Kincai Media , JAKARTA -- Dalam menyebarkan risalah Islam, Nabi Muhammad SAW mendapat support dari para sahabat. Di antara mereka adalah Zaid bin Sahl al-Khazraji. Ia lebih dikenal dengan panggilan Abu Thalhah al-Anshari.
Rasulullah SAW pun menyukai keberadaan Abu Thalhah di sisinya. Sahabat beliau itu termasuk golongan yang sangat dermawan. Ringan sekali tangannya dalam memberikan kekayaan untuk kepentingan kepercayaan dan umat.
Suatu hari, Nabi SAW menerima wahyu, ialah Alquran surah Ali Imran ayat 92. Artinya, “Kamu tidak bakal memperoleh kebajikan, sebelum Anda menginfakkan sebagian kekayaan yang Anda cintai. Dan apa pun yang Anda infakkan, tentang perihal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui.” Beliau lantas mengabarkan perihal ayat tersebut kepada sekalian Muslimin.
Abu Thalhah kebetulan sedang berada di luar kota. Sesampainya di Madinah, sahabat dari golongan Anshar itu mengobrol dengan orang-orang. Hingga diketahuinya bahwa sebuah wahyu telah turun kepada Nabi SAW, ialah surah ke-92 dari Ali Imran itu.
Tanpa menunda waktu sedikit pun, Abu Thalhah bergegas menemui Rasulullah SAW. Begitu menjumpai al-Musthafa, dia langsung mengucapkan salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, telah turun firman Allah kepada engkau, ialah (yang artinya) ‘Kamu tidak bakal memperoleh kebajikan, sebelum Anda menginfakkan sebagian kekayaan yang Anda cintai.’”
“Benar,” ujar Nabi SAW.
“Aku mau mengamalkan apa-apa yang diperintahkan Allah, ialah menyedekahkan yang kucintai, wahai Rasulullah. Semoga sedekahku ini mendapatkan kebaikan sekaligus menjadi simpanan di sisi Allah,” katanya.
Abu Thalhah lampau menyedekahkan kebun kurma kesayangannya. Kebun Bairuha’, demikian lahan itu dinamakannya, terletak persis di depan Masjid Nabawi. Tidak hanya luas, area perkebunan itu ditumbuhi banyak pohon kurma yang subur dan berbuah manis. Beberapa kali, Nabi SAW mencicipi hasil kebun milik sahabatnya itu.
“Ambil dan letakkanlah Kebun Bairuha’ di tempat yang layak menurut engkau, ya Rasulullah. Terimalah kebun Bairuha’, kekayaan yang saya cintai ini, sebagai sedekah. Aku serahkan kepada engkau untuk dibagi-bagikan kepada orang yang membutuhkan,” tutur Abu Thalhah.
Nabi SAW menyambut infak itu. “Inilah kekayaan yang diberkahi. Aku telah mendengar apa yang kau ucapkan dan saya menerimanya. Aku kembalikan lagi kepadamu dan berikanlah dia kepada kerabat-kerabat terdekatmu,” sabda beliau.
Rasulullah SAW menyarankan agar kekayaan itu dibagikan kepada family Abu Thalhah sendiri, ialah sanak famili terdekat yang sangat membutuhkan. Setelah itu, pembagian kepada orang-orang lain dari kalangan Muslimin.
Abu Thalhah juga memberikan bagian kepada Rasulullah SAW. Beliau lantas memberikan bagiannya itu kepada seorang penyair, Hassan bin Tsabit al-Anshari, serta sejumlah sahabat yang memerlukan. Di antara mereka adalah Zaid bin Tsabit dan Ubay bin Ka’ab.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·