Sang Dai Sejuta Umat

Jun 28, 2026 07:15 PM - 6 jam yang lalu 305

Kincai Media , JAKARTA -- Dalam bumi dakwah Islam di Indonesia, sosok KH Zainuddin Hamidy Turmudzi begitu legendaris. Media massa pada masanya mendaulat ustadz ini sebagai “Dai sejuta umat.” Namanya lebih terkenal dengan julukan KH Zainuddin MZ. Dua huruf yang tersebut paling akhir itu merujuk pada ayahandanya, Turmudzi.

Seperti dijelaskankan dalam buku Dakwah & Politik 'Dai Berjuta Umat' (1997), KH Zainuddin MZ berasal dari family Betawi asli. Lelaki kelahiran 2 Maret 1952 ini merupakan anak tunggal dari pasangan Turmudzi dan Zainabun. Rumah family Turmudzi terletak di Gang Cemara, Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel).

KH Zainuddin MZ pada mulanya merupakan dai yang "sebatas" dikenal di area Jakarta dan sekitarnya. Keadaan berubah sejak dirinya didekati pihak Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 1977, PPP mulai mendekati KH Zainuddin MZ. Tujuannya, menggaet sang mubaligh untuk menjadi seorang ahli kampanye.

Waktu itu, Zainuddin berkawan baik dengan Ridwan Saidi, koordinator kampanye PPP. Sejak pemilu tersebut dan berikutnya, dia tidak jarang tampil di atas panggung untuk mengampanyekan partai tersebut.

Jumlah hadirin bisa mencapai puluhan ribu orang. Apalagi, ada penampilan sang Raja Dangdut Rhoma Irama. Penampilan musisi yang juga konsen pada dakwah Islam itu semakin menarik perhatian massa.

Di sinilah KH Zainuddin MZ mulai menyadari besarnya potensi umat Islam di Tanah Air. “Bagaimana jika puluhan ribu umat itu diajak ke kebaikan, disadarkan dari kealpaan mengabdi kepada Allah, dan merealisasi ukhuwah Islamiyyah,” kenang dia, seperti dikutip kitab Dakwah & Politik (1997).

Setahun setelah pemilu 1982, dia mulai meninggalkan panggung politik. Alasannya, semata-mata mau lebih bebas dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan. Semenjak dekat dengan PPP, pada masa itu dia mulai dicurigai membawa pesan politik-praktis tertentu. Apalagi, partai berwarna dominan hijau itu merupakan oposan pemerintah.

Jalan tetap terbuka lebar baginya untuk meluaskan jangkauan dakwah. Sebuah perusahaan rekaman menawarkan kerja sama kepadanya. Dengan begitu, ceramah-ceramahnya dapat didokumentasikan ke dalam pita kaset.

Alhasil, seluruh lapisan masyarakat, baik di dalam maupun luar negeri, dapat mengenalnya. Radio-radio swasta mulai menyiarkan rekaman ceramahnya. Beberapa lama kemudian, stasiun-stasiun televisi juga mengundangnya untuk tabligh akbar siaran langsung.

Selengkapnya