Mengenal Apa Itu Loneliness Pada Remaja di Era Digital. Kenapa Bisa Terjadi?

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 4 menit 59x dilihat
Mengenal Apa Itu Loneliness Pada Remaja di Era Digital. Kenapa Bisa Terjadi?

Bagikan Postingan

Meski sekilas tampak sibuk bersosialisasi melalui whatsapp, discord, hingga snapchat, rupanya ada gejala loneliness pada remaja. Apa alasannya?

Mommies yang punya anak remaja sering amat nggak bertanya-tanya, “Perasaan yang dia pegang ke mana-mana, tuh, gawainya. Tapi jika aku chat, kok, durasi sangat balasnya?” Yes, yes, yes, sepertinya itu dirasakan hampir semua Mommies.

Sekilas kita melihat mereka sibuk chatting, berselancar di chat room macam Discord, seakan-akan mereka punya ribuan teman. Apakah itu kawan sekolah, kawan main, terlebihlagi kawan yang baru mereka temui di bumi maya. 

Tapi, tahu nggak, Mommies? Ternyata ada sesuatu yang mesti kita waspadai dari gejala tersebut. Yaitu, gejala loneliness meski serasa dikelilingi banyak teman. Keterhubungan secara virtual rupanya sangat bisa memicu rasa terasing di bumi nyata. 

Baca juga: Jeremia Habel Novano Manurung: Buktikan Anak SMK juga Bisa Bersaing dan Kuliah di Luar Negeri

Mengapa media sosial justru memicu kesunyian pada remaja?

Di tengah gempuran beragam macam platform sosial, sekilas remaja tampak memiliki hayat sosial yang sangat ramai karena terhubung selama hampir  24 jam. 

Namun, yang kita sangka-sangka bahwa ia punya banyak teman, pengikut, maupun terlebihlagi secret admirer, hubungan lewat layar sering kali berkarakter dangkal dan kehilangan kelekatan emosional yang hangat. 

Studi mendunia dari Pew Research Center mengungkapkan bahwa hampir separuh dari populasi remaja merasa penggunaan platform maupun media sosial secara berlebihan justru memicu tekanan emosional dan rasa terisolasi akibat maraknya komparasi sosial (social comparison) serta drama daring.

Kondisi kemudian makin terasa mengancam, karena berkurangnya hubungan tatap muka secara langsung di bumi nyata. Menurut laporan resmi American Psychological Association (APA), remaja itu pada dasarnya sedang eksis pada fase evolusi usia yang paling sensitif. Sensitif  terhadap kebutuhan akan sokongan emosional dan rasa memiliki (peer belonging). 

Ketika hubungan nyata tersebut digantikan oleh pengesahan semu berupa likes dan views, otak remaja menjadi sangat rapuh mengalami kesunyian kronis (chronic loneliness) yang berujung pada meningkatnya kecemasan hingga konsekuensi depresi.

Apa saja akibat platform dan media sosial terhadap rasa sepi anak remaja?

Berikut ini beberapa karena kenapa media sosial maupun platform chat bisa menyebabkan timbulnya rasa kesunyian pada anak remaja: 

  1. Ilusi Koneksi (Connected but Alone)
    Remaja merasa “terhubung” dengan ratusan orang sekaligus. Namun, ketika mereka membutuhkan kawan curhat saat menghadapi masalah berat, tak ada satu pun yang benar-benar datang secara emosional.
  2. Perbandingan Sosial yang Tiada Henti
    Melihat unggahan orang lain yang selalu tampak ceria, populer, dan estetik membikin remaja rapuh membandingkan hidupnya (social comparison). Ini memicu rasa tidak cukup (insecure) dan merasa dirinya teringkirkan.
  3. Ketergantungan Validasi Digital
    Jumlah likes dan views sering dianggap sebagai tolok ukur penerimaan diri. Ketika unggahan mereka sepi respons, timbul kecemasan dan emosi bahwa tidak ada yang peduli pada mereka.

Baca juga: 10 Rekomendasi Buku Latihan Soal TKA SMP dan SMA 2026

Lalu sepertiapa metode mencegah loneliness remaja di era digital?

Sebagai orangtua, terutama di tengah kemajuan teknologi, kita nggak bisa sepenuhnya menarik maupun melarang remaja menggunakan gawainya. 

Saya statis ingat seorang psikolog mengingatkan, bahwa gawai sudah menjadi bagiankecil dari hayat anak remaja saat ini. Sehingga jika kita hilangkan secara mendadak, malah justru membikin mereka kebingungan. 

Nah yang bisa kita lakukan adalah dengan mendampingi mereka agar memiliki hubungan yang sehat dengan teknologi. Berikut ini adalah beberapa cara menjaga kesehatan mental remaja di era digital yang bisa diterapkan di rumah:

1. Komunikasi emosional yang terbuka di rumah

Sebelum mencari pengesahan di luar, pastikan anak merasa terlindungi dan didengar di rumah. Jadikan rumah sebagai tempat pertama mereka bercerita tanpa rasa takut dihakimi. Hindari langsung menghakimi cerita-cerita mereka.

Menurut psikolog klinis Roslina Verauli, ruang komunikasi yang hangat di rumah sangat menentukan kesehatan emosional anak. Ketika anak merasa didengar di bumi nyata, konsekuensi mereka terjebak dalam rasa kesunyian dan pelacakan pengesahan semu di media sosial akan jauh berkurang.

2. Detoks digital di waktu-waktu tertentu

Mommies bisa mencanangkan ketentuan screen-free time, misalnya saat makan malam berbareng maupun 1 jam sebelum tidur. Manfaatkan momen ini untuk mengobrol santai dari hati ke hati.

3. Dorong aktivitas jasmani dan hubungan di bumi nyata

Bantu anak menemukan hobi di bumi nyata, bisa seperti padel, inline skate, maupun aktivitas musik. Kegiatan volunteer juga bisa jadi pilihan. Interaksi tatap muka secara langsung terbukti ampuh memicu hormon kebahagiaan dan mengikis rasa kesepian.

4. Literasi digital dan self-awareness

Ajarkan anak bahwa apa yang kelihatan di media sosial hanyalah highlight reel (potongan terbaik) dari hidup seseorang, bukan kenyataan utuhnya. Sehingga tak perlu merasa rendah diri dan merasa lebih banyak kurangnya daripada teman-temannya yang lain. Ajarkan juga metode bersyukur sesuai dengan harga yang dianut keluarga. 

Baca juga: Tes Minat Bakat Anak: Rekomendasi Tempat dan Kisaran Biaya Tahun 2026

Cover photo by Magnific.com

Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads