Ciri Kepribadian Orang Yang Jarang Bersosialisasi Menurut Psikolog

May 14, 2026 04:50 PM - 1 bulan yang lalu 41099

Jakarta -

Tidak semua orang merasa cocok berada di tengah keramaian alias obrolan yang berjalan terus-menerus, Bunda. Ada juga yang justru merasa lebih nyaman ketika suasana lebih tenang dan tidak terlalu banyak interaksi.

Di kembali semua itu, sebagian orang memang lebih memilih menjaga jarak dari kegiatan sosial yang padat. Bagi mereka, situasi seperti kumpul bareng alias percakapan yang panjang bisa terasa menguras energi.

Bukan berfaedah mereka tidak suka dengan orang lain, ya. Hanya saja, setiap orang punya langkah yang berbeda dalam merasa nyaman saat berinteraksi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Kondisi seperti ini sebenarnya kerap terlihat dalam keseharian. Bahkan, ada karakter kepribadian tertentu yang biasanya terlihat pada orang yang jarang bersosialisasi.

Berikut ini terdapat karakter kepribadian orang yang jarang bersosialisasi menurut psikolog, dikutip dari laman Psychology Today dan Your Tango.

1. Cenderung pemalu

Dalam pandangan psikolog, orang yang tidak terlalu aktif secara sosial rupanya mempunyai latar belakang yang berbeda. Profesor ilmu jiwa asal Amerika Serikat, Julie Bowker, berbareng timnya mengatakan bahwa orang dengan sifat ini tidak bisa disamaratakan begitu saja.

Hampir 300 orang dewasa berumur 18-25 tahun diminta mengisi kuesioner tentang kepribadian, motivasi, serta pengalaman sosial mereka.

Dari jawaban itu, para peneliti memandang gimana kebiasaan menarik diri bisa berangkaian dengan beragam pengalaman, baik yang menyenangkan maupun yang kurang nyaman.

Psikolog sosial asal Amerika Serikat, Bella DePaulo, Ph.D., menambahkan gambaran tentang orang yang pemalu. Ia menjelaskan bahwa ada seseorang yang sebenarnya mempunyai kemauan untuk berinteraksi, tetapi kadang tersendat oleh rasa tidak nyaman alias malu.

2. Mereka antisosial

Selain itu, ada juga jenis orang yang jarang bersosialisasi dan sering disebut sebagai antisosial. Menurut DePaulo, golongan ini bukan selalu berfaedah tidak suka orang lain, tetapi lebih tidak mempunyai kecenderungan untuk memilih sendiri alias berbareng orang lain.

Jadi, sebenarnya posisi mereka condong netral dalam urusan bersosialisasi, Bunda. Psikolog DePaulo menjelaskan bahwa orang dengan jenis ini bisa saja nyaman saat sendiri, tetapi juga tidak masalah ketika kudu berada di tengah orang lain.

3. Mereka sengaja menghindar

Selain itu, ada lho orang yang memang sengaja menghindari hubungan dengan orang lain. Mereka biasanya kurang nyaman saat kudu berada di situasi sosial, Bunda.

Orang seperti ini kerap menghindari pertemuan dengan beragam alasan. Mereka bisa menolak undangan alias tiba-tiba menarik diri. Saat berbincang pun, jawabannya biasanya hanya singkat.

4. Menyukai kegiatan yang dilakukan sendirian

Bagi sebagian orang, menjalani kegiatan yang dilakukan sendiri mungkin terasa lebih nyaman. Mereka merasa punya langkah tersendiri dalam menikmati waktu luang.

Seorang guru besar sosiologi dari Kanada, Anthony Synnott, PhD, menjelaskan bahwa kesendirian tidak sama dengan kesepian. Menurutnya, kesenyapan punya faedah untuk kesehatan mental.

"Kesendirian tidak sama dengan kesepian. Kesendirian adalah keadaan positif, waktu dan ruang untuk menikmati kebersamaan dengan diri sendiri, waktu istirahat, alias ruang untuk melepaskan diri dari hiruk pikuk kehidupan, berakhir dari rutinitas, mematikan kebisingan, dan mungkin menikmati alam," ujarnya.

5. Tidak melakukan kontak mata

Ada orang yang merasa kurang nyaman saat kudu menatap musuh bicaranya secara langsung. Mereka lebih sering menunduk alias mengalihkan pandangannya saat berbicara.

Bagi mereka, kontak mata bisa terasa terlalu intens dan membikin tidak nyaman. Karena itu, mereka mencari langkah agar percakapan terasa lebih nyaman. Salah satunya dengan konsentrasi pada barang di sekitar daripada menatap orang yang diajak bicara.

6. Mudah capek setelah bersosialisasi

Tidak semua orang merasa tetap happy setelah berjumpa banyak orang. Ada yang justru sigap capek meskipun hanya dari percakapan singkat. Situasi ini membikin mereka butuh waktu sendiri untuk beristirahat.

Setelah berada di keramaian, mereka biasanya memilih untuk menarik diri sejenak. Ini bukan hanya soal suka alias tidak suka bersosialisasi, tapi lebih ke kebutuhan untuk memulihkan energi.

Sebuah studi tahun 2020 menjelaskan kegiatan sosial seperti banyak berbincang alias bersikap ramah dapat membikin seseorang merasa lelah, meskipun tidak melakukan kegiatan fisik.

Dalam keseharian, ada sikap yang bisa terlihat dari langkah seseorang membawa dirinya saat berinteraksi. Mereka tampak lebih menjaga jarak dan tidak terlalu terbuka.

Sering kali, posisi tubuh mereka terlihat sedikit menjauh saat berbicara. Gerakan tangan juga condong lebih sedikit agar tidak terlalu menonjol.

Menurut guru besar dan mahir ilmu jiwa dari Amerika Serikat, Susan Krauss Whitbourne, PhD, bahasa tubuh mempunyai makna yang sangat luas dalam komunikasi.

"Bahasa tubuh hanyalah itu bahasa tubuh. Anda mungkin berpikir bahwa Anda hanya menunjukkan emosi Anda melalui wajah, tetapi itu hanyalah puncak gunung es. Seluruh tubuh Anda berperan-serta dalam upaya menunjukkan alias menyembunyikan keadaan mental Anda," ujarnya.

8. Memiliki toleransi yang rendah terhadap keramaian

Berikutnya, ada orang yang mudah merasa tidak nyaman saat berada di tempat yang ramai. Karena itu, mereka condong menghindari situasi seperti ini, Bunda.

Bukan hanya soal suara, tapi juga banyaknya hubungan yang terjadi sekaligus. Bahkan, kondisi ini membikin mereka mau segera menjauh dari keramaian.

Sebuah studi tahun 2020 tentang keengganan sosial menjelaskan bahwa musik alias aroma bisa memengaruhi kenyamanan seseorang di tempat ramai.

9. Menggunakan headphone di tempat umum

Seseorang yang jarang bersosialisasi condong menggunakan headphone meskipun tidak selalu sedang mendengarkan musik. Ini menjadi salah satu langkah mereka untuk merasa nyaman di tengah keramaian.

Headphone kerap dipakai sebagai corak "batas" agar tidak mudah diajak berinteraksi. Jadi, mereka merasa punya ruang pribadi meskipun sedang berada di tempat umum.

10. Tidak menyukai kerja tim

Ternyata, ada sebagian orang yang merasa kurang nyaman ketika kudu bekerja dalam tim. Mereka memilih mengerjakan sesuatu sendiri tanpa banyak melibatkan orang lain.

Kerja tim biasanya butuh banyak komunikasi dan diskusi. Hal inilah yang justru terasa melelahkan bagi mereka yang tidak terlalu suka bersosialisasi.

Dalam lingkungan pendidikan alias pekerjaan, mereka condong menghindari tugas kelompok. Jika pun terlibat, biasanya mereka memilih peran yang tidak terlalu banyak berinteraksi langsung.

11. Kurang percaya pada orang lain

Berikutnya, orang yang jarang bersosialisasi biasanya kurang percaya pada orang lain. Mereka tidak mudah membuka diri dalam pergaulan. Sikap ini bikin mereka lebih memilih menjaga jarak.

Mereka merasa bahwa tidak semua orang bisa diandalkan. Karena itu, mereka lebih nyaman tidak terlalu banyak terlibat dalam hubungan sosial, Bunda.

Itulah ulasan tentang karakter kepribadian orang yang jarang bersosialisasi menurut psikolog. Apakah Bunda termasuk salah satunya?

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/som)

Selengkapnya