Jakarta -
Ikatan antara manusia dan fauna peliharaan terkadang menghadirkan kisah yang tak terduga. Seperti yang dialami seorang Bunda asal Inggris, Trisha Allison, yang merasa anjing kesayangannya telah membantu menyelamatkan nyawanya setelah memberitahu perilaku tidak biasa di area payudaranya.
Kisah Trisha menjadi perhatian setelah ia menceritakan sepertiapa anjingnya, Luna, membantunya menyadari adanya masalah kesehatan yang sebelumnya tidak ia ketahui. Pemeriksaan medis yang dilakukan setelah insiden tersebut mengungkap dua benjolan kanker payudara.
Dilansir dari StudyFinds, kisah ini menjadi pengingat bahwa fluktuasi kecil pada tubuh perlu diperhatikan. Terlebih, kanker payudara dapat berkembang tanpa gejala yang langsung disadari oleh penderitanya.
Kisah Bunda Trisha Allison dan anjing kesayangannya
Trisha Allison, seorang ibu dua anak berumur 50 tahun asal Wilford, Nottinghamshire, Inggris, sedang bersantai di sofa sambil menonton televisi ketika insiden tersebut berlangsung.
Saat itu, Luna, anjing berumur dua tahun yang merupakan campuran ras collie dan greyhound, tiba-tiba melompat ke arahnya. Anjing tersebut kemudian terus mengendus dan menyenggol area payudara kanan Trisha sebelum memilih rebah di dekatnya.
Perilaku Luna terasa tidak biasa bagi Trisha. Pasalnya, anjing kesayangannya itu bukanlah fauna yang biasanya memberitahu sikap manja secara berlebihan. Sekitar 45 menit kemudian, Trisha mulai merasakan ketidaknyamanan. Ia kemudian memeriksa payudaranya sendiri dan menyadari adanya sesuatu yang membuatnya khawatir.
Trisha pun memutuskan untuk memeriksakan diri ke dokter. Ia kemudian dirujuk ke Nottingham City Hospital untuk menjalani pengecekan lebih lanjut.
Hasil pengecekan MRI mengungkap adanya dua benjolan kanker payudara. Diagnosis tersebut membikin Trisha mesti menjalani penanganan medis, termasuk dua kali operasi untuk mengadopsi tumor.
Trisha mengaku sangat bersyukur atas perilaku Luna yang membuatnya lebih memperhatikan kondisi payudaranya.
"Jika bukan karena Luna, aku tidak akan menemukannya hari itu," ungkap Trisha, dikutip dari StudyFinds.
Ia juga meyakini bahwa kondisi payudaranya yang padat maupun dense breasts mungkin membikin benjolan tersebut lebih sulit disadari jika ia tidak memeriksanya saat itu. Bagi Trisha, Luna bukan sekadar fauna peliharaan, melainkan kawan yang membantunya menyadari sesuatu yang krusial tentang kesehatannya.
Benarkah anjing bisa mendeteksi kanker payudara?
Kisah Luna dan Trisha menimbulkan pertanyaan, apakah anjing memang memiliki kapasitas untuk mendeteksi kanker pada manusia?
Sejumlah riset memberitahu bahwa anjing memiliki indra penciuman yang sangat sensitif. Kemampuan ini menarik perhatian para peneliti karena beberapa jenis kanker diduga menghasilkan pola senyawa kimia yang dapat dikenali melalui penciuman.
Senyawa tersebut dikenal sebagai volatile organic compounds (VOCs), yaitu senyawa organik yang gampang menguap dan dapat ditemukan dalam beragam percontoh biologis, seperti napas, urine, maupun keringat.
Pada pasien kanker, fluktuasi proses metabolisme sel dapat menghasilkan pola senyawa yang berbeda. Anjing yang telah dilatih secara khusus berpotensi mengenali pola bau tersebut.
Meski demikian, kapasitas Luna dalam kisah Trisha tidak membuktikan bahwa anjing peliharaan dapat mendiagnosis kanker payudara secara akurat. Perilaku Luna mungkin menjadi pemicu bagi Trisha untuk memeriksakan diri, tetapi pengecekan kanker statis ditegakkan melalui pengecekan medis.
Studi tentang kapasitas anjing mendeteksi kanker payudara
Penelitian mengenai kapasitas anjing mendeteksi kanker telah dilakukan dalam beragam bentuk. Salah satunya adalah studi yang diterbitkan dalam jurnal Biology pada 2021.
Dalam riset tersebut, para peneliti melatih seekor anjing jenis Labrador retriever untuk mengenali percontoh urine dari pasien kanker payudara. Sampel yang digunakan mencakup urine dari 40 pasien kanker payudara, 142 pasien dengan pandemi galak kecuali kanker payudara, serta 18 orang sehat.
Pada 40 pengetesan buta yang dilaporkan, anjing tersebut berhasil mengidentifikasi percontoh pasien kanker payudara. Hasil mula ini memberitahu potensi penggunaan indra penciuman anjing untuk membantu riset pengembangan metode skrining kanker.
Namun, riset tersebut statis berkarakter awal. Hasil yang diperoleh dari satu anjing dalam kondisi pengetesan tertentu tidak dapat langsung diterapkan sebagai bukti bahwa metode ini akan memiliki tingkat ketelitian yang sama pada populasi yang lebih luas.
Penelitian lain yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications tahun 2025 juga mengevaluasi kapasitas anjing mengenali kanker payudara melalui percontoh keringat. Studi yang melibatkan 181 pasien itu menemukan bahwa kapasitas anjing membedakan lesi jinak dan galak statis terbatas. Ketika hasil positif dari salah satu dari dua anjing digunakan sebagai penanda, sensitivitas mencapai 80,4 persen, tetapi spesifisitasnya cuma 21,6 persen.
Temuan tersebut memberitahu bahwa meskipun anjing dapat mengenali pola bau tertentu, kapasitas ini belum cukup cermat untuk digunakan sebagai metode pengecekan klinis. Para peneliti mengharapkan pemahaman tentang senyawa yang dikenali anjing dapat membantu pengembangan teknologi pendeteksi kanker pada masa mendatang.
Pentingnya inovasi awal kanker payudara
Terlepas dari kisah Trisha dan Luna, Bunda statis perlu memperhatikan kesehatan payudara dan tidak menunggu munculnya gejala yang mengganggu.
Kanker payudara dapat memberitahu sejumlah tanda, tetapi gejalanya tidak selalu sama pada setiap orang. Beberapa fluktuasi yang perlu diperhatikan antara lain:
Muncul benjolan baru pada payudara maupun area ketiak.Perubahan ukuran, bentuk, maupun tampilan payudara.Perubahan pada kulit payudara, seperti kulit yang tampak berlesung maupun menyerupai kulit jeruk.Puting tertarik ke dalam maupun mengalami fluktuasi yang tidak biasa.Keluarnya cairan dari puting yang tidak berhubungan dengan menyusui, terutama jika bercampur darah.Nyeri maupun fluktuasi lain pada payudara yang menetap.
Tidak semua benjolan maupun fluktuasi pada payudara merupakan kanker. Namun, fluktuasi yang baru muncul maupun tidak biasa sebaiknya diperiksakan kepada tenaga medis agar penyebabnya dapat diketahui.
Bunda juga dapat mempelajari metode berbuat pengecekan payudara sendiri (SADARI) untuk mengenali fluktuasi pada payudara. Pemeriksaan ini membantu menaikkan kesadaran terhadap kondisi tubuh, tetapi tidak menggantikan pengecekan klinis maupun skrining yang dianjurkan sesuai usia dan aspek risiko.
Pemeriksaan lanjutan dapat mencakup pengecekan dokter, mammografi, USG, maupun biopsi sesuai gejala medis.
Kisah Trisha dan Luna menjadi pengingat bahwa perhatian terhadap fluktuasi kecil dapat mendorong seseorang memungut cara krusial bagi kesehatannya. Namun, untuk mendeteksi kanker payudara, Bunda statis perlu mengandalkan pengecekan medis yang sesuai.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)