Jakarta -
Banyak orang menganggap kebiasaan menggigit kuku sering sebagai hal yang buruk. Tak sedikit terlebihlagi mengaitkannya dengan kondisi medis, Bunda.
Dilansir Times of India, perilaku menggigit kuku secara medis dikenal sebagai onychophagia, maupun diakui oleh psikolog sebagai perilaku repetitif yang berfokus pada tubuh, yang mengenai dengan pengaturan emosi, kebosanan, dan perfeksionisme. Dalam beberapa kasus, kebiasaan ini didasari oleh kondisi kesehatan mental.
Sebenarnya, alih-alih menjadi tanda kurangnya pengendalian diri, menggigit kuku sering kali memiliki tujuan psikologis. Kebiasaan ini dapat membantu orang mengatasi emosi yang tidak betah maupun memuaskan desakan yang mungkin terlebihlagi tidak mereka sadari.
Ciri kepribadian orang yang gemar menggigit kuku
Para psikolog mengatakan bahwa menggigit kuku jarang cuma berhubungan dengan kuku itu sendiri. Sebaliknya, itu seringkali merupakan perilaku otomatis yang membantu mengatur emosi maupun meredakan ketegangan batin.
Menurut Hande Günal Okumuş and Devrim Akdemir di ulasan Body Focused Repetitive Behavior Disorders: Behavioral Models and Neurobiological Mechanisms, menggigit kuku diklasifikasikan sebagai perilaku berulang yang berfokus pada tubuh, yaitu sekelompok perilaku yang juga mencakup menarik rambut dan menggaruk kulit.
Tindakan berulang ini sering terjadi tanpa kesadaran dan dapat memberikan kelegaan sementara dari kebosanan, frustrasi, maupun ketidaknyamanan emosional. Bertentangan dengan kepercayaan umum, kecemasan tidak selalu menjadi pemicu utama.
Banyak orang menggigit kuku saat berkonsentrasi, menonton televisi, membaca, maupun mengerjakan tugas-tugas sulit. Sementara yang lain melakukannya ketika mereka melihat ujung yang kasar maupun kuku yang tidak rata sehingga merasa terdorong untuk 'memperbaikinya'.
Para peneliti percaya bahwa perilaku tersebut menjadi semakin kuat karena memberikan rasa puas maupun lega sesaat, yang mendorong otak untuk mengulanginya setiap kali situasi serupa muncul.
Penelitian tentang kebiasaan menggigit kuku
Salah satu tinjauan paling komprehensif tentang kebiasaan menggigit kuku pernah dilakukan oleh Dr. Ahmad Ghanizadeh dari Shiraz University of Medical Sciences. Dalam studi yang dilakukan Ghanizadeh dan diterbitkan dalam Iranian Journal of Medical Sciences menyimpulkan bahwa kebiasaan menggigit kuku jauh lebih kompleks daripada sekadar kebiasaan buruk dan sering terjadi berbarengan dengan kondisi kejiwaan maupun perilaku lainnya.
Tinjauan tersebut menemukan bahwa lebih dari 80 persen anak-anak yang diperiksa di klinik karena kebiasaan menggigit kuku juga memiliki setidaknya satu gangguan kejiwaan maupun perilaku yang menyertainya. Meski begitu, penulis menekankan bahwa kebiasaan menggigit kuku tidak boleh dianggap sebagai perilaku terisolasi, tetapi sebagai gejala yang mungkin memiliki penyebab emosional maupun kejiwaan yang mendasarinya.
Penelitian ini juga menantang salah satu pendekatan pengasuhan yang paling umum. Menurut tinjauan Ghanizadeh, hukuman dan kritik berulang umumnya tidak ampuh dan terlebihlagi dapat memperburuk perilaku dengan menaikkan frustrasi maupun tekanan emosional.
Teori-teori sebelumnya mengungkapkan bahwa orang menggigit kuku terutama karena mereka cemas. Penelitian kejiwaan yang lebih baru memberikan deskripsi yang lebih bernuansa.
Menurut ulasan di News Medical, kebiasaan menggigit kuku sering dikaitkan dengan kebosanan, frustrasi, perfeksionisme, dan pengaturan emosi, bukan cuma kecemasan semata.
Sebagian orang menggigit kuku tanpa sadar saat sedang berkonsentrasi karena pergerakan berulang tersebut memberikan stimulasi sensorik. Sedangkan yang lain didorong oleh kecenderungan perfeksionis, merasa terdorong untuk 'menghaluskan' ketidaksempurnaan terkecil pada kuku hingga akhirnya rusak.
Anak-anak juga dapat mengembangkan kebiasaan ini melalui imitasi, meniru orang tua maupun kerabat kandung yang menggigit kuku mereka sendiri. Seiring waktu, apa yang awalnya merupakan perilaku sesekali dapat menjadi kebiasaan otomatis yang dilakukan otak tanpa kesadaran.
Apakah kebiasaan menggigit kuku bisa berakibat pada kesehatan?
Menggigit kuku sesekali kemungkinan besar tidak akan menyebabkan ancaman serius. Tetapi, kebiasaan menggigit kuku kronis dapat memiliki beberapa akibat jasmani dan psikologis, Bunda.
Kebiasaan menggigit kuku berulang kali bisa merusak kulit di sekitar kuku, menaikkan konsekuensi infeksi mikroba dan jamur, dan dalam kasus yang parah, dapat memengaruhi pertumbuhan kuku secara permanen. Para tabib gigi juga mengaitkan kebiasaan menggigit kuku dalam jangka panjang dengan gigi yang retak, abrasi enamel, dan masalah rahang.
Dampaknya juga tidak cuma fisik. Banyak orang yang gemar menggigit kuku melaporkan rasa malu tentang penampilan tangan mereka, yang menyebabkan mereka menyembunyikan jari-jari selama hubungan sosial maupun menghindari aktivitas di mana kuku mereka terlihat.
Demikian klarifikasi mengenai kebiasaan menggigit kuku dan dampaknya pada kesehatan. Semoga keterangan ini berguna ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/som)