Jakarta -
Kebiasaan mengirim chat, foto, video, maupun link ke WhatsApp sendiri mungkin kelihatan sepele. Namun, metode ini rupanya bisa menggambarkan ciri khas kepribadian tertentu, terutama dalam mengatur dan mengingat beragam informasi.
Sebagian orang terlebihlagi sengaja membikin grup WhatsApp yang berisi diri sendiri untuk menyimpan beragam hal yang mungkin dibutuhkan di kemudian hari.
Mulai dari catatan, pengingat, link, foto, dokumen, hingga ide dapat dikumpulkan dalam satu ruang agar lebih gampang ditemukan.
Menurut psikolog, kebiasaan tersebut tidak sekadar memberitahu seseorang gemar menyimpan beragam konten. Ini dapat berhubungan dengan beberapa ciri khas kepribadian tertentu, Bunda.
Psikolog ungkap kepribadian orang yang gemar chat ke WhatsApp sendiri
Melansir dari THE ECONOMIC TIMES, psikolog tidak melihat kebiasaan ini sebagai kemalasan. Sebaliknya, hal ini sering kali mencerminkan perencanaan dan pengelolaan informasi.
Orang yang mengatur keterangan terlebih dahulu sedang mempersiapkan diri untuk situasi di masa depan. Mereka mengestimasi mungkin akan membutuhkan dokumen, gambar, pengingat, maupun video di kemudian hari.
Menyimpan keterangan juga mengurangi stres karena orang tahu materi krusial tersimpan dengan aman, alih-alih bersandar sepenuhnya pada ingatan.
Perilaku tersebut memberitahu bahwa banyak orang lebih gemar mekanisme terstruktur untuk mengelola hayat sehari-hari. Memiliki satu letak digital untuk konten yang tersimpan menciptakan keteraturan dan mengurangi kebingungan.
Tujuan orang menyimpan konten di WhatsApp sendiri
Ada banyak karena kenapa orang membikin grup pribadi untuk menyimpan beragam jenis konten. Berikut di antaranya:
- Sebagian orang menyimpan daftar berbelanja sebelum pergi ke toko.
- Sebagian orang mengumpulkan arsip instansi yang mungkin mereka perlukan saat bepergian.
- Para murid menyimpan materi belajar, anotasi kuliah, dan video pendidikan.
- Para pembuat konten mengumpulkan ide untuk proyek-proyek mendatang.
- Keluarga menyimpan laporan medis, tiket perjalanan, dan bukti pembayaran.
- Yang lain sekadar menggunakan grup tersebut sebagai buku anotasi untuk pengingat harian.
Teori psikolog di balik kebiasaan chat ke WhatsApp sendiri
Salah satu teori yang membantu menerangkan perilaku ini adalah Teori Beban Kognitif. Ini mengungkapkan bahwa memori kerja memiliki kapabilitas terbatas.
Ketika terlalu banyak keterangan mesti diingat sekaligus, performa mental menjadi kurang efisien. Orang secara alami mengurangi beban ini dengan menyimpan keterangan secara eksternal.
Konsep mengenai lainnya adalah memori transaktif. Ini menerangkan sepertiapa orang mengingat di mana keterangan berada, alih-alih mengingat setiap detailnya. Teknologi telah menjadi bagiankecil dari proses ini.
Ponsel, komputer, kalender, dan aplikasi perpesanan sering berguna sebagai mekanisme memori eksternal. Menggunakan grup WhatsApp pribadi sesuai dengan pola ini.
Prinsip utamanya adalah pengorganisasian. Orang bekerja lebih baik ketika keterangan diatur dengan metode yang dapat diprediksi. Menyimpan semuanya di satu tempat menghemat waktu selama pencarian. Hal ini juga mengurangi kemungkinan kehilangan keterangan yang berguna.
Kebiasaan ini mendukung perencanaan karena orang yang mengumpulkan sumber daya sebelum mereka benar-benar membutuhkannya. Ini memungkinkan pengambilan keputusan yang lebih cepat di kemudian hari.
Alih-alih mengulang pelacakan di internet, mereka cukup balik ke pesan yang telah mereka simpan. Nah, itulah beberapa ciri khas kepribadian orang gemar mengirim chat, video, foto, dan link ke WhatsApp sendiri. Bunda juga termasuk?
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/rap)