dalam penggalan wasiat lainnya, Thahir mengingatkan,
فإنما يبقى من المال ما أنفق في سبيل حقه
“Di antara semua hartamu, yang bakal tetap tersisa hanyalah apa yang betul-betul dikeluarkan di jalan Allah.”
Baca juga: Inilah 7 Amalan yang Pahalanya Terus Mengalir
Penuhi kewenangan para pejabat, perhatian kepadanya, dan berikan apresiasi
Salah satu corak mewujudkan investasi pahala adalah dengan memenuhi kewenangan para pejabat yang membantu seorang pemimpin. Karena mereka ini adalah orang yang sangat berjasa dalam kepemimpinan seorang pemimpin formal. Para pemimpin sangat memerlukan support jejeran pejabat profesional. Hak tersebut meliputi:
1) Penuhilah hak-hak pejabat pemerintahannya, sebelum hak-hakmu sendiri.
2) Perhatikan hal-hal yang mungkin dapat memperbaiki kondisi dan mata pencaharian mereka. Jika engkau melakukan perihal itu, nikmat Allah bakal selalu bersamamu. Engkau berkuasa wajib mendapatkan tambahan nikmat dari Allah ﷻ.
3) Akuilah rasa terima kasih dari orang-orang yang mengungkapkan terima kasih mereka; dan untuk itu, berilah jawaban kepada mereka.
Dengan langkah dari Thahir ini, seorang pekerja bakal merasa diperhatikan oleh pimpinannya. Ia pun bakal bekerja lebih baik dan maksimal dalam memenuhi kebutuhan pemimpinnya. Karena dia merasa tenang, karena kebutuhannya serasa ditanggung pula oleh sang pimpinan.
Perhatian pada kebutuhan seseorang itu merupakan corak afeksi dan juga apresiasi. Orang yang diapresiasi bakal selalu memberi lebih dari apa yang diekspektasikan. Hal ini pula yang disampaikan Thahir,
وكان الجمع لما شملهم من عدلك وإحسانك أساس لطاعتهم وأطيب نفسا لكل ما أردت
“Karena yang merasakan keadilan dan kebaikanmu, hatinya bakal bersatu, sehingga mereka bakal lebih mudah mematuhimu dan jiwa mereka lebih tenang menerima segala yang engkau inginkan.”
Jangan terlalaikan dari alambaka lantaran bumi dan jangan lupa bersyukur
Hati-hatilah terhadap bumi dan godaannya yang bakal membuatmu melalaikan hebatnya perkara akhirat, lampau membuatmu menyepelekan apa yang bakal menimpamu. Bersikap sepele bakal menyebabkan keteledoran, dan keteledoran bakal menyebabkan kehancuran.
Hendaklah amalmu hanya untuk Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahaagung, dan berharaplah mendapatkan pahala. Allah Yang Mahasuci telah mencurahkan nikmat-Nya bagimu. Oleh lantaran itu, berpeganglah pada dan atas rasa syukur, serta bersandarlah atasnya, niscaya Allah bakal menambahkan lebih banyak kebaikan dan perbuatan baik bagimu. Allah memberikan pahala sesuai dengan kadar rasa syukur para pelakunya dan sesuai dengan kadar perbuatan baik orang yang melakukannya.
Hal ini sejalan dengan firman Allah ﷻ,
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ
“Sesungguhnya jika Anda bersyukur, pasti Kami bakal menambah (nikmat) kepadamu; dan jika Anda mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)
[Bersambung]
***
Penulis: Glenshah Fauzi
Artikel Kincai Media