Belajar Menjadi Istri yang Pandai Bersyukur (Bag. 2)

Jul 30, 2026 11:00 AM - 3 hari yang lalu 216

Hubungan berterima kasih kepada manusia dan Allah

​Kewajiban berterima kasih kepada suami berkarakter berkepanjangan (kontinu), lantaran setiap hari seorang istri memerlukan suaminya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

​لَا يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ

​“Tidak dikatakan berterima kasih kepada Allah orang yang tidak tahu berterima kasih kepada manusia.” (HR. Abu Dawud no. 4811 dan Tirmidzi no. 1954. Disahihkan oleh Syekh Al-Albani)

​Bentuk konkret rasa syukur tersebut adalah membalas kebaikan suami dengan kalimat-kalimat yang tayib, minimal mendoakannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

​مَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ، فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ بِهِ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ

Donasi bKincai Media/b

​“Barang siapa yang melakukan baik kepadamu, maka balaslah dengan yang setimpal. Jika kalian tidak mendapati sesuatu untuk membalasnya, maka doakanlah dia sampai kalian merasa telah membalas kebaikannya.” (HR. Abu Dawud no. 1672 dan An-Nasa’i no. 2567. Disahihkan oleh Syekh Al-Albani)

Enam sifat wanita yang dibenci

​Masyarakat Arab mempunyai pepatah agar kaum laki-laki berhati-hati dan tidak menikahi enam karakter wanita berikut lantaran dapat merusak keselarasan rumah tangga,

​لَا تَنْكِحُوا مِنَ النِّسَاءِ سِتَّةً: لَا أَنَّانَةً، وَلَا مَنَّانَةً، وَلَا حَنَّانَةً، وَلَا حَدَّاقَةً، وَلَا بَرَّاقَةً، وَلَا شَدَّاقَةً

“Janganlah kalian menikahi enam jenis wanita; jangan yang annanah, mannanah, hannanah, haddaqah, barraqah, dan syaddaqah.”

Annanah: Wanita yang selalu mengeluh dan merasa sakit, sehingga bawaannya malas dan mengurangi semangat rumah tangga.

Mannanah: Wanita yang suka mengungkit-ungkit kebaikannya alias kekayaan keluarganya di hadapan suami (misalnya, “Dulu Anda miskin, jika bukan lantaran saya…”).

Hannanah: Wanita yang hatinya selalu kangen pada family masa lalunya alias mantan suaminya, sehingga tidak konsentrasi melayani suami yang sekarang dan sering menuntut pulang kampung tanpa memandang kondisi keuangan.

​Haddaqah: Wanita yang matanya selalu lapar memandang kemewahan orang lain. Selalu menuntut suami membelikan peralatan baru demi mengikuti style hidup tetangga alias teman.

Barraqah: Wanita yang sepanjang hari sibuk berdandan diri secara berlebihan, namun tujuannya bukan untuk suami melainkan hanya pamer saat keluar rumah alias berjumpa teman-temannya.

Syaddaqah: Wanita yang banyak bicara, cerewet, suka meninggikan suara, dan pandai bersilat lidah sehingga tidak mau mendengarkan kata-kata suaminya.

Empat kiat agar menjadi istri yang pandai bersyukur

​Agar terhindar dari sifat-sifat jelek di atas, berikut beberapa kiat praktis yang bisa diamalkan:

​Sadari bahwa tanggungjawab nafkah suami sesuai kemampuannya

​Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

​لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ ۖ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ

​“Hendaklah orang yang mempunyai kelapangan memberi nafkah menurut kelapangannya, dan orang yang terbatas rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari kekayaan yang diberikan Allah kepadanya.” (QS. At-Talaq: 7)

​Jangan membebani suami di luar kemampuannya hingga memaksanya berutang demi style hidup yang tidak mendesak.

Selalu memandang ke bawah untuk urusan dunia

​Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

​انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

​“Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan jangan memandang kepada orang yang berada di atasmu (dalam urusan dunia). Hal itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan kepadamu.” (HR. Muslim no. 2963)

​Hindari pergaulan yang suka pamer kemewahan

​Jangan terlalu sering berkumpul dengan lingkaran pertemanan yang orientasinya hanya pamer harta, tas mewah, alias kendaraan baru, lantaran perihal itu bisa mengikis rasa syukur dan memicu penderitaan batin.

​Sering membaca kisah hidup Nabi dan istri-istrinya

​Ingatlah penuturan Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha mengenai kesederhanaan rumah tangga Nabi,

​إِنْ كُنَّا لَنَنْظُرُ إِلَى الْهِلَالِ، ثُمَّ الْهِلَالِ، ثُمَّ الْهِلَالِ، ثَلَاثَةَ أَهِلَّةٍ فِي شَهْرَيْنِ، وَمَا أُوقِدَتْ نَارٌ فِي بُيُوتِ رَسُولِ اللَّهِ

صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ… الْأَسْوَدَانِ: التَّمْرُ وَالْمَاءُ

​“Sesungguhnya kami memandang hilal, kemudian hilal, kemudian bulansabit (tiga bulansabit dalam dua bulan alias 60 hari), dan tidak pernah ada api yang dinyalakan di rumah-rumah Rasulullah (tidak memasak masakan) … Makanan kami hanyalah al-aswadan: kurma dan air putih.” (HR. Bukhari no. 2567 dan Muslim no. 2972)

​Saat menghadapi kesulitan ekonomi, ingatlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

​اللَّهُمَّ لَا عَيْشَ إِلَّا عَيْشُ الْآخِرَةِ

​“Ya Allah, tidak ada kehidupan yang asasi selain kehidupan akhirat.” (HR. Bukhari no. 2834 dan Muslim no. 1805)

Kesimpulan

​Ingatlah janji Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an,

​لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

​“Sesungguhnya jika Anda bersyukur, pasti Kami bakal menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)

​Istri yang pandai mengucapkan “Syukran zauji”, “Jazakallah khairan habibi”, dan tulus mendoakan suaminya bakal senantiasa mendapatkan kucuran rahmat dan perhatian unik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, kufur nikmat bakal membikin kebahagiaan dicabut secara perlahan tanpa disadari.

​Semoga Allah mengaruniakan kepada para wanita sifat qana’ah, menjadikan mereka istri-istri yang salehah yang pandai bersyukur, serta mengumpulkan para istri berbareng suaminya di surga-Nya kelak. Amin ya Rabbal ‘Alamin.

[Selesai]

KEMBALI KE BAGIAN 1

​***

Penulis: Nurur Rohmah Azzahra

Artikel Kincai Media

Referensi:

Disarikan dari kegunaan kajian Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc., MA. hafidzahullah.

Selengkapnya