Jakarta -
Setiap orang tua tentu menginginkan anak-anaknya tumbuh dengan karakter yang baik. Namun dengan banyaknya saran parenting saat ini, kita pun jadi bingung kudu mulai dari mana.
Bunda, membesarkan anak tidak selalu kudu dengan langkah yang rumit. Justru dari percakapan sehari-hari, anak pun banyak belajar tentang sikap. Lambat laun, perihal itu membentuk langkah mereka bersikap.
Di era sekarang, ada banyak style pengasuhan yang bikin orang tua merasa ragu. Tidak semua saran terasa cocok untuk dijalani. Tapi yang sering terlupakan, justru kata-kata orang tua yang paling diingat anak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kalimat yang Bunda ucapkan setiap harinya dapat membantu anak memahami emosi dan empati. Lebih dari itu, mereka juga belajar tentang batas dan langkah menghargai orang lain.
Karena itu, ada beberapa kalimat sederhana yang sering digunakan orang tua untuk membesarkan anak agar berbudi pekerti baik. Simak ulasan selengkapnya di bawah ini.
11 Kalimat sederhana yang dipakai orang tua untuk membesarkan anak berbudi pekerti baik
Dikutip dari laman Your Tango, orang tua yang membesarkan anak-anak yang betul-betul baik biasanya menggunakan kalimat-kalimat ini dengan konsisten:
1. "Kamu boleh marah, tapi tetap dengan langkah yang baik"
Emosi seperti marah alias jengkel itu wajar terjadi pada anak. Justru, emosi itu perlu dikenali dan disampaikan, bukan dipendam. Kalau terus ditahan, anak jadi lebih mudah resah di kemudian hari.
Orang tua yang membesarkan anak dengan baik biasanya tetap memberi ruang untuk anak mengekspresikan emosinya. Tapi tetap ada batasannya, ialah tidak menyakiti diri sendiri alias orang lain, Bunda.
2. "Apa yang bisa kita pelajari dari kesalahan ini?"
Bunda, anak sebenarnya jauh lebih mudah belajar saat orang tua juga mau terbuka soal kesalahan. Bukan berfaedah kudu selalu sempurna ya, tapi justru dari perihal yang kurang tepat itu anak bisa menemukan banyak pelajaran.
Ketika orang tua berani menceritakan kesalahan sendiri dan mau bertanggung jawab, anak jadi punya contoh gimana bersikap dewasa. Anak juga belajar bahwa setiap orang bisa salah, tapi yang krusial adalah memperbaikinya.
Bunda perlu tahu bahwa kebiasaan belajar dari kesalahan memang perlu dilatih terus-menerus. Tapi di saat yang sama, ini menjadi perihal krusial untuk perkembangan pribadi, empati, dan ketekunan seseorang.
3. "Tidak apa-apa jika Anda merasa sedih"
Sedih itu bukan sesuatu yang kudu ditutupi alias dianggap salah. Anak justru perlu tahu bahwa semua emosi itu boleh saja diungkapkan, termasuk saat mereka sedang tidak baik-baik saja.
Saat orang tua mau memvalidasi emosi anak, anak jadi menerima emosinya sendiri. Mereka juga belajar bahwa setiap orang itu bisa merasakan perihal yang berbeda-beda dalam situasi yang sama.
4. "Apakah Anda butuh support alias hanya mau Bunda dengarkan?"
Sering kali, anak sebenarnya tidak langsung butuh nasihat. Kadang mereka hanya mau didengarkan terlebih dulu tanpa buru-buru diarahkan.
Saat orang tua lebih banyak memberi nasihat tanpa diminta, perihal itu justru bisa memicu jarak dalam hubungan. Anak merasa pendapatnya tidak betul-betul didengar.
Sebaliknya, orang tua yang terbiasa bertanya dan mendengarkan bakal membantu anak belajar komunikasi yang sehat.
5. "Kamu paling tahu tubuhmu sendiri dibandingkan siapa pun"
Bunda, anak perlu tahu jika tubuh mereka adalah milik mereka sendiri. Jadi mereka juga punya kewenangan untuk merasakan, memilih, dan mengatakan tidak jika merasa tidak nyaman.
Saat anak merasa punya kendali atas tubuhnya, mereka juga mudah belajar soal batasan. Misalnya dalam perihal sentuhan, pelukan, alias hal-hal mini yang membikin mereka tidak nyaman.
Orang tua yang terbiasa memberi ruang seperti ini dapat membantu anak tumbuh lebih berani dalam menjaga dirinya sendiri. Anak juga jadi lebih mengerti langkah berkomunikasi saat ada sesuatu yang dirasa kurang pas.
6. "Bunda menghargai pendapat kamu, tapi Bunda tetap punya pendirian sendiri"
Sebagai orang tua, kita kudu mengerti bahwa anak tetap perlu didengar saat mereka menyampaikan pendapatnya. Tapi di saat yang sama, mereka juga belajar bahwa tidak semua perihal bisa mereka atur sendiri.
Saat orang tua konsisten dengan keputusan yang diambil, anak pun mengerti bahwa perbedaan pendapat itu perihal yang biasa. Mereka juga jadi mengerti langkah menghargai pilihan orang lain meski tidak selalu setuju.
Sebagaimana dikemukakan oleh para mahir klinis dari Child Mind Institute, anak yang tumbuh dengan batas yang sehat berbareng orang tua condong punya hubungan yang lebih baik saat dewasa, baik dengan keluarga, teman, maupun pasangan.
7. "Terima kasih sudah melakukan itu"
Ucapan sederhana seperti ini tak jarang punya akibat besar bagi Si Kecil. Anak merasa mendapat apresiasi dari Bunda, apalagi untuk hal-hal mini yang sudah mereka lakukan.
Saat orang tua terbiasa m engucapkan terima kasih, hubungan dengan anak juga terasa lebih hangat. Anak pun mudah mengerti pentingnya saling menghargai dalam keluarga.
8. "Jalan Anda mungkin beda dari jalan Bunda, tapi Bunda tetap dukung kamu"
Setiap anak punya jalan hidupnya sendiri yang tak selalu sama dengan orang tuanya. Itu perihal yang wajar, dan justru perlu dihargai ya, Bunda.
Saat anak tidak terus dibandingkan alias dipaksa mengikuti arah tertentu, mereka jadi lebih leluasa menjadi diri sendiri. Mereka juga tidak merasa kudu mencari pengesahan lewat hal-hal yang berlebihan.
9. "Bunda percaya sama kamu"
Bunda, kalimat seperti ini membikin anak merasa lebih kuat dan percaya dengan dirinya sendiri. Anak pun tahu jika ada orang tua yang percaya pada keahlian mereka.
Saat anak tumbuh tanpa support dan kepercayaan, mereka condong mencari pengakuan dari orang lain. Tapi ketika kepercayaan itu datang dari orang tua, anak jadi lebih tenang dan tidak mudah berjuntai pada penilaian orang lain.
10. "Pendapat Anda itu penting"
Kalimat ini sebenarnya punya makna besar untuk anak. Mereka jadi tahu jika apa yang dipikirkan itu tidak diabaikan oleh orang tua. Dengan begitu, anak lebih nyaman untuk terbuka dan menyampaikan isi hatinya.
Kalau sejak mini anak tidak terbiasa dihargai pendapatnya, mereka bisa tumbuh dengan kebiasaan memendam perasaan. Ini bisa terbawa sampai dewasa dan membikin mereka susah mengekspresikan emosinya.
Seorang penulis kitab Taking Up Space, Focused, and Braced, Alyson Gerber, anak yang tumbuh di lingkungan yang kurang mendukung kerap kesulitan mengekspresikan diri saat dewasa nanti.
11. "Bunda tahu ini tidak mudah, tapi tidak apa-apa"
Anak pasti bakal berjumpa dengan hal-hal yang tidak selalu melangkah mulus. Maka dari itu, wajar saja jika mereka merasa kesulitan alias kecewa.
Sebagai orang tua, kita mungkin ada kemauan untuk langsung membantu alias menyelesaikan semua masalah anak. Tapi jika terlalu sering dilakukan, anak jadi tidak punya kesempatan untuk belajar mandiri.
Itulah deretan kalimat sederhana yang bisa dipakai orang tua untuk membesarkan anak berbudi pekerti baik. Semoga informasinya dapat membantu ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·