Akidah beliau
Salah satu ciri paling menonjol dari pengajaran Syekh (rahimahullah), baik yang disampaikan secara lisan maupun tulisan, adalah penegasan konstan terhadap iktikad Ahlus Sunnah wal Jamaah, khususnya terkait nama-nama dan sifat-sifat Allah.
Dalam menjelaskan persoalan akidah, beliau menggunakan bahasa yang lugas, berlandaskan kaidah kuat, dan memperkuatnya dengan banyak dalil dari Al-Qur’an, sunnah, serta dalil rasional. Penjelasannya begitu mendalam sehingga kadang pembaca atau pendengar menyangkanya fokus utama beliau memang pada ilmu akidah.
Meski membahas akidah secara rinci, beliau kerap mengulang materi tersebut di berbagai kesempatan. Contohnya, beliau menguraikan tiga landasan pokok dalam memahami sifat-sifat Allah pada delapan kesempatan berbeda.
Begitu pula ketika membahas larangan berhukum dengan selain wahyu dan keterbatasan pengetahuan tentang yang ghaib, beliau konsisten mengkritik ajaran yang salah. Beliau membantah paham Qadariyah pada tujuh kesempatan, menyinggung perdebatan antara Al-Isfarayini dan Qadhi Abdul Jabbar tentang takdir, serta menjelaskan sifat istiwa’ (Allah tinggi di atas Arsy) di enam tempat. Narasi-narasi lain tentang perdebatan klasik, seperti dialog antara seorang Badui dan Amr bin Ubaid soal takdir, juga sering ia ulang di pengajian.
Uraian akidah itu tidak hanya hadir pada tafsir yang disampaikannya di Masjid Nabawi, melainkan juga tersebar di karya-karya beliau, khususnya Adhwa’ul Bayan.
Kemampuan intelektual Syekh (rahimahullah) melampaui penguasaan iktikad Ahlus Sunnah; beliau juga mendalami ilmu kalam dan mengenali kelemahan-kelemahan argumen lawan. Kecakapan ini tampak jelas dalam pengajian dan tulisannya.
Saat menafsirkan ayat ke-54 dari surah Al-A‘raf, yakni firman Allah,
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ
“Sesungguhnya Tuhan kalian adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia beristiwa di atas Arsy.”
Setelah memaparkan akidah yang benar dan mengkritik kekeliruan ilmu kalam, beliau menegaskan,
ونحنُ نقولُ لكم هذا وَنُقَرِّرُ لكم مذهبَ السلفِ على ضوءِ القرآنِ العظيمِ مع أنَّا ما دَرَسْنَا دراسةً شديدةً مثل علومِ الكلامِ والمنطقِ، وما تَنْفِي به كُلُّ طائفةٍ بَعْضًا من صفاتِ اللَّهِ، ونحن مُطَّلِعُونَ على جميعِ الأدلةِ وعلى تَرْكِيبِهَا التي نُفِيَ بها بضُ الصفاتِ، عارفونَ كيف جاءَ البُطْلاَنُ، ومن الوجهِ الذي جاءَ البُطْلاَنُ، واسمُ الدليلِ الذي تُرِدُ به، ولكن ذلك لا يَلِيقُ في هذا المجلسِ الحافلِ؛ لأنه لا يَعْرِفُهُ إلا خَوَاصُّ الناسِ، فبعشَ النظرِ العامِّ الطويلِ في علمِ الكلامِ وما يستدلُّ به طوائفُ المتكلمين، وما تَرُدُّ به كُلُّ طائفةٍ على الأخصى، والأقيسةِ المنطقيةِ التي رَتَّبُوهَا وَنَفَوْا بها بعضَ الصفاتِ، ومعرفتنا من الوحيِ ومن نَفْسِ الكلامِ والبحوثِ والمناظراتِ كيف يَبْطُلُ ذلك الدليل، ومن أين جاء الخطأُ، وَتَحَقَّقْنَا من هذا كُلِّهِ، بعد ذلك كُلَّهِ تَحَقَّقْنَا كُلَّ التحققِ أن السلامةَ كُلَّ السلامةِ، والخيرَ كُلَّ الخيرِ في اتباعِ نورِ هذا القرآنِ العظيمِ، والاهتداءِ بِهَدْيِ هذا النؤبيِّ الكريمِ
“Kami menyampaikan kepada kalian dan menjelaskan ajaran para salaf berasas sinar Al-Qur’an yang agung. Padahal, kami juga mempelajari secara mendalam pengetahuan kalam dan logika, serta beragam langkah yang digunakan oleh masing-masing golongan untuk menolak sebagian sifat Allah. Kami mengetahui seluruh dalil yang mereka gunakan dan susunan argumennya untuk menolak sifat-sifat tersebut. Kami tahu di mana letak kesalahannya, dari sisi mana kebatilannya muncul, dan apa nama dalil yang mereka pakai untuk membantah.
Namun, pembahasan seperti itu tidak cocok disampaikan di majelis umum seperti ini, lantaran hanya dipahami oleh kalangan tertentu saja. Setelah pengkajian panjang terhadap pengetahuan kalam, dalil-dalil yang digunakan oleh beragam kelompok, sanggahan mereka satu sama lain, serta logika yang mereka susun untuk menolak sebagian sifat Allah dan setelah kami mengetahui dari wahyu, dari pengetahuan kalam itu sendiri, dari penelitian dan perdebatan, gimana dalil-dalil itu sebenarnya batal dan dari mana kesalahannya berasal, setelah semua itu kami sampai pada kepercayaan yang sangat pasti bahwa keselamatan sepenuhnya dan kebaikan sepenuhnya hanyalah dengan mengikuti sinar Al-Qur’an yang agung ini dan berpegang pada petunjuk Nabi yang mulia ini …”
Jabatan dan tugas yang pernah diemban di negerinya
Di negerinya, Syekh (rahimahullah) aktif mengajar, memberi fatwa, dan menjabat sebagai pengadil (qadhi). Dalam praktik peradilannya beliau menerapkan prosedur tertulis dan teratur.
Langkah yang ditempuh: kedua pihak diminta menyatakan secara tertulis persetujuan menjadikan beliau sebagai pengadil dan siap menerima putusan; penggugat menulis tuntutan; tergugat menuliskan jawabannya tepat di bawah tuntutan; kemudian beliau mencatat ketetapan hukum bersamaan dengan teks gugatan dan jawaban. Setelah itu, kedua pihak diberi kebebasan menyerahkan keputusan itu kepada ustadz atau pengadil lain untuk disahkan dan dilaksanakan.
Beliau menangani hampir semua sengketa kecuali perkara darah (kasus pembunuhan) dan hudud. Untuk kasus pembunuhan ada prosedur khusus: pengadil pemerintah Prancis pada masa kolonial memutuskan hukuman qishash setelah proses pemeriksaan selesai; putusan itu kemudian diserahkan kepada dua ustadz negeri (Lajnatu Ad-Dam) untuk disahkan, dan Syekh (rahimahullah) termasuk salah satunya.
Sebelum meninggalkan negerinya, kedudukan Syekh sudah sangat tinggi. Namanya dikenal luas dan beliau dipercaya oleh berbagai lapisan masyarakat, sehingga menjadi salah satu tokoh terkemuka di tanah kelahirannya.
Perjalanan haji dan tinggal di Madinah, serta pengaruhnya terhadap ilmunya
Syekh (rahimahullah) berangkat menunaikan haji pada 7 Jumadil akhir 1367 H melalui jalur darat. Awalnya beliau berencana kembali ke negerinya usai menunaikan manasik, namun pengalaman perjalanan dan kunjungan ke Tanah Suci mengubah rencananya.
Perjalanan tersebut kaya dengan pelajaran dan dialog ilmiah yang memperlihatkan keluasan wawasannya. Pembaca catatan perjalanannya, "Ar-Rihlah ila Baitillah al-Haram", akan memahami betapa bernilainya perjalanan itu bagi perkembangan keilmuan beliau.
Setelah manasik haji, Syekh memilih menetap di Madinah dan mengajar. Beliau pernah mengungkapkan,
لَيْرَ مِنْ عَمَلٍ أعظمَ من تفسيرِ كتابِ اللَّهِ في مسجدِ رسولِ اللَّهِ- صلى الله عليه وسلم-
“Tidak ada ibadah yang lebih besar daripada menafsirkan Kitab Allah di Masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Tinggal di Madinah memberi dampak signifikan terhadap keluasan keilmuannya. Di kampung halamannya pendidikan cenderung berfokus pada fikih Mazhab Maliki beserta bahasa Arab, ushul fikih, sirah, tafsir, dan manthiq. Ilmu sabda tidak didalami secukupnya karena masyarakat banyak berpegang pada tradisi Maliki.
Di Masjid Nabawi beliau berinteraksi dengan jamaah dari empat mazhab yang kerap menuntut dalil, sehingga pengajaran di sana tidak terbatas pada satu pandangan. Untuk efektif mengajar di lingkungan semacam itu, seorang guru harus menguasai berbagai pendapat ulama, mengetahui dasar-dasar pendapat, serta kuat dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah. Karena itu Syekh (rahimahullah) bersungguh-sungguh memperluas cakupan ilmunya; bekal penguasaan ilmu bahasa dan ushul membantu beliau mempercepat perluasan itu.
Pengaruh perluasan wawasan ini tercermin dalam karya beliau “Adhwa’ul Bayan”, terutama pada bagian yang menyentuh masalah-masalah fikih.
Kegiatan dan tugas beliau setelah tinggal di Tanah Haram
Setelah menetap di Makkah dan Madinah, Syekh (rahimahullah) aktif mengajar dan berdakwah. Beberapa kegiatan utamanya antara lain:
Mengajar tafsir di Masjid Nabawi
Beliau mengajar tafsir Al-Qur’an di Masjid Nabawi dan berhasil menyelesaikan tafsir seluruh Al-Qur’an sekali putaran; kemudian memulai lagi untuk putaran kedua, namun wafat sebelum menyelesaikannya pada putaran kedua (belum melewati Surah At-Taubah).
Mengajar di Darul Ulum (Madinah)
Sejak 1369 H, Syekh mengajar tafsir di Darul Ulum Madinah hingga 1371 H sebelum pindah ke Riyadh.
Mengajar di Riyadh
Pada 1371 H, saat lembaga pendidikan ma’had dan perguruan tinggi mulai dibuka di Riyadh, beliau diangkat sebagai pengajar. Di sana beliau mengajar tafsir dan ushul fikih sampai kembali ke Madinah.
Selain itu, di Riyadh beliau juga melakukan beberapa kegiatan pengajaran lanjutan:
- Mengajarkan karya-karya Syekhul Islam Ibnu Taimiyah kepada para pengajar ma’had antara maghrib dan isya.
- Mengajar ushul fikih di Masjid Syekh Muhammad bin Ibrahim bagi penuntut tingkat lanjut.
- Mengajar kelompok khusus murid di rumahnya setelah asar, termasuk mendiktekan syarah Maraqi as-Su’ud kepada salah seorang muridnya.
Mengajar di Universitas Islam Madinah
Pada 1381 H, ketika Universitas Islam Madinah berdiri, beliau bergabung sebagai pengajar dan anggota majelis universitas. Di kampus itu beliau mengampu tafsir, ushul fikih, serta etika penelitian dan debat sampai akhir hayat.
Safari dakwah ke Afrika
Pada 1385 H, Syekh memimpin rombongan Universitas Islam untuk berkhotbah dan memberi pengajian di sepuluh negara Afrika, mulai dari Sudan hingga Mauritania. Perjalanan lebih dari dua bulan itu penuh ceramah, kajian, dan pertemuan ilmiah; materi tersebut kemudian direkam, ditulis ulang, dan dibukukan sebagai “Ar-Rihlah ila Afriqiya”.
Mengajar di Ma’had ‘Aly Peradilan (Riyadh)
Sejak pembukaan pada 1386 H, beliau juga menjadi dosen tamu di Ma’had ‘Aly Peradilan Riyadh, memberikan kuliah tafsir dan ushul fikih.
Anggota Hai’ah Kibaril Ulama
Pada 8 Rajab 1391 H dibentuk Dewan Ulama Senior yang beranggotakan 17 orang, dan Syekh termasuk salah satu anggotanya.
Anggota pendiri Rabithah ‘Alam Islami
Beliau juga tercatat sebagai salah satu anggota majelis pendiri Rabithah ‘Alam Islami.
Kezuhudan dan sikap wara’-nya
Syekh (rahimahullah) dikenal hidup zuhud dan berhati-hati terhadap urusan dunia. Ilmu yang beliau kuasai memantapkan rasa takut kepada Allah dan menjauhkan sikap berlebih terhadap dunia, sehingga gaya hidupnya mengingatkan pada kesederhanaan para ulama salaf.
Beliau pernah berujar,
الَّذِي يُفْرِحُنَا أنه لو كانت الدنيا مَيْةً لأباحَ اللَّهُ منها سَدَّ الخَلَّةِ
“Yang membikin kami tenang adalah bahwa seandainya bumi itu seperti bangkai, Allah tetap membolehkan kita mengambil darinya sekadar untuk menutup kebutuhan.”
Beliau juga menasihati anaknya agar tidak terobsesi mengumpulkan harta dengan dalih ingin bersedekah atau mendirikan lembaga, karena menurut beliau dunia itu seperti air laut yang asin: semakin dicapai semakin memunculkan dahaga. Nabi tidak mewajibkan hamba mengumpulkan kekayaan hanya untuk kemudian disedekahkan, dan kenyataannya kejadian itu jarang terjadi.
Dalam kata-katanya,
وأنا أَقْدَرُ الناسِ على أن أكونَ أَغْنَى الناذِ، وَتَرَكْتُ الدنيا لأني أعلمُ أنه إذا تلطخَ بها العبدُ لا يَنْجُو منها، إلا مَنْ عَصَمَهُ اللَّهُ
“Sebenarnya saya bisa menjadi orang yang paling kaya, tetapi saya meninggalkan dunia, lantaran saya tahu bahwa jika seseorang sudah terjerat olehnya, dia tidak bakal selamat darinya selain orang yang Allah lindungi.”
Karya-karya
Syekh (rahimahullah) meninggalkan banyak karya yang ditulis dalam tiga periode: masa di Mauritania, masa perjalanan haji, dan masa setelah menetap di Saudi Arabia.
Pada masa muda beliau menulis syair tentang nasab Arab, fikih Maliki, manthiq, dan faraidh (sebagian masih berupa manuskrip). Saat perjalanan haji, beliau menghasilkan syarah manthiq dan catatan perjalanan.
Setelah menetap di Saudi, karya-karya besar beliau lahir, antara lain Adhwa’ul Bayan (tafsir Al-Qur’an dengan Al-Qur’an), Daf‘u Iham al-Idhthirab, Man‘u Jawaz al-Majaz, kitab ushul fikih, etika debat, serta syarah Maraqi as-Su‘ud. Beliau juga menulis fatwa, risalah, dan menyampaikan banyak ceramah yang kemudian dibukukan.
Karya-karya tersebut memperlihatkan keluasan dan kedalaman penguasaan beliau di bidang tafsir, akidah, ushul fikih, dan ilmu-ilmu Islam lainnya.
Wafat
Syekh (rahimahullah) wafat pada hari Kamis pagi, 17 Zulhijah 1393 H, di rumahnya di Makkah Al-Mukarramah. Jenazah beliau disalatkan oleh Syekh Abdul Aziz bin Baz setelah salat Zuhur pada hari itu, lalu dimakamkan di pemakaman Ma‘la, di daerah Ri‘al-Hajun.
Semoga Allah merahmatinya dengan rahmat yang luas.