Kincai Media– Ada ulama yang menjadi besar lantaran banyak muridnya. Ada yang besar lantaran menduduki kedudukan penting. Ada pula yang menjadi besar lantaran kitab-kitabnya dibaca orang, apalagi setelah dia lama meninggalkan dunia.
Muhammad Nasiruddin al-Albani agak berbeda. Ia tidak lahir di Damaskus, Kairo, Baghdad, alias Madinah alias kota-kota yang selama beratus-ratus tahun menjadi rumah bagi ilmu-ilmu Islam. Ia lahir jauh di utara, di Iskodra, Albania, pada 1332 H/1914 M. Tetapi kelak namanya justru melekat erat dengan Syam dan bumi hadis.
Kata, Syekh Muhammad Saleh Munjid dalam kitab al-A’lamah al-Albani, Al-Albani datang ke Damaskus sebagai seorang anak Albania. Ia meninggalkan bumi dari Amman sebagai seorang muhaddits yang namanya dikenal di beragam negeri Muslim.
Di antara dua kota itu terbentang lebih dari delapan puluh tahun kehidupan: membaca, belajar, meneliti, berdebat, mengajar, menulis, mentakhrij hadis, dan barangkali yang paling krusial terus mencari. Mencari sabda yang sahih. Mencari sanad yang dapat dipertanggungjawabkan. Mencari kekeliruan yang mungkin tersembunyi di kembali sebuah riwayat.
Dan, seperti semua pencarian ilmiah yang serius, pencarian itu pada akhirnya juga membuatnya berhadapan dengan banyak orang.
Sekilas tentang Biografi Al-Albani
Secara biografi, nama lengkapnya adalah Muhammad Nasir al-Din ibn Nuh Najati al-Albani. Nisbah al-Albani sebenarnya sudah menjelaskan sesuatu yang sederhana: dia orang Albania.
Tetapi nisbah itu kemudian menjadi semacam paradoks mini dalam sejarah intelektual Islam modern. Seorang yang lahir di Albania justru kelak menjadi salah satu nama yang paling sering disebut ketika orang berbincang tentang sabda Nabi di bumi Arab.
Ayahnya, al-Hajj Nuh Najati, adalah seorang yang mempunyai latar belakang keagamaan dan dikenal sebagai ustadz Hanafi di Albania. Ia pernah belajar di Istanbul. Ketika perubahan politik dan sosial di Albania berjalan semakin kuat, terutama pada masa pemerintahan Raja Ahmad Zogu, family ini memutuskan meninggalkan negeri mereka.
Tujuannya adalah negeri Syam. Keputusan itu, bagi family tersebut, mungkin pada mulanya hanya sebuah keputusan untuk menyelamatkan kehidupan keagamaan keluarga.
Tidak ada yang tahu bahwa keputusan seorang ayah untuk membawa keluarganya meninggalkan Albania itu kelak bakal mengubah sejarah intelektual seorang anak.
Anak itu berjulukan Naṣiruddin. Usianya ketika tiba di Damaskus sekitar sembilan tahun. Ia datang dari Albania ke negeri Arab tanpa membawa bahasa Arab sebagai bahasa ibunya. Dan justru bahasa itulah yang kelak menjadi salah satu senjata intelektual terpentingnya.
Belajar Bahasa Arab dari Nol
Ada kisah-kisah dalam kehidupan seorang ustadz yang kelihatannya mini ketika terjadi, tetapi baru tampak krusial setelah seluruh hidupnya selesai.
Kisah al-Albani belajar bahasa Arab adalah salah satunya. Ia memasuki lingkungan pendidikan dasar di Damaskus, antara lain melalui Jam‘iyyah al-Is‘āf al-Khayriyyah. Di sana dia berhadapan dengan sesuatu yang bagi seorang anak pendatang bukan perkara ringan: bahasa.
Bahasa Arab bukan bahasa yang dibawanya dari rumah. Tetapi dia mempelajarinya dengan kesungguhan yang kelak menjadi cirinya. Ada satu anekdot yang menggambarkan perkembangan itu dengan cukup baik.
Dalam pelajaran bahasa Arab dan nahwu, gurunya biasa menulis kalimat alias bait syair di papan tulis. Para siswa kemudian diminta menjelaskan i‘rāb-nya.
Kadang tidak ada yang bisa menjawab. Lalu sang pembimbing memanggil seorang siswa yang bukan orang Arab.
“Wahai Arnauṭ, gimana menurutmu?”
Arnauṭ adalah panggilan yang merujuk pada asal Albania-nya, kemudian menjawab.
“Benar” katanya.
Sang guru, sebagaimana dikenang dalam sumber biografinya, apalagi pernah menyindir murid-murid Arab lainnya: bukankah kalian malu? Anak Arnauṭ ini dapat mengungguli kalian dalam bahasa Arab, padahal dia bukan orang Arab.
Ada ironi mini di situ. Anak Albania itu datang ke Damaskus tanpa bahasa Arab. Beberapa tahun kemudian, dia justru menggunakan bahasa Arab untuk membedah kitab-kitab sabda yang ditulis oleh ulama-ulama Arab beratus-ratus tahun sebelumnya.
Bahasa yang mula-mula menjadi halangan berubah menjadi perangkat kerjanya. Dan perangkat kerja itu kemudian dipakai untuk pekerjaan yang jauh lebih berat: menelusuri Sunnah.
Dari Bengkel Jam ke Perpustakaan
Al-Albani bukan produk universitas modern. Ia tidak menempuh pekerjaan akademik sebagaimana seorang pengajar sekarang: masuk perguruan tinggi, memperoleh gelar, menyelesaikan disertasi, lampau mendapatkan jabatan.
Jalan hidupnya lebih berliku. Ia belajar dalam keluarga. Ia belajar kepada guru. Ia membaca sendiri. Dan semakin dewasa, dia semakin banyak menghabiskan waktunya berbareng kitab.
Untuk menyambung hidup, dia bekerja sebagai tukang memperbaiki jam. Di satu sisi ada jam-jam yang kudu diperbaiki. Di sisi lain ada kitab-kitab yang kudu dibaca.
Keduanya sama-sama memerlukan ketelitian. Jam yang rusak tidak bakal kembali melangkah hanya lantaran kita memandanginya dengan penuh kekhusyukan. Ia kudu dibongkar, diperiksa bagian demi bagian, lampau dicari sumber kerusakannya.
Hadis pun, dalam pekerjaan al-Albani, diperlakukan dengan ketelitian yang kurang lebih serupa. Dari mana riwayat itu berasal? Siapa yang meriwayatkannya? Bagaimana keadaan para perawinya? Apakah sanadnya bersambung?
Kemudian, apakah ada jalur lain? Apa komentar para mahir jarḥ wa ta‘dīl? Adakah abnormal yang tidak tampak pada pandangan pertama?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membawa al-Albānī semakin jauh ke dalam bumi hadis.
Ia banyak menghabiskan waktu di al-Maktabah al-Ẓāhiriyyah di Damaskus. Di sana dia berhadapan langsung dengan kitab-kitab dan manuskrip yang menjadi bahan bakar bagi perjalanan intelektualnya. Ia bukan sekadar membaca hadis. Ia memburu hadis.
Ketertarikannya kepada sabda sendiri tidak muncul sekaligus. Menurut sumber-sumber biografinya, ketika usianya sekitar dua puluh tahun, perhatiannya kepada sabda semakin kuat setelah dia membaca majalah al-Manār yang diterbitkan Muhammad Rasyid Rida.
Dari sinilah sesuatu berubah. Minat berubah menjadi kecintaan. Kecintaan berubah menjadi pekerjaan. Dan pekerjaan berubah menjadi jalan hidup.
Lebih dari lima puluh tahun kemudian, ketika menerima King Faisal International Prize pada 1419 H/1999 M, al-Albānī menggambarkan perjalanan panjangnya itu:
«فمنذُ نيِّفٍ وخمسينَ سنةً وأنا أطوفُ في آفاقِ السُّنَّة، وأُصعِّدُ النظرَ في شِعابِها، وأُجهدُ بَصري في البحثِ والتنقيبِ عن نوادرِها وشواردِها…»
Artinya; “Selama lebih dari lima puluh tahun, saya berkeliling di beragam penjuru khazanah Sunnah, mencermati cabang-cabangnya, mengerahkan pandangan dan penglihatan saya untuk meneliti dan menelusuri beragam sabda yang langka dan tersebar.”
Ketika Hadis Menjadi Jalan Hidup
Nama al-Albani kemudian mulai dikenal terutama melalui takhrīj al-ḥadīth—usaha menelusuri sumber hadis, membandingkan jalur periwayatan, dan memberikan penilaian terhadap statusnya. Ia menghasilkan karya yang kemudian tersebar luas di bumi Islam.
Di antaranya Irwā’ al-Ghalīl fī Takhrīj Aḥādīth Manār al-Sabīl, Silsilat al-Aḥādīth al-Ṣaḥīḥah, Silsilat al-Aḥādīth al-Ḍa‘īfah wa al-Mawḍū‘ah, Ṣifat Ṣalāt al-Nabī ﷺ, Aḥkām al-Janā’iz, dan beragam karya tahqiq, takhrij, serta penelitian lainnya.
Karyanya berjumlah sangat banyak. Tetapi yang lebih krusial daripada jumlahnya adalah pengaruhnya. Al-Albani membantu menghidupkan kembali perhatian umat, terutama di kalangan generasi Muslim modern, terhadap pertanyaan yang kadang dianggap sederhana tetapi sesungguhnya sangat penting:
Al-Albani sendiri menjelaskan sungguh luas pekerjaan yang dia lakukan:
«فقد أوعَبتُ فيهما ما تفرَّق في دواوين الإسلام، من علم الرجال، والجرح والتعديل، والأسانيد والعلل، وبخاصة الخفية منها…»
Artinya; “Dalam kedua kitab tersebut saya menghimpun apa yang tersebar dalam beragam kitab Islam berupa pengetahuan tentang para perawi, jarḥ wa ta‘dīl, sanad-sanad dan ‘illat hadis, khususnya ‘illat yang tersembunyi.”
Kalimat itu memperlihatkan bahwa pekerjaan sabda bukan pekerjaan menghafal. Ia adalah pekerjaan meneliti. Seorang peneliti sabda kudu berhadapan dengan nama-nama manusia yang hidup beratus-ratus tahun lalu. Ia kudu mengetahui siapa mereka, kapan mereka hidup, siapa pembimbing dan siswa mereka, gimana penilaian para ustadz terhadap mereka, dan apakah sebuah sanad betul-betul mungkin tersambung.
Tidak mengherankan jika pekerjaan semacam itu memerlukan waktu yang panjang. Dan al-Albani memberikannya. Puluhan tahun lamanya.
Seorang Guru, Bukan Hanya Seorang Penulis
Pengaruh al-Albani kemudian tidak berakhir di meja tulis. Ia mengajar. Ia memberikan ceramah. Ia berjumpa dengan para pelajar.
Ia pernah mengajar di Universitas Islam Madinah pada fase krusial dalam kehidupannya. Dari ruang pengajaran semacam itu, pemikirannya tidak lagi bergerak hanya melalui buku, tetapi juga melalui manusia.
Murid-murid membawa pemikiran gurunya ke tempat lain. Ceramah direkam. Tulisan disalin. Kitab diterbitkan.
Pertanyaan-pertanyaan baru muncul. Jawaban-jawaban baru diberikan. Nama al-Albani kemudian melampaui Damaskus. Ia dikenal di beragam negeri Muslim, termasuk Kuwait dan Uni Emirat Arab, serta di sejumlah organisasi Muslim di Eropa.
Seorang anak Albania yang dulu kudu belajar bahasa Arab dari nol sekarang berbincang kepada bumi Islam dalam bahasa Arab. Ada semacam lingkaran yang sempurna di situ.
Pujian Ibn Baz dan Sebuah Kalimat yang Penting
Namun, mungkin justru lantaran pengaruhnya sangat besar, posisi al-Albānī perlu ditempatkan secara proporsional. Salah satu kesaksian yang krusial datang dari Syekh ‘Abd al-‘Aziz ibn Baz. Ketika ditanya tentang al-Albani, Ibn Baz mengatakan:
«الشيخ ناصر الدين الألباني من خيرة العلماء، ومن أفاضل العلماء، ورجل علامة معروف عندنا بالخير، والاستقامة، ورجل عقيدة»
Artinya; “Syekh Nāṣiruddīn al-Albānī termasuk di antara ustadz terbaik dan ustadz yang utama. Ia adalah seorang berilmu besar yang kami kenal sebagai orang yang baik dan istiqamah, serta seorang yang mempunyai perhatian terhadap akidah.”
Itu pujian yang sangat tinggi. Tetapi Ibn Bāz segera menambahkan sesuatu yang apalagi lebih penting: “Tidak boleh mengambil setiap perkataan yang beliau sampaikan.”
«ولكن لا يجوز الأخذ بكل ما قال»
Artinya; “Tidak boleh mengambil setiap perkataan yang beliau sampaikan.”
Lebih jauh, apalagi Ibn Taymiyyah, kata Ibn Baz, tidak seluruh pendapatnya kudu diterima. Ukurannya bukan nama, melainkan dalil. Dalam bumi ilmu, reputasi boleh membikin sebuah pendapat layak didengar; dia tidak boleh membuatnya kebal dari pemeriksaan.
Ibn Baz apalagi menyebut Al-Albani bukan seorang yang maksum. Pasalnya, Ibn Bāz mengingatkan bahwa tidak ada ustadz yang selamat dari kekeliruan: Malik, Abu Hanifah, al-Syafi‘i, Ahmad bin Hanbal, Sufyan al-Tsauri, al-Auza‘i semuanya pernah keliru. Maka Al-Albani pun tidak ditempatkan di luar norma sejarah keilmuan itu. Ia boleh dikagumi, tetapi tidak boleh didewakan; boleh dijadikan rujukan, tetapi tidak boleh dijadikan pengganti dalil.
Kritik terhadap Al-Albani juga tidak berakhir pada prinsip umum tersebut. ‘Abdullah bin Muhammad al-Duwaisy, melalui kitab Tanbīh al-Qāri’ ‘alā Taqwiyati Mā Dha‘‘afahu al-Albānī, meneliti sejumlah sabda dan atsar yang ditemukan dalam karya-karya Al-Albani.
Menurutnya, ada sabda yang dilemahkan Al-Albani padahal setelah diteliti kembali mempunyai derajat sahih alias hasan; ada yang dilemahkan di satu tempat tetapi dikuatkan di tempat lain; dan ada pula yang hanya dikomentari dengan ungkapan «لم أجده» alias «لم أقف عليه»—“saya tidak menemukannya” alias “saya belum menjumpainya.”
Masalahnya sederhana tetapi serius: tidak menemukan sebuah sabda bukan berfaedah sabda itu tidak ada. Al-Duwaisy apalagi mengaku terdorong menulis setelah memandang banyak orang mengikuti pendapat Al-Albani, tanpa penelitian.
Kritik semacam ini mengingatkan bahwa apalagi seorang pemburu sabda pun tetap kudu diburu pendapatnya, bukan untuk menjatuhkannya, melainkan untuk memastikan bahwa kerja ilmiah tidak berakhir pada satu nama.
Di sinilah ironi Al-Albani menjadi menarik. Sepanjang hidupnya dia membujuk umat untuk tidak menerima sabda begitu saja: periksa sanadnya, telusuri sumbernya, kenali perawinya, bandingkan jalurnya, dan lihat apa yang dikatakan para ahli.
Tetapi setelah namanya menjadi besar, sebagian orang justru memperlakukan penilaiannya seperti keputusan final. Al-Albani dulu membongkar taklid terhadap riwayat; jangan-jangan sebagian pengikutnya kemudian membangun taklid baru terhadap penilaiannya. Tentu itu bukan kesalahan Al-Albani semata.
Setiap tokoh besar berisiko diperlakukan seperti itu oleh pengikutnya. Tetapi justru lantaran itulah karya Al-Albani kudu dibaca dengan metode yang dia wariskan sendiri: kritis, teliti, dan tidak mudah tunduk kepada otoritas nama.
Maka, menempatkan Al-Albani secara setara bukanlah dengan mengatakan bahwa dia selalu benar, juga bukan dengan memburu kesalahannya lampau menghapus seluruh jasanya. Ia adalah muhaddits besar, tetapi bukan Nabi; rujukan penting, tetapi bukan sumber wahyu. Karya-karyanya layak dibaca, penilaiannya layak diperhitungkan, dan kritik terhadapnya juga layak didengar.
Barangkali penghormatan paling sehat kepada Al-Albani justru bukan dengan mengatakan, “Al-Albani berbicara demikian, maka selesai,” melainkan dengan bertanya seperti yang dia sendiri ajarkan kepada kita: apa dalilnya? Sebab dalam tradisi ilmu, seorang ustadz boleh meninggalkan warisan yang sangat besar; tetapi tidak seorang pun berkuasa mewariskan kekebalan dari kritik.
Terlepas dari itu, pada 1419 H/1999 M, al-Albani memperoleh King Faisal International Prize for Islamic Studies. Penghargaan itu diberikan sebagai pengakuan terhadap kontribusinya dalam kajian hadis, khususnya tahqiq, takhrij, dan penelitian terhadap Sunnah Nabi.
Penghargaan itu datang ketika perjalanan hidupnya nyaris selesai. Ia sudah melewati puluhan tahun bekerja dalam kesunyian perpustakaan. Sudah melewati perdebatan. Sudah menulis begitu banyak.
Pada Sabtu, 22 Jumādā al-Ākhirah 1420 H, bertepatan dengan 2 Oktober 1999 M, Muhammad Nasiruddin al-Albani wafat di Amman, Yordania.
Lebih dari delapan puluh tahun sebelumnya, dia lahir di Iskodra sebagai seorang anak Albania. Kini dia meninggalkan bumi sebagai seorang ustadz sabda yang namanya dikenal jauh melampaui negeri kelahirannya.
Pada akhirnya, kisah al-Albani adalah kisah tentang seorang manusia yang menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk sesuatu yang bagi sebagian orang mungkin tampak sangat sederhana: memastikan apakah sebuah sabda betul-betul dapat dinisbatkan kepada Nabi.
