Kincai Media , JAKARTA -- Berbeda dengan hewan, manusia dikaruniai dengan akal. Maka, tiap insan menjalani kehidupan di muka bumi tidak sekadar untuk melampiaskan nafsu berkembang biak. Lebih dari itu, dalam dirinya muncul keinsafan untuk menemukan hakikat.
Islam mengajarkan, manusia mempunyai fitrah alias pembawaan yang ada sejak mereka dilahirkan. Seperti dijabarkan Prof Yunahar Ilyas dalam bukunya, Tipologi Manusia Menurut Al-Qur’an (2007, Labda Press), para intelektual Muslim telah memberikan pendapatnya masing-masing, bersandar pada Alquran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW.
Misalnya, Ibnu Katsir, yang membahas surah al-A'raf ayat ke-172. Terjemahannya sebagai berikut.
"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): 'Bukankah Aku ini Tuhanmu?'
Mereka menjawab: 'Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.' (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari hariakhir Anda tidak mengatakan: 'Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).'"
Menurut Ibnu Katsir, ayat di atas menjelaskan, setiap anak cucu Nabi Adam AS telah bersaksi sebelum mereka dilahirkan ke dunia. Kesaksian itu pada intinya menegaskan, Allah SWT adalah Rabb, Raja (Malik), dan Tuhannya. Tidak ada satu unsur pun yang berkuasa disembah selain Allah saja.
Pendapat itu, kata Yunahar Ilyas, termaktub dalam kitab Mukhtashar Tafsir Ibn Katsir II. Berangkat dari penjelasan Ibnu Katsir itu, dapatlah dipahami bahwa setiap manusia mempunyai fitrah bertauhid. Allah SWT memerintahkan kepada mereka agar tetap berada dalam fitrah tersebut. Caranya dengan mengikuti kepercayaan Allah yang lurus (Islam).
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada kepercayaan Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) kepercayaan yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" (QS ar-Rum: 30).
Dalam suatu hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Nabi Muhammad SAW bersabda, "Setiap manusia dilahirkan ibunya di atas fitrah. Kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, alias Majusi."
Begitu lahir di dunia, anak-anak adalah tabula rasa. Itu adalah ungkapan dari bahasa Latin yang berfaedah 'kertas kosong.' Maknanya, anak-anak menyimpan potensi untuk menjadi pribadi yang baik dan terus bertauhid di masa depan.
Ada satu kisah yang terkandung dalam hadits riwayat Ibnu Jarir tentang sungguh tingginya perhatian Rasulullah SAW mengenai perihal itu. Seperti dituturkan Al-Aswad ibn Sari’ dari Bani Sa’ad, yang mengikuti empat peperangan berbareng beliau.
Dalam suatu peperangan, segelintir bagian dari pasukan Islam kedapatan membunuh anak-anak. Tindakan itu mereka lakukan setelah membunuh pasukan musuh dari golongan orang dewasa.
Begitu mendengar buletin itu, Rasulullah SAW sangat marah.
“Mengapa kalian membunuh anak-anak?” tanya Nabi SAW dengan nada keras.
Salah seorang dari mereka menjawab, “Ya Rasulullah, bukankah mereka itu anak-anak kaum musyrikin?”
"Yang terbaik di antara kalian pun juga anak-anak kaum musyrikin. Ketahuilah, tidak seorang pun dilahirkan selain dalam keadaan fitrah. Ia bakal tetap dalam fitrahnya itu sampai lisannya sendiri yang mengubahnya. Maka kedua orang tuanya-lah yang meyahudikan dan menasranikannya," jelas Rasulullah SAW, menegaskan sungguh beliau sama sekali tidak membenarkan perbuatan mereka itu.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·