Bolehkah Shalat Ghaib Bagi Jenazah Yang Tidak Ditemukan?

Jan 21, 2026 12:12 PM - 3 bulan yang lalu 116187
Bolehkah Shalat Ghaib bagi Jenazah yang Tidak Ditemukan?Bolehkah Shalat Ghaib bagi Jenazah yang Tidak Ditemukan?

Kincai Media – Dalam beberapa peristiwa musibah, seperti tenggelam di laut alias Sungai alias kecelakaan pesawat, tidak jarang jasad korban tidak sukses ditemukan. Kondisi ini kemudian menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat: apakah boleh melaksanakan shalat ghaib bagi jenazah yang tidak ditemukan?

Sejatinya, ustadz fikih telah memberikan penjelasan yang cukup rinci mengenai persoalan ini. Asy-Syarwani dalam Hawasyi Asy-Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj menjelaskan bahwa dalam persoalan shalat jenazah, khususnya bagi orang yang meninggal lantaran tenggelam, seyogianya mengikuti pendapat pendapat yang dipilih (qaul mukhtar) oleh Imam ar-Rafi‘i, jenazah tersebut tetap dishalati.

Asy-Syarwani menegaskan:

وَيَنْبَغِي تَقْلِيدُ ذَلِكَ الْجَمْعِ لَا سِيَّمَا فِي الْغَرِيقِ عَلَى مُخْتَارِ الرَّافِعِيِّ فِيهِ تَحَرُّزًا عَنْ إزْرَاءِ الْمَيِّتِ وَجَبْرًا لِخَاطِرِ أَهْلِهِ

Artinya: “Seyogianya mengikuti pendapat para ustadz tersebut, terlebih dalam konteks jenazah yang meninggal lantaran tenggelam, berasas pendapat pilihan Imam ar-Rafi‘i, agar jenazah tersebut tetap dishalati. Hal itu dilakukan sebagai corak menjaga kehormatan mayit serta untuk menghibur dan menguatkan hati keluarganya yang ditinggalkan.” (Asy-Syarwani, Hawasyi Asy-Syarwani ‘ala Tuhfah al-Muhtaj, juz 3, hlm. 189)

Lebih jauh lagi, Dalam kitab at-Tabṣirah, Abu al-Hasan Ali bin Muhammad al-Lakhmi menjelaskan bahwa para ustadz berbeda pendapat tentang shalat jenazah bagi orang yang tenggelam alias orang yang meninggal dalam keadaan ghaib (tidak ditemukan jasadnya).

Menurut Imam Malik, orang yang meninggal dalam keadaan seperti itu tidak dishalati. Namun Abdul Aziz bin Abi Salamah beranggapan bahwa shalat jenazah tetap dilakukan, baik terhadap orang yang tenggelam maupun yang dimakan hewan buas. Pendapat ini beralasan pada perbuatan Nabi yang menshalati Raja Najasyi, meskipun beliau wafat di negeri yang jauh.

Sementara itu, Ibnu Habib menyebut bahwa sebagian ustadz lain beranggapan bahwa shalat Nabi Muhammad atas Najasyi adalah kekhususan Nabi, dan tidak bertindak bagi umatnya. Mereka beralasan bahwa Nabi SAW sendiri tidak dishalati oleh siapa pun setelah beliau wafat. Ada pula pendapat lain yang mengatakan bahwa jenazah Najasyi diangkat dan diperlihatkan kepada Nabi, sehingga beliau menshalatinya secara langsung.

Namun, pendapat yang membolehkan shalat jenazah bagi orang yang ghaib dinilai lebih kuat. Alasannya, Nabi betul-betul melakukan shalat atas Najasyi. Jika perihal itu terlarang, tentu Nabi tidak bakal melakukannya. Dan jika perbuatan tersebut hanya unik bagi Nabi, pasti bakal menjelaskannya kepada umatnya.

Sebab, Nabi mengetahui bahwa umatnya bakal meneladani dan Nabi tidak bakal membiarkan umatnya melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan. Simak penjelasan berikut;

قال الشيخ -رضي الله عنه-: القول بجواز الصلاة على الغائب أحسن؛ للحديث في النجاشي، ولو كان ممنوعا لم يفعله النبي -صلى الله عليه وسلم- ولو كان جائزا له خاصة لأبانه لأمته; لأنه عالم أن أمته تقتدي بأفعاله، ولم يكن ليتركهم على فعل ما لا يجوز، فتركه إياهم مع ظاهر فعله دليل على أنه أجاز فعل ذلك لهم.

Artinya; Pendapat yang membolehkan shalat jenazah atas orang yang ghaib adalah pendapat yang lebih baik, berasas sabda tentang (shalat Nabi SAW atas) Raja Najasyi. Seandainya perihal itu terlarang, tentu Nabi tidak bakal melakukannya. Dan seandainya perihal itu hanya diperbolehkan unik bagi beliau, niscaya beliau bakal menjelaskannya kepada umatnya.

Karena beliau mengetahui bahwa umatnya bakal meneladani perbuatan-perbuatannya, dan beliau tidak mungkin membiarkan mereka melakukan sesuatu yang tidak dibolehkan. Maka pembiaran beliau terhadap mereka, disertai dengan perbuatan beliau yang nyata, menjadi dalil bahwa beliau membolehkan perbuatan tersebut bagi umatnya. (Abu al-Hasan Ali bin Muhammad al-Lakhmi, at-Tabṣirah, jilid II, laman 674).

Lebih jauh lagi, jika telah terbit keputusan resmi bahwa seseorang betul-betul telah meninggal bumi lantaran tenggelam, sementara jasadnya tidak ditemukan, maka kebanyakan ustadz membolehkan penyelenggaraan shalat ghaib atasnya.  Imam an-Nawawi menjelaskan ketentuan teknis shalat ghaib, termasuk syarat dan cakupannya. Ia menyatakan:

تجوز الصلاة على الغائب بالنية وإن كان في غير جهة القبلة والمصلي يستقبل القبلة، وسواء كان بينهما مسافة القصر أم لا، بشرط أن يكون خارج البلد

Artinya: “Diperbolehkan melaksanakan shalat ghaib dengan niat, meskipun jenazah berada tidak di arah kiblat dan orang yang shalat tetap menghadap kiblat, baik jaraknya sejauh safar maupun tidak, dengan syarat jenazah berada di luar daerah (kota).” (Imam an-Nawawi, Raudhah ath-Thalibin, jilid 2, hlm. 130)

Berdasarkan penjelasan para ulama, dapat disimpulkan beberapa poin krusial berikut:

Jika jasad orang yang tenggelam ditemukan, maka dia diperlakukan seperti jenazah lainnya: dimandikan (jika memungkinkan), dikafani, dishalatkan, dan dimakamkan.

Jika jasad tidak ditemukan dan belum ada kepastian kematian, maka shalat jenazah belum boleh dilaksanakan.

Jika telah ada keputusan resmi yang menetapkan kematiannya, maka diperbolehkan melaksanakan shalat ghaib atasnya sebagai corak pemuliaan terhadap mayit dan penghiburan bagi keluarganya. Wallahu a‘lam bish-shawab.

Selengkapnya