Doa Ibu Yang Sering Kita Remehkan Dan Bukti Nyata Kekuatannya

Jun 28, 2026 11:00 AM - 1 hari yang lalu 2069

Sering kali kita meremehkan perihal yang sudah terlalu akrab. Ibu selalu bangun sebelum hari terang, bersujud, dan mendoakan kita satu per satu. Sementara kita terlelap, sibuk, alias pergi jauh, angan ibu tidak pernah berakhir mengalir. Seperti kisah ustadz besar sabda yang sudah ma’ruf di tengah-tengah kaum muslimin ialah Imam Bukhari rahimahullah. Beliau berjulukan komplit Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju’fi al-Bukhari, seorang ustadz yang dilahirkan di kota Bukhara.

Kisah tentang beliau diriwayatkan oleh Imam al-Lalika’iy dalam karyanya Syarh as-Sunnah, serta oleh Ghanjar dalam kitabnya Tarikh Bukhara, sebagaimana berikut ini:

Sejak usia dini, Imam al-Bukhari mengalami kebutaan pada kedua matanya. Hingga suatu malam, ibunya bermimpi berjumpa Nabi Allah Ibrahim ‘alaihissalam, yang menyampaikan berita ceria kepadanya, bahwa Allah telah memulihkan penglihatan putranya sebagai buah dari doa-doanya yang tak pernah putus. Ketika pagi tiba, dia mendapati realita yang membenarkan mimpi itu, penglihatan sang anak betul-betul telah pulih atas izin Allah. (Dinukil dari Asy-Syifa’ Ba’da Al-Maradh, karya Ibrahim bin ‘Abdullah al-Hazimi, yang mengutip dari Hadyu as-Sari fi Muqaddimah Shahih al-Bukhari, karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani)

Kisah ini menjadi bukti nyata kebenaran sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang mustajab-nya angan orang tua untuk anaknya. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Donasi Kincai Media

“Tiga angan yang mustajab yang tidak diragukan lagi, ialah angan orang tua, angan orang yang berjalan (safar), dan angan orang yang dizalimi.” (HR. Abu Dawud no. 1536. Syekh al-Albani mengatakan bahwa sabda ini hasan)

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ لاَ تُرَدُّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ ، وَدَعْوَةُ الصَّائِمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ

“Tiga doa yang tidak tertolak, yaitu angan orang tua, angan orang yang berpuasa dan angan seorang musafir.” (HR. Al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra. Syekh al-Albani mengatakan sabda ini shahih sebagaimana dalam as-Silsilah ash-Shahihah no. 1797).

Dalam dua sabda ini disebutkan umum, artinya mencakup angan orang tua yang berisi kebaikan alias kejelekan pada anaknya.

Seperti di kisah Juraij, dari Abu Hurairah, dia berkata, ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا تَكَلَّمَ مَوْلُوْدٌ مِنَ النَّاسِ فِي مَهْدٍ إِلاَّ عِيْسَى بْنُ مَرْيَمَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَاحِبُ جُرِيْجٍ” قِيْلَ: يَا نَبِيَّ اللهِ! وَمَا صَاحِبُ جُرَيْجٍ؟ قَالَ: “فَإِنَّ جُرَيْجًا كَانَ رَجُلاً رَاهِباً فِي صَوْمَعَةٍ لَهُ، وَكَانَ رَاعِيُ بَقَرٍ يَأْوِي إِلَى أَسْفَلِ صَوْمَعَتِهِ، وَكَانَتْ اِمْرَأَةٌ مِنْ أَهْلِ الْقَرْيَةِ تَخْتَلِفُ إِلَى الرَّاعِي، فَأَتَتْ أُمُّهُ يَوْمًٍا فَقَالَتْ: يَا جُرَيْجُ! وَهُوَ يُصّلِّى، فَقَالَ فِي نَفْسِهِ – وَهُوَ يُصَلِّي – أُمِّي وَصَلاَتِي؟ فَرَأَى أَنْ يُؤْثِرَ صَلاَتَهُ، ثُمَّ صَرَخَتْ بِهِ الثَّانِيَةَ، فَقَالَ فِي نَفْسِهِ: أُمِّي وَصَلاَتِي؟ فَرَأَى أَنْ يُؤْثِرَ صَلاَتَهُ. ثُمَّ صَرَخَتْ بِهِ الثَالِثَةَ فَقَالَ: أُمِّي وَصَلاَتِي؟ فَرَأَى أَنْ يُؤْثِرَ صَلاَتَهُ. فَلَمَّا لَمْ يُجِبْهَا قَالَتْ: لاَ أَمَاتَكَ اللهُ يَا جُرَيْجُ! حَتىَّ تَنْظُرَ فِي وَجْهِ المُوْمِسَاتِ. ثُمَّ انْصَرَفَتْ فَأُتِيَ الْمَلِكُ بِتِلْكَ الْمَرْأَةِ وَلَدَتْ. فَقَالَ: مِمَّنْ؟ قَالَتْ: مِنْ جُرَيْجٍ. قَالَ: أَصَاحِبُ الصَّوْمَعَةِ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ: اِهْدَمُوا صَوْمَعَتَهُ وَأْتُوْنِي بِهِ، فَضَرَبُوْا صَوْمَعَتَهُ بِالْفُئُوْسِ، حَتىَّ وَقَعَتْ. فَجَعَلُوْا يَدَهُ إِلَى عُنُقِهِ بِحَبْلٍ؛ ثُمَّ انْطَلَقَ بِهِ، فَمَرَّ بِهِ عَلَى الْمُوْمِسَاتِ، فَرَآهُنَّ فَتَبَسَّمَ، وَهُنَّ يَنْظُرْنَ إِلَيْهِ فِي النَّاسِ. فَقَالَ الْمَلِكُ: مَا تَزْعُمُ هَذِهِ؟ قَالَ: مَا تَزْعُمُ؟ قَالَ: تَزْعُمُ أَنَّ وَلَدَهَا مِنْكَ. قَالَ: أَنْتِ تَزْعَمِيْنَ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. قَالَ: أَيْنَ هَذَا الصَّغِيْرُ؟ قَالُوْا: هَذَا فِي حُجْرِهَا، فَأَقْبَلَ عَلَيْهِ. فَقَالَ: مَنْ أَبُوْكَ؟ قَالَ: رَاعِي الْبَقَرِ. قَالَ الْمَلِكُ: أَنَجْعَلُ صَوْمَعَتَكَ مِنْ ذَهَبٍ؟ قَالَ: لاَ. قَالَ: مِنْ فِضَّةٍ؟ قَالَ: لاَ. قَالَ: فَمَا نَجْعَلُهَا؟ قَالَ: رَدُّوْهَا كَمَا كَانَتْ. قَالَ: فَمَا الَّذِي تَبَسَّمْتَ؟ قَالَ: أَمْراً عَرَفْتُهُ، أَدْرَكَتْنِى دَعْوَةُ أُمِّي، ثُمَّ أَخْبَرَهُمْ

“Hanya ada dua bayi yang bisa berbincang dalam buaian: Isa bin Maryam dan bayi di masa Juraij. Para sahabat pun bertanya tentang siapa Juraij. Beliau lampau menjelaskan bahwa Juraij adalah seorang mahir ibadah yang menghabiskan hidupnya di sebuah biara di atas bukit. Di lereng bukit yang sama, seorang penggembala sapi biasa menggembalakan ternaknya, dan seorang wanita dari desa terdekat kerap mendatangi sang penggembala untuk melakukan mesum.

Suatu hari, di tengah Juraij yang sedang intens salat, ibunya datang dan memanggil namanya. Dalam hatinya bergolak dua pilihan: menyambut panggilan ibu alias menuntaskan salatnya. Ia memilih meneruskan salat. Sang ibu memanggil untuk kedua kalinya, lampau ketiga kalinya, namun Juraij tetap tidak menyahut. Habis kesabaran, ibunya pun bermohon dengan nada kecewa, “Semoga Allah tidak mencabut nyawamu sebelum wajahmu dipertontonkan di hadapan para pelacur.” Lalu dia pergi.

Tak lama berselang, wanita yang biasa mendatangi penggembala tadi melahirkan seorang anak. Ketika ditanya siapa ayahnya di hadapan raja, dia menuduh Juraij. Raja pun memerintahkan agar biara Juraij dirobohkan dan dirinya dibawa dalam keadaan tangan terikat. Di tengah perjalanan menuju raja, Juraij dilewatkan di hadapan sekumpulan wanita penghibur — dan dia tersenyum.

Di hadapan raja, tuduhan itu disampaikan langsung. Juraij tidak membantah dengan kata-kata, melainkan meminta agar bayi itu didatangkan. Ia lampau bertanya kepada sang bayi, “Siapa ayahmu?” Dengan izin Allah, bayi itu menjawab dengan jelas, “Ayahku adalah penggembala sapi.”

Seketika suasana berbalik. Raja menawarkan agar biara Juraij dibangun kembali dengan emas alias perak sebagai tebusan atas kesalahan yang telah dilakukan. Namun Juraij menolak, dia hanya meminta agar biaranya dibangun seperti sedia kala. Ketika raja bertanya kenapa dia tersenyum saat dilewatkan di hadapan para pelacur, Juraij menjawab bahwa senyumnya adalah lantaran dia menyadari angan ibunya telah terkabul persis seperti yang diucapkan; dan di kembali semua ujian itu, tersimpan hikmah yang hanya bisa dia syukuri.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad; diriwayatkan pula dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim)

Baca juga: Mustajabnya Doa Orang Tua kepada Anaknya

***

Penulis: Rizka Fajri Indra

Artikel Muslimah.or.id

Referensi:

  1. https://rumaysho.com/2007-berkat-doa-ibu.html
  2. https://rumaysho.com/1711-doa-orang-tua-pada-anaknya-doa-mustajab.html
  3. https://rumaysho.com/3382-kisah-juraij-dan-doa-jelek-orang-tuanya.html
Selengkapnya