Artis Shireen Sungkar resmi menikah dengan Teuku Wisnu pada tahun 2013, Bunda. Dari pernikahan tersebut, keduanya sekarang dikaruniai tiga orang anak yang melengkapi kebahagiaan family mereka.
Namun di kembali kehidupan rumah tangga yang terlihat harmonis, Shireen dan Wisnu juga menghadapi perjalanan yang tidak mudah. Salah satunya mengenai kondisi anak ketiga mereka yang diketahui mempunyai kebutuhan khusus.
Anak ketiga mereka yang berjulukan Cut Shafiyyah Mecca Al Fatih, sempat melalui proses pemeriksaan sebelum akhirnya mendapatkan pemeriksaan tersebut. Teuku Wisnu menceritakan bahwa dirinya dan Shireen sebelumnya tidak mengetahui kondisi yang terjadi pada sang anak.
"Kita baru tahu jika Shafiyyah berkebutuhan khusus. Sebenarnya Shireen sudah sempat bilang sama aku, 'Kenapa ya Shafiyyah enggak mau ke tempat-tempat yang ramai. Terus dia seperti mengelak ke tempat yang ramai'. Aku jawabannya waktu itu ke Shireen ya mungkin dia pemalu," ujar Teuku Wisnu, dikutip dari kanal YouTube @TheSungkarsFamily.
Namun sebagai seorang Bunda, Shireen mengaku mempunyai firasat bahwa sang anak perlu diperiksa lebih lanjut. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan, akhirnya mereka mendapatkan kepastian pemeriksaan mengenai kondisi Shafiyyah.
Awal mula Shireen mengetahui kondisi sang anak
Bunda tiga anak ini menceritakan bahwa pada awalnya perkembangan Shafiyyah terlihat normal seperti anak pada umumnya. Ia mengaku tidak ada perihal yang mencolok pada sang anak.
"Jadi, Shafiyyah itu dari 0 sampai 2 tahun menurut kita baik-baik saja. Memang speech delay aja, kosakatanya ada terus. Usia 0 sampai 2 tahun tuh telat banget kelihatannya," kata Shireen.
Seiring waktu, Shireen mulai merasakan adanya perubahan pada perilaku anaknya. Sang anak disebut lebih sering menyendiri dan tidak tertarik bermain berbareng anak lain.
"Tapi memang ada momen yang akhirnya Shafiyyah itu lama-lama enggak mau main bareng ya. Kalau saya ajari dia menghindar, lebih suka melakukan apa-apa sendiri gitu," ungkapnya.
Kondisi semakin terlihat saat masa pandemi COVID-19, ketika kegiatan anak banyak dilakukan di rumah. Kala itu, perkembangan sang anak justru terlihat mengalami perubahan, Bunda.
"Paling parah waktu itu COVID-19. Waktu itu dia (Shafiyyah) enggak beraktivitas di luar. Kelas-kelasnya berhenti, terus enggak ada main di playground, enggak ada kegiatan apa-apa, main di rumah, dan dia tuh anaknya enggak gadget," ujarnya.
Shireen mengaku saat itu merasa terpukul lantaran memandang perubahan yang cukup jelas pada anaknya. Shireen menyebut kosakata yang sebelumnya ada justru menghilang dan kontak mata pun berkurang.
Di tengah kondisi tersebut, Shireen dan suami sempat menunda pemeriksaan ke rumah sakit lantaran situasi pandemi yang tetap tinggi. Hingga akhirnya dilakukan pemeriksaan saat sang anak berumur 2 tahun 8 bulan.
Setelah melalui proses panjang, akhirnya Shireen mendapatkan kepastian bahwa sang anak mengalami autisme. Ini juga yang membikin Shireen bingung dan kudu belajar banyak perihal sebagai orang tua.
"Terus baru tahu jika Shafiyyah itu memang autisme. Waktu itu bingung mencernanya gitu. Autisme itu apa? Terus saya kudu melakukan apa? Terapinya itu seperti apa?" ungkap Shireen.
Mengetahui kondisi sang anak, Shireen sempat menyalahkan dirinya sendiri sebagai seorang Bunda. Berbagai pertanyaan dan rasa bersalah sempat muncul dalam proses penerimaannya.
"Aku salahin diri saya banget. Apa saya salah makan waktu hamil? Apa saya stres pas hamil? Apa saya salah mendidiknya?" tutur Shireen.
Perjalanan Shireen menerima takdir dan belajar ikhlas
Shireen Sungkar, Teuku Wisnu, dan Syafiyyah/Foto: Instagram: @shireensungkar
Dalam proses mendampingi sang anak, Shireen menyadari bahwa support lingkungan dan orang sekitar sangatlah penting. Ia merasa penerimaan terhadap kondisi anak bukanlah perihal yang mudah untuk dijalani seorang diri.
"Aku merasa di situ pentingnya support lingkungan dan guru. Karena untuk menerima takdir itu enggak mudah ya," ujarnya.
Shireen juga menceritakan bahwa dia sempat berbincang dengan seorang ustaz untuk mencari ketenangan hati. Ia mau tahu gimana langkah tetap kuat tanpa terus larut dalam kesedihan.
"Aku bicara sama ustaz, 'Gimana ya, ustaz, agar saya tuh nerima, saya mau berjuang gitu. Terus enggak sedih memandang anak-anak seumuran Shafiyyah sudah bisa bicara, seumurannya bisa main'," kata Shireen.
Dari percakapan tersebut, dia mendapatkan nasihat yang membuatnya banyak merenung tentang takdir. Shireen pun mulai memandang segala sesuatu dari perspektif pandang yang lebih jauh.
"Tapi Masya Allah ustaz waktu itu bilang, 'Kita manusia itu hanya bisa berencana. Allah yang kasih takdir. Kamu dikasih surga di depan mata, kenapa Anda kudu pusing sama masa depan anak ketika Allah itu sudah menakdirkan anaknya?'" ujar Shireen.
Mendengar perihal itu, Shireen mengaku perasaannya sempat kombinasi campur dan susah dijelaskan. Ia mulai sadar bahwa selama ini dia terlalu konsentrasi pada kekhawatiran dibandingkan rasa syukur.
"Wah, itu emosi saya langsung enggak karuan. Memang saya tuh kenapa ya, saya lebih konsentrasi marah sama kondisi daripada konsentrasi berpikir Allah itu baik lho gitu," kata Shireen.
Dalam perjalanan mendampingi anaknya, Shireen juga mengalami banyak naik turun emosi sebagai Bunda. Ia merasakan antara rasa syukur dan kesedihan yang datang silih berganti.
"Aku hatinya naik turun mendampingi Shafiyyah. Banyaklah fase-fase yang saya bersyukur, tapi banyak juga fase-fase saya sedih," tuturnya.
Shireen juga mengingat kembali nasihat yang dia dapatkan tentang makna 'surga di depan mata' dalam kehidupannya. Ia pun sekarang lebih berterima kasih dan menerima keadaan dengan hati yang tenang.
"Allah kasih pintu surga depan mata, dikasih anak berkebutuhan unik itu surga. Kenapa sih kita enggak bersyukur? Padahal jika kita bersyukur, kita bisa menjalani perihal itu," ujar Shireen.
"Di situ saya merasa pentingnya pengetahuan agar kita bisa mengambil perspektif pandang yang berbeda dalam kehidupan," tuturnya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·