Bilal Bin Rabah, Teguh Dalam Islam

Jan 08, 2026 09:30 PM - 5 bulan yang lalu 175402

Kincai Media , JAKARTA -- Bilal bin Rabah merupakan sahabat Nabi Muhammad SAW dari golongan ras Afrika (Habasyi). Dialah sang muazin pertama Rasulullah SAW. Mulanya, dia adalah seorang budak. Namun, akhirnya dia menjadi manusia bebas (merdeka) setelah memeluk Islam.

Ia dilahirkan di daerah as-Sarah, sekitar 43 tahun sebelum Rasulullah hijrah. Ayahnya berjulukan Rabah dan ibunya berjulukan Hamamah, seorang budak wanita berkulit hitam yang tinggal di Makkah. Karena ibunya itu, sebagian orang memanggil Bilal dengan julukan ibnus-Sauda (artinya: 'putra wanita hitam').

Bilal dibesarkan di Kota Makkah. Karena berasal dari family budak, Bilal pun juga menjadi budak yang diperjualbelikan. Awalnya, dia adalah budak milik family bani Abduddar, lampau diwariskan kepada Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh krusial kaum kafir.

Ketika Kota Makkah diterangi oleh sinar Islam, Bilal termasuk salah seorang yang pertama memeluk Islam. Karenanya, golongan pertama yang memeluk Islam disebut juga dengan nama As-sabiqun al-Awwalun (orang yang pertama memeluk Islam).

Sebelum Bilal, yang memeluk Islam adalah ummul mukminin, Khadijah binti Khuwailid (istri Rasulullah SAW); Abu Bakar ash-Shiddiq; Ali bin Abi Thalib; Ammar bin Yasir berbareng ibunya, Sumayyah; Shuhaib ar-Rumi; dan al-Miqdad bin al-Aswad.

Namun ketika itu, keislaman Bilal belum banyak diketahui orang. Karena dia diketahui memeluk Islam oleh majikannya, Bilal pun mendapat siksaan yang sangat berat. Siksaan yang diterimanya, tampaknya jauh lebih berat dibandingkan dengan ujian yang diterima umat Islam lainnya.

Berbagai ujian, siksaan, dan kekerasan ditimpakan padanya. Termasuk, di antaranya dicambuk, dijemur di bawah terik matahari, hingga tubuhnya ditindih dengan batu. Namun demikian, keislaman Bilal tak goyah. Ia tetap teguh menyatakan keimanannya kepada Allah dan Rasulullah SAW.

Bila umat Islam yang lebih dulu memeluk Islam juga mendapat siksaan, namun siksaan yang mereka terima tampaknya tak begitu sekeras yang dirasakan Bilal bin Rabah. Abu Bakar dan Ali bin Abi Thalib, misalnya, jika mereka mendapatkan siksaan, tetap ada yang memihak mereka dari personil keluarganya. Namun, Bilal, seorang hamba sahaya yang tertindas (mustadl'afin) ini, tak ada yang membantunya selain berambisi pertolongan Allah SWT.

Begitu pula dengan Sumayyah, syuhada pertama yang dibunuh dengan tombak oleh Abu Jahal. Kekerasan dan penyiksaan yang ditimpakan kepada umat Islam yang lemah ini seolah tanpa henti.

Orang Quraisy yang paling banyak menyiksa Bilal adalah Umayyah bin Khalaf berbareng para algojonya. Mereka menghantam punggung bugil Bilal dengan cambuk.

Namun demikian, keislaman mereka tak pernah goyah. Bahkan, di saat penyiksaan yang terberat sekalipun, Bilal tetap berseru, Ahad, Ahad, Ahad (Allah satu, Allah satu, Allah Esa). Orang kafir Quraisy memaksa Bilal untuk memuja berhala Latta dan Uzza. Namun, Bilal hanya menjawab Allahu Ahad (Allah Maha Esa).

Penyiksaan demi penyiksaan yang dilakukan tak bisa menggoyahkan keagamaan Bilal. Hingga akhirnya Abu Bakar ash-Shiddiq mendatangi majikan laki-laki Afrika itu. Selanjutnya, Abu Bakar sukses mempunyai status Bilal dan lampau membebaskannya. Sejak itu, laki-laki yang kelak menjadi ahli azan tersebut menjadi manusia merdeka.

Selengkapnya