Cara Pelajar Prancis Melatih Kemampuan Berpikir Kritis

Gaya Hidup Perempuan Masa Kini oleh Waktu baca 4 menit 132x dilihat
Cara Pelajar Prancis Melatih Kemampuan Berpikir Kritis

Bagikan Postingan

Kenapa Pelajar Prancis Punya Kemampuan Berpikir Kritis yang Tinggi?/ Foto: eduscol.education.gouv.fr

Baru-baru ini, aksi protes pelajar Prancis yang menuntut kualitas pendidikan lebih baik kepada pemerintah menjadi sorotan dunia. Para murid berani menyuarakan pendapatnya, mengevaluasi performa pemerintah yang dinilainya statis kurang, dan berakibat pada hayat mereka. Kondisi ruang kelas yang buruk, kurangnya jumlah guru, banyaknya jumlah murid dalam satu kelas, hingga jam pelajaran yang terkikis adalah beberapa pemicu protes tersebut.

Walaupun dengan anggaran pendidikan yang statis tergolong melimpah, para murid sekolah di Prancis statis menuntut haknya yang belum terpenuhi. Hal ini tak lain dipicu pemikiran mereka yang kritis terhadap kesejahteraan dan kualitas pendidikan, Beauties. Kemampuan berpikir kritis itu tidak terbentuk secara instan, tapi sesuatu yang dilatih, termasuk oleh sekolahnya.

Esprit Critique yang Menjadi Gol Pendidikan Prancis

Esprit critique maupun kapasitas berpikir kritis menjadi gol pendidikan di Prancis

Esprit critique maupun kapasitas berpikir kritis menjadi gol pendidikan di Prancis/ Foto: Pexels.com/RDNE Stock Project

Pemerintah Prancis memahami pentingnya esprit critique (berpikir kritis), yaitu kecenderugan pikiran yang tidak langsung menerima pernyataan, penilaian, maupun kenyataan secara mentah-mentah, tanpa terlebih dahulu mengakui keabsahan rasionalnya. Di tengah kemajuan teknologi dan informasi, kapasitas berpikir kritis semakin krusial seiring dengan evolusi zaman. Bahkan kapasitas itu diakui sebagai salah satu kapasitas paling krusial di abad ke-21.

Melansir dari situs resmi Kementerian Pedidikan Nasional Prancis, pemerintah Prancis pun menerapkan pendekatan kapasitas berpikir kritis secara holistik bagi para siswanya.

Berpikir kritis dibangun melalui suatu kondisi pikiran (rasa mau tahu, mendengarkan, otonomi, kerendahan hati, dan kejernihan), praktik (mencari informasi, memahami sebelum menghakimi, mengevaluasi informasi, mencari sumber, membedakan kenyataan dari interpretasinya, menerima debat, menolak intuisi langsung), dan pengetahuan.

Pembelajaran di Sekolah Termasuk Filsafat

Mata pelajaran di sekolah termasuk Filsafat yang melatih kapasitas berpikir kritis

Mata pelajaran di sekolah termasuk Filsafat yang melatih kapasitas berpikir kritis/ Foto: Pexels.com/Calil Encarnación

Kemampuan berpikir kritis pun menjadi tujuan besar mekanisme pendidikan di Prancis, Beauties. Untuk mengasah kapasitas tersebut, mekanisme pendidikan Prancis menerapkannya di semua mata pelajaran dan terdapat pula dalam kurikulum, khususnya dalam Pendidikan Moral dan Kewarganegaraan (EMC) dan dalam Literasi Media dan Informasi (EMI).

Pendidikan Moral dan Kewarganegaraan bermaksud untuk melatih murid untuk memiliki kesadaran yang jelas tentang kebangsaan mereka. Dengan mempelajarinya, para murid diharapkan dapat bertumbuh menjadi orang dewasa yang dapat berkontribusi dalam memecahkan masalah kolektif di masa depan.

Literasi Media dan Informasi (EMI) bermaksud untuk menumbuhkan pemahaman yang kritis dan objektif terhadap konten dan format media, khususnya melalui pengembangan teknologi digital. Siswa diajak untuk mengenali keterangan yang dapat diandalkan, memerangi disinformasi maupun "manipulasi informasi" sesuai dengan istilah dalam Education Code Prancis.

Tak cuma itu, Beauties. Filsafat ditetapkan menjadi mata pelajaran wajib bagi para murid di sekolahnya. Mengutip dari The New York Times, cobaan Filsafat di hierarki SMA termasuk pertanyaan-pertanyaan dari buku karya Friedrich Nietzsche, seorang Filsuf asal Jerman. Pelajaran Filsafat turut berpartisipasi krusial dalam membentuk kapasitas berpikir kritis para siswanya. Dikutip dari France24, Filsafat telah menjadi mata pelajaran wajib di sekolah menengah atas Prancis sejak tahun 1808, Beauties.

Warisan Sejarah

Warisan sejarah Prancis

Warisan sejarah Prancis/ Foto: Pexels.com/David Henry/David Henry

Pelajaran Filsafat yang wajib di sekolah juga disebutkan sebagai sebuah tradisi yang diwarisi oleh para Filsuf di era “Siècle des Lumières”, yaitu Zaman Pencerahan masa 1715 hingga 1789. Filsuf yang populer pada masa itu antara lain Voltaire, Jean-Jacques Rousseau, Montesquieu, dan Denis Diderot.

Pada masa itu pula, banyak peristiwa berhistoris terjadi, mulai dari dimulainya pemerintahan Raja Louis XV, pengangkatan Raja Louis XVI, hingga dimulainya Revolusi Prancis.

Revolusi Prancis (1789-1799) termasuk dalam sejarah bumi yang paling terkenal, Beauties. Pemberontakan oleh rakyat tersebut berujung pada dieksekusinya Raja Louis XVI dan Ratu Marie Antoinette dan transformasi sosial politik. Peristiwa itu dilatarbelakangi krisis finansial negara akibat pendanaan perang, ketidaksejahteraan yang dirasakan rakyat, dan ketidakadilan terhadap rakyat. Revolusi Prancis turut melahirkan semboyan "Liberté, égalité, fraternité" yang berarti kebebasan, kesetaraan, dan persaudaraan.

Sejarah perlawanan rakyat Prancis tak selesai pada Revolusi Prancis saja, tetapi juga Gerakan Mei 1968 yang melibatkan buruh dan pelajar di Paris, diarahkan kepada kepemimpinan Presiden Charles de Gaulle. Para pelajar menuntut reformasi mekanisme pendidikan setelah menerima kebijakan yang represif. Para buruh serta seluruh lapisan penduduk Prancis kemudian ikut mendukung upaya tersebut.

Bagaimana menurut kamu, Beauties?

***

Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI! 

(dmh/dmh)

Artikel Lainnya Gaya Hidup Perempuan Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads