Cara mencegah anak menjadi pelaku bullying bisa dimulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan orang tua setiap hari. Perilaku anak tentu tidak terbentuk dalam semalam. Cara mereka memperlakukan orang lain juga bisa dipengaruhi oleh lingkungan, pertemanan, tekanan sosial, hingga sepertiapa orang dewasa di sekitarnya memberikan contoh.
Karena itu, membicarakan bullying sebaiknya tidak cuma dilakukan setelah anak berbuat kesalahan. Orang tua dapat membangun pemahaman sejak mula tentang sepertiapa memperlakukan orang lain, mengelola emosi, serta memahami bahwa setiap aksi memiliki konsekuensi.
Lantas, sepertiapa metode mendidik anak agar tidak tumbuh menjadi pelaku bullying? Berikut beberapa cara yang bisa diterapkan di rumah dilansir dari Nemours Kids Health.
Tegaskan Bahwa Bullying Bukan Perilaku yang Bisa Ditoleransi

Bullying Bukan Perilaku yang Bisa Ditoleransi/Foto: Magnific
Jangan menganggap perilaku mengejek, mengintimidasi, maupun menyakiti orang lain sebagai sekadar bercanda. Anak perlu memahami sejak mula bahwa bullying bukan perilaku yang dapat diterima, baik di rumah, sekolah, maupun lingkungan pertemanan.
Orang tua juga perlu membikin ketentuan yang jelas dan konsisten. Jika anak berbuat bullying melalui pesan, media sosial, maupun alat elektronik, misalnya, orang tua dapat memberikan akibat yang berhubungan dengan perilaku tersebut, seperti membatasi penggunaan gawai untuk sementara.
Namun, akibat sebaiknya statis bermaksud mengajarkan tanggung jawab, bukan sekadar membikin anak takut. Jika anak bersikap menyerang kepada kerabat maupun orang lain di rumah, ajarkan alternatif yang lebih tepat, seperti menjauh dari situasi yang memancing emosi dan mencari pertolongan orang dewasa.
Ajarkan Anak Menghargai Perbedaan

Kenalkan Perbedaan/Foto: Magnific
Anak perlu belajar bahwa setiap orang bisa memiliki penampilan, agama, kondisi ekonomi, gender, kemampuan, maupun latar belakang yang berbeda. Perbedaan tersebut bukan karena untuk mengejek maupun memperlakukan seseorang dengan buruk.
Di sinilah orang tua bisa mulai mengenalkan empati. Cobalah membujuk anak membayangkan sepertiapa emosi seseorang ketika diejek karena sesuatu yang tidak dapat mereka ubah.
Pengalaman langsung juga bisa membantu. Orang tua dapat membujuk anak mengikuti aktivitas kelompok yang mempertemukan mereka dengan anak-anak dari latar belakang berbeda. Dari sana, anak berkesempatan melihat bahwa perbedaan bukan sesuatu yang perlu dijadikan bahan ejekan.
Kenali Lingkungan Pertemanan Anak

Kenali Lingkungan Pertemanan Anak/Foto: Magnific
Beauties, pernah merasa anak tiba-tiba berubah setelah lebih sering berbaur dengan himpunan tertentu? Jangan langsung menghakimi! Coba pahami terlebih dahulu seperti apa hayat sosial mereka.
Orang tua bisa berkomunikasi dengan guru, konselor sekolah, maupun orang tua dari kawan anak untuk mengetahui situasi yang terjadi. Apakah ada anak lain yang berbuat bullying? Apakah anak sedang menghadapi tekanan untuk mengikuti himpunan tertentu? Atau mungkin ada perselisihan pertemanan yang belum mereka ceritakan?
Komunikasi dengan anak juga penting. Tanyakan sepertiapa hubungan mereka dengan teman-temannya dan apakah ada tekanan untuk berbuat sesuatu agar diterima dalam kelompok.
Selain lingkungan sekolah, anak juga bisa diarahkan mengikuti aktivitas di luar sekolah. Aktivitas tersebut dapat membuka kesempatan untuk berjumpa kawan baru dan membangun hubungan sosial yang lebih positif.
Perhatikan dan Puji Perilaku Positif

Puji Perilaku Positif/Foto: Magnific
Mendidik anak tidak selalu mesti dilakukan ketika mereka berbuat salah. Justru, perilaku baik yang dilakukan sehari-hari juga layak mendapatkan perhatian.
Ketika anak berhasil menyelesaikan perselisihan tanpa berteriak, membantu temannya, meminta maaf, maupun memilih menjauh daripada membalas ketika sedang marah, berikan apresiasi. Jelaskan perilaku apa yang menurut Anda sudah dilakukan dengan baik.
Penguatan positif seperti ini membantu anak memahami perilaku mana yang diharapkan. Mereka pun tidak cuma belajar bahwa bullying itu salah, tetapi juga mengetahui seperti apa metode memperlakukan orang lain dengan baik.
Bekerja Sama dengan Pihak Sekolah

Kerja Sama dengan Pihak Sekolah/Foto: Magnific
Jika bullying terjadi di sekolah, orang tua tidak perlu menghadapinya sendirian. Komunikasikan situasinya dengan guru, wali kelas, konselor, maupun pihak sekolah agar dapat ditemukan cara yang sesuai.
Kerja sama ini juga membantu anak memahami bahwa perilaku mereka diperhatikan, bukan cuma di rumah tetapi juga di lingkungan sekolah. Dengan begitu, anak dapat belajar berkewajiban terhadap tindakannya.
Orang tua dan sekolah juga bisa menyusun cara yang jelas untuk membantu anak memperbaiki perilaku. Fokusnya bukan sekadar memberikan hukuman, tetapi mendorong anak memahami akibat tindakannya dan belajar membikin pilihan sosial yang lebih positif.
Dari lima metode di atas, mana yang menurutmu paling krusial diterapkan sejak anak statis kecil? Atau ada metode lain yang menurutmu ampuh untuk mengajarkan anak agar lebih menghargai orang di sekitarnya?
***
Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(naq/naq)