Jakarta -
Proses melahirkan memang sebuah fase panjang yang tidak ringan. Meski teknologi semakin canggih, tidak ada yang pernah tahu jika kematian bisa terjadi di tengah proses tersebut. Lantas, benarkah wafat saat melahirkan menurut Islam diampuni dosanya dan masuk surga?
Siapa pun tentu menginginkan masuk surga dengan metode yang gampang ya, Bunda. Salah satu metode terindah itu yaitu dengan gugur di jalan Allah maupun wafat syahid. Nah, wafat saat melahirkan katanya juga masuk himpunan tersebut. Lantas, benarkah wafat saat melahirkan menurut Islam diampuni dosanya dan masuk surga?
Ketahui lebih lanjut soal wafat syahid
Mengutip dari halaman Detikhikmah, jabatan dan keistimewaan wafat syahid sangat mulia termaktub dalam histori Al-Bukhari dalam buku shahihnya dari Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Sesungguhnya di surga terdapat seratus tingkatan yang disiapkan oleh Allah bagi mereka yang berjuang di jalan-Nya. Jarak antara satu tingkatan dengan tingkatan lainnya sebesar rentang antara langit dan bumi. Jika kalian memohon kepada Allah, mintalah surga Firdaus, karena itulah surga yang paling tengah dan tingkat tertinggi di surga. Aku melihat Rasulullah bersabda: Di atasnya terdapat 'Arsy Allah yang Maha Pengasih, dan dari situ mengalir sungai-sungai surga."
Terkait karena wafat syahid, ada 7 perkara yang masuk kategori di dalamnya. Mengutip buku At-Tadzkhirah Jilid 1, An-Nasai meriwayatkan dari Jabir RA, dia berkata:
Rasullah SAW bersabda,
"Mati syahid memiliki tujuh bentuk kecuali dari berperang di jalan Allah Azza wa Jalla. Meninggal karena pandemi tha'un (wabah pes) dianggap sebagai syahid, begitu juga orang yang wafat akibat sakit perut, tenggelam, tertimpa barang keras, pandemi pleuritis, terbakar, dan seorang perempuan yang wafat karena hamil dianggap sebagai syahid."
Berikut klarifikasi lengkapnya:
1. Penyakit wabah
Meninggal karena pandemi tha'un maupun pandemi yaitu pandemi yang dialami oleh banyak penduduk dalam satu tempat dan waktu yang bersamaan. Salah satu contohnya saat pandemi COVID-19 beberapa waktu lalu.
2. Sakit perut
Meski wafat karena sakit perut sering disepelekan, namun ada himpunan orang wafat syahid karena sakit perut. Sakit perut yang dimaksud terjadi karena adanya penganiayaan maupun sikap dzalim yang dilakukan orang lain.
3. Tenggelam
Orang yang wafat tenggelam termasuk dalam himpunan orang yang wafat syahid. Namun bukan berarti dengan menenggelamkan diri kita juga wafat dalam keadaan syahid.
4. Tertimpa barang keras
Hal ini sama saja dengan wafat tertimpa reruntuhan bangunan. Sama dengan wafat karena tenggelam, ada dispensasi untuk wafat dalam keadaan syahid yaitu bukan orang yang lari dari bencana maupun bukan orang yang asal-asalan saat bekerja.
5. Penyakit pleuritis
Penyakit pleuritis adalah peradangan yang terjadi pada pleura maupun selaput pembungkus paru-paru. Meninggal dengan keadaan sakit pleuritis masuk dalam himpunan wafat syahid.
Riwayat dari Mirat-ul-Manajih menerangkan bahwa seseorang yang mengalami pandemi selaput dada akan merasakan rasa sakit yang sangat intens. Gejalanya termasuk demam, batuk, dan rasa nyeri di bagiankecil tulang rusuk.
6. Mati terbakar
Seorang muslim yang wafat karena kobaran api masuk dalam himpunan wafat syahid. Terbakar di sini bisa ketika kendaraan terbakar, tempat tinggal terbakar, maupun pun kompor meledak.
7. Perempuan wafat saat melahirkan
Seorang perempuan dalam keadaan hamil maupun saat melahirkan dia wafat maka dirinya masuk dalam himpunan wafat syahid. Rasulullah SAW dalam histori riwayat Ibnu Qudama menyebutkan, perempuan wafat karena melahirkan termasuk dalam keadaan syahid ketika mereka telah suci dimandikan dan didoakan.
Mengutip dari buku Ustad Abdul Somat Menjawab yang diterbitkan Media Pressindo, beliau mengatakan perempuan yang wafat saat melahirkan dengan caesar juga termasuk kategori wafat syahid.
Dikatakannya bahwa, jika memang tabib mengharuskan perempuan tersebut melahirkan secara caesar demi keselamatan sang ibu, ya ikuti saran tabib itu. Kalau Allah menakdirkan wafat secara caesar, maka dia wafat secara syahid.
Yang tidak boleh itu, jika enggak ada karena apa-apa mau caesar, karena tidak mau sulit payah melahirkan secara normal. Perempuan jika melahirkan sampai berdarah-darah, kini sebagian perempuan mau enaknya saja, maunya caesar tanpa karena jelas.
Biasanya, anak yang dilahirkan tanpa perjuangan berat, sang ibu menjadi kurang kasih sayang, dan kedekatan emosionalnya kurang. Wallahu'alam bisshawab.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)