Kincai Media ,JAKARTA -- Perkembangan Artificial Intelligence (AI) alias kepintaran buatan telah dimanfaatkan secara luas oleh para pembuat konten untuk mempermudah proses pembuatan beragam materi digital. Seiring pesatnya kemajuan teknologi tersebut, bermunculan pula konten dakwah di media sosial yang menampilkan gambar maupun video hasil rekayasa AI dengan visual yang sangat menyerupai manusia.
Muncul pertanyaan, lantas gimana langkah mengetahui konten AI yang realistis terutama dalam konten bertema agama.
AI Skills Director for Indonesia di Microsoft Elevate, Arief Suseno mengatakan, sebenarnya salah satu syarat yang selalu ditekankan untuk bisa menggunakan AI itu adalah keahlian critical thinking (berpikir kritis) termasuk domain expertise (pemahaman mendalam).
"Jadi jika terbiasa alias mungkin mendalami hal-hal tertentu misalkan sukanya sepak bola, mengerti banget tentang sepak bola, kemudian ada tulisan-tulisan yang dihasilkan oleh AI berangkaian dengan sepak bola pasti bakal lebih kritis bahwa oh ini (AI) salah nih, perihal yang sama yang mau kita tekankan di beragam aspek tidak hanya pendidikan umum tapi di pesantren pun sama (yakni critical thinking dan domain expertise)," kata Arief kepada Republika di kegiatan AI Teaching Power Impact Forum yang diselenggarakan oleh NU Care Global dan Microsoft, Senin (29/6/2026)
Ia menjelaskan, ketika para santri domain expertise-nya adalah kitab kuning, kemudian memandang kontan AI yang rupanya mengeluarkan informasi-informasi yang seolah-olah betul dari kitab kuning, maka para santri bakal mempunyai pemikiran kritis dan mengetahui isi konten tersebut salah. Kemudian santri bisa memaksa AI untuk mengecek ulang jawabannya sekaligus untuk memperbarui informasi yang ada dalam model.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·