In this economy, banyak pekerja mulai menyiapkan rencana alternatif untuk mengurangi risiko ketika kondisi pekerjaan memburuk; tren itu dikenal sebagai career cushioning.
Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dan kemajuan pesat kecerdasan buatan (AI) membuat rasa aman di tempat kerja semakin rapuh bagi sebagian orang. Dari situ lahir kebiasaan proaktif yaitu menyiapkan bantalan karier sebelum masalah benar-benar terjadi.
Daripada menunggu terlempar dari pekerjaan, banyak karyawan kini mengasah keterampilan, memperluas jaringan, dan mencari peluang sampingan sebagai langkah antisipasi. Apakah Anda juga melakukan hal serupa?
Apa itu career cushioning?
Mengutip Forbes, career cushioning adalah tindakan terselubung yang dilakukan pekerja untuk menyiapkan opsi cadangan sambil tetap aktif bekerja, sebagai respons terhadap ketidakstabilan pasar tenaga kerja. Praktik ini muncul seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan PHK massal.
Banyak karyawan kini membuka situs lowongan pekerjaan saat commut e, menyimpan informasi peluang yang belum tentu mereka inginkan, atau memperbarui CV meski belum berniat langsung melamar — semuanya bukan karena ketidakpuasan terhadap pekerjaan saat ini, melainkan bentuk kesiapsiagaan menghadapi ketidakpastian.
Sementara itu mengutip situs web BPJS Ketenagakerjaan, career cushioning perlu dilakukan oleh pekerja dengan menyiapkan persediaan opsi pekerjaan lain. Praktik ini berfungsi sebagai perlindungan terhadap risiko PHK yang dapat muncul akibat perubahan ekonomi atau resesi.
Dengan menerapkan career cushioning, pekerja dapat menyusun plan A, B, C, dan seterusnya, sehingga lebih siap saat menghadapi situasi di luar kendali, seperti kehilangan pekerjaan akibat PHK.
Cara melakukan career cushioning
Berikut beberapa langkah career cushioning yang praktis dan mudah dilakukan.
1. Upgrade CV
Sebelum memulai career cushioning, perbarui CV Anda. Ganti nomor handphone yang sudah tidak aktif, susun ulang pengalaman kerja, dan tambahkan pencapaian yang relevan agar profil terlihat segar dan profesional.
Masukkan juga keterampilan baru yang relevan, termasuk sertifikat atau hasil assessment yang pernah Anda ikuti, sehingga recruiter dapat langsung melihat nilai tambah Anda.
2. Perbanyak relasi
Banyak orang menahan diri untuk tidak berjejaring karena rasa malu, padahal relasi yang luas sering membuka akses ke peluang kerja yang tidak dipublikasikan secara luas.
Dengan memperluas jaringan, Anda berpeluang menerima rekomendasi, dukungan, dan ide-ide baru yang dapat mendorong perkembangan karier. Relasi yang baik akan mempermudah pencarian pekerjaan bila menghadapi PHK.
3. Asah keterampilan
Tingkatkan keahlian yang sudah dimiliki, baik hard skills maupun soft skills. Kemampuan yang terasah membuat Anda lebih kompetitif karena banyak recruiter menilai kesesuaian kandidat berdasarkan keterampilan nyata.
Jika recruiter melihat keterampilan yang cocok dengan kebutuhan perusahaan, peluang diundang wawancara pun semakin besar dan peluang diterima kerja menjadi nyata.
Lakukan di luar jam kantor
Mempersiapkan diri menghadapi ancaman PHK penting, namun Anda harus bijak agar tanggung jawab pekerjaan utama tidak terganggu. Jadwalkan aktivitas career cushioning di luar jam kerja agar konsentrasi dan kinerja di kantor tetap terjaga.
Dengan cara ini, Anda dapat meng-upgrade CV, memperluas jaringan, dan mengasah keterampilan secara lebih leluasa tanpa mengganggu pekerjaan utama atau menimbulkan kekhawatiran di tempat kerja.