Gambaran Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an; Sosok Manusia Biasa

Bincang Syariah Aug 21, 2026 01:49 AM 470
Gambaran Nabi Muhammad dalam Al-Qur'an; Sosok Manusia BiasaGambaran Nabi Muhammad dalam Al-Qur'an; Sosok Manusia Biasa

Kincai Media– Gambaran Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Rasulullah adalah sosok manusia biasa seperti kita, namun diberi wahyu oleh Allah untuk menjadi pembawa risalah-Nya. Meskipun mempunyai kedudukan mulia sebagai nabi terakhir, tetap tidak menghilangkan realita bahwa Nabi Muhammad mempunyai sifat-sifat manusiawi, seperti makan, minum, tidur, dan merasa lelah.

Dari sekian banyak ayat yang menyebut Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an, terdapat satu ayat yang menjelaskan tentang begitu kasihnya Nabi Muhammad Saw. terhadap umatnya, dan ayat ini adalah rangkaian ayat terakhir yang turun kepada Nabi Muhammad Saw.

Allah Swt. berfirman dalam Surat At-Taubah ayat 128, tentang gambaran Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an:

لَـقَدْ جَآءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

Artinya: “Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang Anda alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah [9]: 128).

“Sungguh telah datang kepadamu Rasul”. Mengapa dikatakan datang alias telah datang? Kata Prof Quraish Shihab, satu perihal yang perlu kita sadari, bahwa jangan pernah menunggu, Anda kudu aktif dan menjemput bola. Dalam perihal ini bukan hanya da’i yang kudu mendatangi mereka yang memerlukan dakwah, melainkan semua dalam jenis kegiatan Anda kudu aktif dan datang.

Di sinilah Allah Swt. mengukuhkan bahwa “Dia telah datang kepadamu”. Dia tidak menunggu Anda datang, tetapi beliau Nabi Muhammad Saw. datang. Itu sebabnya, Kata Prof Quraish, salah satu ayat yang ditekankan oleh al-Qur’an adalah kita hendaknya berbisnis dengan Allah Swt.

Ada sekian banyak istilah-istilah upaya yang digunakan oleh al-Qur’an dalam konteks hubungan dengan Tuhan. Allah Swt. berfirman dalam Surat At-Taubah ayat 111:

اِنَّ اللّٰهَ اشْتَرٰى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اَنْفُسَهُمْ وَاَمْوَالَهُمْ بِاَنَّ لَهُمُ الْجَــنَّةَ ۗ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَيَقْتُلُوْنَ وَيُقْتَلُوْنَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِى التَّوْرٰٮةِ وَالْاِنْجِيْلِ وَالْقُرْاٰنِ ۗ وَمَنْ اَوْفٰى بِعَهْدِهٖ مِنَ اللّٰهِ فَاسْتَـبْشِرُوْا بِبَيْعِكُمُ الَّذِيْ بَايَعْتُمْ بِهٖ ۗ وَذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

Artinya: “Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun kekayaan mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka bertempur di jalan Allah; sehingga mereka membunuh alias terbunuh, (sebagai) janji yang betul dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain Allah? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah Anda lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah [9]: 111).

Tentu saja jika kita berbicara jiwa bukan hanya yang menghidupkan kita, melainkan seluruh totalitas kita, waktu, tempat, pengetahuan dan sebagainya. Dengan demikian, menjadi tahu bahwa orang yang mau berbisnis tidak boleh menunggu di rumah, melainkan, sekali lagi, dia kudu datang dan menjemput bola. Inilah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw., dan ini kata tergambar pada ayat pertama Surat At-Taubah.

Isyarat Nabi bakal pergi 

Jika ditelisik lebih jauh, bahwa “Jaa akum” itu kata kerja (past tense). Dan sebenarnya ada isyarat yang mau dinyatakan dari kata “Jaa akum” yang semua kita kudu menyadarinya. Ayat ini oleh sementara ustadz dinyatakan sebagai ayat terakhir yang datang kepada Nabi Muhammad Saw. Namun ada juga ayat yang terkenal dalam Surat Al-Maidah ayat 3. Allah Swt. berfirman:

اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَـكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَـكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًا ۗ فَمَنِ اضْطُرَّ فِيْ مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّاِثْمٍ ۙ فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ‏

Artinya: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu. Tetapi peralatan siapa terpaksa lantaran lapar bukan lantaran mau melakukan dosa, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 3).

Akan tetapi bukan ayat ini (Al-Maidah) kata Quraish Shihab, lantaran ini ayat terakhir dalam kesempurnaan agama. Kalau memang ini ayat terakhir, maka dari kata-kata “Jaa akum” ada sebuah isyarat. Karena beliau telah datang, maka setiap ada yang datang maka pasti bakal kembali. Kata ulama, ini isyarat bahwa usia Nabi sejenak lagi bakal berakhir.

Kesadaran tentang kembalinya manusia kepada Tuhan itu diperlukan setiap saat. Karena inilah yang menjadi perisai kita untuk mendekat kepada-Nya dan tidak melakukan pelanggaran-pelanggaran.

Syahdan. Beliau yang datang itu adalah rasul. Tentunya jika kita berbicara rasul maka otomatis dia adalah utusan, dan utusan membawa misi; apa yang disampaikannya adalah risalah dan pesan yang mengutusnya. Dengan kata lain sesuatu itu bukan datang dari diri rasul, lantaran rasul adalah utusan Allah Swt.

Karena itu, tak heran jika dikatakan bahwa budi pekerti rasul adalah al-Qur’an. Semua yang dilakukan rasul, baik dalam kegiatan sehari-hari maupun dalam kegiatan bentuk alias psikis, dalam berumah alias di luar rumah itu semua tuntunan Allah Swt. Mengenai adab Nabi Saw, Siti Aisyah. Ra menjawab:

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ 

Artinya: “Akhlak beliau (Nabi) adalah Al Quran. Yakni sebagaimana yang terdapat di dalam Al-Qur’an.”

Dalam al-Qur’an juga dinyatakan:

وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ

Artinya: “Dan sesungguhnya engkau benar-benar, beradab pekerti yang luhur.” (QS. Al-Qalam [68]: 4).

Baru dikatakan “Min anfusikum”. Dari dirimu wahai umat manusia. Mengapa demikian? Rupanya masyarakat pada masa rasul ada yang berbicara “Kenapa Tuhan tidak mengutus malaikat saja?” Tuhan menjawab “Kalau kami mengutus malaikat Anda pasti menampilkannya dalam bentu manusia.”

Karena manusia tidak bisa memandang malaikat. Karena itu, “Kamu mengutus rasul yang merupakan manusia seperti kamu, sehingga apa yang dilaksakannya sebagai manusia Anda dapat juga melaksanakannya. Tuntunannya sesuai dengan kemanusiaan manusia, bukan untuk malaikat. Untuk manusia yang hidup dan bukan manusia yang mati.”

Jika demikian, rasul yang datang ini (yang datang dari manusia seperti kita) pasti mempunyai sifat-sifat kemanusiaan. Beliau juga marah, senang, tertawa, bercanda, kawin dan lainnya. Karena beliau adalah manusia.

Kata Quraish Shihab, di sini sengaja “agaknya” dipilih kata “Anfus” untuk menggambarkan bahwa detak-detik jantung nabi menggambarkan bahwa isi hati nabi sangat dalam mencintai kemanusiaan. Karena itu, kepercayaan ini adalah kepercayaan yang ditujukan untuk seluruh manusia. Dan keberagamaan yang diajarkan oleh kepercayaan ini adalah juga ditujukan untuk manusia, sehingga keberagamaan berada setelah kemanusiaan.

Tentang keberagamaan. Misalnya berwudhu adalah aliran agama. Dengan berwudhu kita melakukan keberagamaan. Seandaikanya Anda mempunyai air cukup untuk wudhu’, tetapi ada anjing yang kehausan dan memerlukan air itu, lantaran kepercayaan mendahulukan kemanusiaan atas keberagamaan, maka Anda diharuskan memberi minum anjing itu, dan tidak perlu wudhu’ dengan air yang tersedia. Demikian seterusnya. Inilah makna yang bisa ditarik dari “Anfusikum”.

Rasulullah adalah manusia biasa 

Dalam perihal ini sudah jelas bahwa Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an adalah manusia, seperti kita. Akan tetapi Allah Swt. memerintahkan Rasul menyatakan perihal tersebut dengan berbicara seperti yang dinyatakan Surat Al-Kahf ayat 110, Allah Swt. berfirman:

قُلْ اِنَّمَاۤ اَنَاۡ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوْحٰۤى اِلَيَّ اَنَّمَاۤ اِلٰهُكُمْ اِلٰـهٌ وَّاحِدٌ ۚ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْا لِقَآءَ رَبِّهٖ فَلْيَـعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًـاوَّلَايُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهٖۤ اَحَدًا

Artinya: “Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya saya ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang telah menerima wahyu, bahwa sesungguhnya Tuhan Anda adalah Tuhan Yang Maha Esa.” Maka peralatan siapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan amal dan janganlah dia menyekutukan dengan sesuatu pun dalam beragama kepada Tuhannya.” (QS. Al-Kahf [18]: 110).

Tuntunan wahyu inilah yang membentuk kepribadian rasul, dan tuntunan wahyu itulah yang dijelaskan oleh rasul dengan ucapan, perbuatan, apalagi dengan sikap diamnya. Itulah risalah.

Surat At-Taubah dimulai berbeda dengan surat-surat yang lain, dalam perihal ini tanpa basmalah. Ia dimulai dengan pernyataan Tuhan bahwa Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya. Ia berbincang tentang kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh sahabat-sahabat Rasulullah. Ia berbincang tentang perang uhud, di mana gugur 70 orang sahabat Nabi. Bagaimana sikap rasul terhadap hal-hal tersebut?

Yang jelas, rasul sangat berat memikulnya, bakal tetapi perihal ini kudu dilakukan lantaran ini bagian dari resiko hidup dan perjuangan untuk melawan ketinggian. Selain itu, perihal demikian adalah corak didikan Allah Swt. kepada Rasul-Nya. Bahkan, sampai-sampai rasul dan orang-orang mukmin lantaran lamanya dan beratnya ujian dia berbicara “Kapan kemenangan dan support bakal datang dari Allah Swt?” Allah menjawab “Sebentar lagi.”

Setelahnya dikatakan “Raufun rahim”. Bahwa setiap kegiatan hendaknya dimulai dengan membaca bismillahirrahmanirrahim. Ingat rahmat Allah. Rahmat Allah dilukiskan oleh basmalah, alias Allah itu disifati oleh basmalah  dengan dua sifat yaitu: Rahman dan Rahim. Sebuah hadits mengatakan:

كُلُّ أَمْرٍ ذِيْ بَالٍ لاَ يُبْدَأُ فِيْهِ بِـ : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ فَهُوَ أَبْتَرُ

Artinya: “Setiap perkara krusial yang tidak dimulai dengan ‘bismillah’, maka ibadah tersebut terputus (kurang) keberkahannya.” (HR Al-Khatib).

Rahman adalah pelimpah rahmat di bumi ini untuk semua makhluk, sementara Rahim adalah pelimpah rahmat kekal di alambaka nanti. Itu sebabnya, jika Anda membaca basmalah, maka Anda diminta untuk mengingat bahwa Allah mencurahkan rahmat untuk semua makhluk.

Itulah yang dimaksud dengan rahmatan lil alamin. Bukan hanya manusia yang muslim, tetapi semua manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan apalagi rahmat kepada makhluk yang tak bernyawa.

Dengan demikian, gambaran Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an, ini bermaksud untuk menegaskan bahwa beliau adalah contoh teladan dalam menjalani kehidupan sebagai manusia biasa, yang bisa dijadikan panutan oleh umatnya dalam beragam aspek kehidupan.Wallahu a’lam bisshawab.

Sertifikasi Halal

Selengkapnya
Gambaran Nabi Muhammad dalam Al-Qur’an; Sosok Manusia Biasa
InMotion Shared Hosting
CloudWays Cloud Hosting