
Sedikit kita telaah mengenai ekosistem Linux lagi, jadi beberapa waktu lalu, Flathub membuat keputusan yang cukup kontroversial dengan menolak aplikasi yang dianggap terlalu berjuntai pada AI alias yang sering disebut sebagai “AI slop”.
Nah keputusan tersebut tentu menuai perdebatan, ada yang menganggap Flathub terlalu keras dan menghalang inovasi, sementara yang lain menilai langkah tersebut memang diperlukan demi menjaga kualitas aplikasi Linux.
Dan menariknya, informasi terbaru justru menunjukan bahwa keputusan Flathub tersebut mungkin memang sudah tepat sejak awal, kenapa? nah mari kita bahas.
Mayoritas Aplikasi AI Ternyata Sudah Ditinggalkan
Jadi kawan kawan, baru baru ini Developer Linux sekaligus kreator aplikasi Tuba dan Turntable, Evangelos Paterakis, mencoba menelusuri nasib aplikasi-aplikasi yang sebelumnya ditolak Flathub lantaran terlalu banyak menggunakan kode hasil AI.
Dan hasilnya cukup mengejutkan, dari 120 Repository aplikasi yang ditolak, hanya 32 yang tetap aktif dan 88 sudah ditinggalkan. Nah berarti, kebanyakan aplikasi yang sempat diperdebatkan kemarin rupanya hanya hidup beberapa bulan sebelum akhirnya ditinggalkan begitu saja. Cukup ironis bukan?
Menariknya, Paterakis juga mengakui bahwa penelitiannya bukan penelitian ilmiah yang sangat ketat, namun nomor tersebut tetap memberikan gambaran bahwa project AI yang muncul rupanya tidak mempunyai komitmen jangka panjang.
Padahal, sebelumnya ada dugaan bahwa Flathub sedang “menghalangi masa depan” Linux dengan melarang aplikasi hasil AI dan yang terjadi justru sebaliknya, lantaran sebagian besar aplikasi tersebut apalagi tidak sempat berkembang menjadi proyek yang betul-betul dipelihara.
Masalah Utamanya Bukan AI, Tapi Maintainer
Jadi, Flathub sendiri sebenarnya sejak awal tidak mengatakan bahwa aplikasi AI pasti buruk, masalah utamanya justru ada pada proses review, lantaran banyak developer hanya meminta AI menghasilkan ribuan baris kode tanpa betul-betul memahami isinya, akhirnya para reviewer Flathub kudu memeriksa kode yang apalagi pembuatnya sendiri belum tentu mengerti.
Dan yang lebih parah lagi, ketika reviewer meminta perbaikan, sebagian developer hanya kembali bertanya ke AI dan mengirimkan hasil baru tanpa betul benar memperbaiki akar masalahnya, akibatnya, proses review menjadi jauh lebih berat bagi para sukarelawan yang menjaga kualitas Flathub.
Vibe Coding Memang Menyenangkan Namun Banyak Yang Lupa Hal Ini…
Nah saat ini tentu istilah Vibe coding memang semakin populer, dengan support AI, apalagi orang yang tidak mengerti teknologi pun bisa membikin aplikasi hanya bermodalkan buahpikiran dan beberapa prompt saja.
Namun sayangnya, banyak yang tidak sadar bahwa membikin aplikasi hanyalah langkah pertama, yang jauh lebih susah jelas adalah memperbaiki bug, menambahkan fitur baru, menjaga kompatibilitas, menjawab laporan pengguna dan merawat project selama bertahun tahun.
Dari sanalah banyak project AI mulai berguguran, memang benar, AI bisa membantu banyak perihal termasuk perihal yang saya telaah sebelumnya, namun tanpa ada esensial yang kuat, project bisa berhujung ditengah jalan dan hanya sebatas jadi saja.
Selain itu, ada perihal menarik lain juga disampaikan oleh Thom Holwerda dari OSNews, menurutnya, jika AI betul-betul membikin developer bisa lebih konsentrasi pada penemuan seperti yang selama ini dipromosikan, semestinya kita sudah mulai memandang banyak aplikasi Linux yang betul-betul revolusioner.
Namun kenyataannya, sebagian besar aplikasi AI yang bermunculan tetap berkutat pada hal-hal sederhana seperti Pomodoro timer, Aplikasi catatan, Chat AI wrapper, Music player dan Utility kecil.
Belum banyak aplikasi kompleks alias betul-betul inovatif yang lahir dari gelombang AI tersebut.
AI Tetap Hanyalah Alat
Nah tentu bukan berfaedah AI ini buruk, lantaran AI tetap menjadi perangkat yang sangat membantu, apalagi sekarang sudah menjadi bagian dari workflow banyak developer.
Namun informasi ini menunjukan satu perihal yang cukup menarik, ialah AI memang bisa membantu seseorang membikin aplikasi jauh lebih cepat, tetapi AI tidak bisa menggantikan komitmen untuk merawat sebuah proyek.
Karena pada akhirnya, kualitas software bukan hanya ditentukan dari seberapa sigap dia dibuat, namun juga seberapa lama dia dipelihara.
Nah gimana menurutmu mengenai perihal ini? komen dibawah guys.
Via : Evangelos Paterakis,
Catatan Penulis : WinPoin sepenuhnya berjuntai pada iklan untuk tetap hidup dan menyajikan konten teknologi berbobot secara cuma-cuma — jadi jika Anda menikmati tulisan dan pedoman di situs ini, minta whitelist laman ini di AdBlock Anda sebagai corak support agar kami bisa terus berkembang dan berbagi insight untuk pengguna Indonesia. Kamu juga bisa mendukung kami secara langsung melalui support di Saweria. Terima kasih.
Written by
Gylang Satria
Tech writer yang sehari‑hari berkutat dengan Windows 11, Linux, dan Samsung S24. Punya pertanyaan alias butuh diskusi? Tag @gylang_satria di Disqus. Untuk kolaborasi, email saja ke [email protected]
Post navigation
Previous Post
English (US) ·
Indonesian (ID) ·