Hadis: Pentingnya Niat Dalam Mendidik Anak

Jan 31, 2026 11:00 AM - 3 bulan yang lalu 99172

Anak yang saleh merupakan aset investasi paling berbobot yang dimiliki oleh sebuah keluarga. Anak yang saleh tak hanya berhujung sebagai penyejuk jiwa tatkala di dunia, namun di alambaka kelak dia bakal menjadi pemberat banget bagi kedua orang tuanya. Oleh lantaran itu, pendidikan terhadapnya tak boleh dipandang sebelah mata, melainkan kudu disertai dengan tekad yang kuat, prinsip yang kokoh, dan kesungguhan yang nyata.

Ketahuilah bahwa tujuan utama mendidik anak dalam Islam adalah menjadikan anak sebagai seorang hamba. Bukan hamba dunia, melainkan hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Hamba yang bertauhid, menjunjung tinggi prinsip Islam, serta bangga mengamalkan hukum dalam kehidupan. Tentunya perihal ini tidak dapat diraih selain dengan berpegang teguh dengan apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sabdakan,

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Aku telah tinggalkan pada kalian dua perkara. Kamu tidak bakal sesat selama berpegang kepada keduanya, yaitu Kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunah Rasul-Nya (hadis).” (Hadis shahih lighairihi, HR. Malik, Al-Hakim, Al-Baihaqi, Ibnu Nashr, dan Ibnu Hazm. Dinilai sahih oleh Syekh Salim al-Hilali di dalam At–Ta’zhim wal Minnah fil Intisharis Sunnah, hal. 12-13)

Barang siapa yang menginginkan keberhasilan, hendaknya dia bersungguh-sungguh dalam menerapkan metode pendidikan yang telah terbukti dapat memperbaiki umat ini dari era ke zaman. Imam Malik rahimahullah berkata, “Tidak bakal baik generasi akhir umat ini selain dengan sesuatu yang memperbaiki generasi awalnya.” Yakni dengan berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunah serta memahaminya dengan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Donasi Kincai Media

Salah satu karya yang relevan untuk dipelajari tentang pendidikan anak yang selaras dengan Al-Qur’an dan Sunah serta sesuai dengan pemahaman para sahabat radhiyallahu ‘anhum adalah kitab ringkas berjudul “40 Hadits Tentang Tarbiyah dan Manhaj” yang ditulis oleh Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Abdullah as-Sadhaan hafidzahullah. Semoga Allah mengalirkan pahala jariyah bagi penulis hafidzahullah dan memberikan kemudahan bagi saya untuk menuliskan kembali faidah-faidah dalam kitab yang pernah saya pelajari sehingga meluas manfaatnya bagi umat, aamiin yaa rabbal ‘alamiin.

Baca juga: Pahala Mendidik Anak Perempuan

Mengapa kita perlu belajar parenting dari hadis-hadis Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?

Sebab Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah pendidik terbaik yang pernah ada di muka bumi. Sosok pembimbing yang tak hanya konsentrasi mengajarkan materi ataupun mengejar apresiasi duniawi, namun konsentrasi memperbaiki dengan pengetahuan yang murni dan keteladanan yang membekas dalam sanubari. Tak hanya mengutamakan kelemahlembutan, bakal tetapi juga menekankan ketegasan. Tak hanya menjadikan seseorang sibuk memoles apa yang nampak, namun mendorong seseorang untuk senantiasa memperhatikan apa yang sekiranya terluput. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إنَّما بُعثتُ لأتمِّمَ مَكارِمَ الأخلاقِ

“Sesungguhnya saya diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi no. 21301, Ahmad no. 8952, dan Al-Hakim no. 4221)

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sosok pembimbing yang metode pengajaran dan kesabarannya tak hanya sukses memperbaiki satu dua kelas saja, melainkan mengubah secara total peradaban yang diselimuti oleh kegelapan kemaksiatan menuju kegemilangan dengan sinar Islam. Maka sudah selayaknya umat Islam bersemangat untuk mengambil intipati pengajaran terbaik dari suri teladan terbaik sepanjang zaman, ialah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Pengertian tarbiyah dan manhaj

Yang dimaksud penulis dengan kata at-tarbiyah yakni,

التعاملُ مع نفس العبد و جوارحه حسبَ النصوصِ الشرعية وفقَ طريقةِ السلف الصالح

“Cara berinteraksi dengan jiwa seorang hamba dan personil tubuhnya sesuai dalil-dalil syar’i dengan mengikuti metode as-salaf ash-shalih.”

Adapun yang dimaksud penulis dengan kata al-manhaj yakni,

التعاملُ في دعوة الناسِ حسبَ النصوصِ الشرعية وفقَ طريقةِ السلف الصالح

“Cara berinteraksi dalam menyeru manusia (berdakwah kepada manusia) sesuai dalil-dalil syar’i dengan mengikuti metode as-salaf ash-shalih.”

Hadis: Pentingnya niat dalam mendidik anak

عَنْ عُمَرَ بْنَ الخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ, وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى, فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ, فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ, وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا, أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا, فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sesungguhnya setiap kebaikan itu (tergantung) pada niatnya, dan sesungguhnya seseorang itu bakal mendapatkan sesuatu sesuai dengan apa yang dia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya lantaran Allah dan rasul–Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan rasul–Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya kepada bumi yang hendak diraihnya, ataupun wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya (hanya bernilai) kepada apa yang diniatkannya itu.’” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

Beberapa faidah dari hadis

Pertama: Pentingnya melandasi setiap perbuatan dengan niat yang lurus, termasuk dalam mendidik buah hati, ialah hanya untuk mencari keridaan Allah ‘Azza wa Jalla, bukan hanya untuk berbangga-bangga dengan prestasi yang dicapai oleh anak-anaknya.

Kedua: Kemahasempurnaan Allah ‘Azza wa Jalla dalam perihal memberi kepada siapa saja yang Dia kehendaki dengan keutamaan-Nya dan dalam perkara mengazab siapa saja yang Dia kehendaki dengan keadilan-Nya. Ketahuilah bahwa Allah ‘Azza wa Jalla tidak pernah menzalimi seorangpun dari hamba-Nya, karena setiap hamba bakal mendapatkan sesuatu sesuai dengan apa yang dirinya niatkan. Meskipun niatnya hanya lantaran dunia, Allah ‘Azza wa Jalla tetap memberinya.

Ketiga: Barangsiapa yang menginginkan sesuatu dari kebaikan yang dilakukannya, maka orang itu bakal diserahkan kepada apa-apa yang dia niatkan. Apabila niatnya hanya untuk dunia, maka dia bakal mendapatkannya, namun tidak dengan keberkahannya. Sebagaimana orang tua yang bersungguh-sungguh dan bersusah payah mendidik anak untuk mencari dunia, baik dalam corak kekayaan maupun pujian dari manusia, niscaya mereka bakal mendapatkannya. Akan tetapi dengan usahanya itu, tidaklah menjadikan langgeng dan bertambahnya kebaikan pada segala sesuatu yang dia dapatkan.

Keempat: Motivasi bagi hamba untuk senantiasa bertindak ikhlas, ialah membersihkan hati dari keinginan-keinginan yang dapat merusak kebaikan saleh

Kelima: Barangsiapa yang menginginkan untuk menghadirkan keikhlasan dalam setiap kebaikan saleh yang dilakukannya, maka Allah ‘Azza wa Jalla akan senantiasa membantunya dalam menghadirkan keikhlasan dan menolongnya untuk beramal. Begitupun dalam mendidik anak. Orang tua yang tulus dalam mendidik, Allah ‘Azza wa Jalla akan senantiasa membantunya untuk mensalehkan anak-anaknya.

Keenam: Keikhlasan orang tua dalam mendidik anak berbanding lurus dengan perubahan yang bakal terjadi pada anak-anaknya. Semakin tulus orang tua, maka semakin mudah anak-anak dibimbing dan semakin nyata perubahan mereka. Begitupun sebaliknya. Ketahuilah bahwa setiap norma mempunyai pengecualian. Ada sebagian anak yang Allah ‘Azza wa Jalla takdirkan sebagai ujian bagi kedua orang tuanya. Namun berita ceria selalu ada, pahala bakal tetap didapatkan oleh orang tua sesuai kadar keikhlasannya.

Ketujuh: Peringatan untuk berhati-hati dari perbuatan riya’, ialah beramal untuk dilihat, dipandang baik, ataupun dipuji oleh manusia. Luruskan niat kita. Jangan sampai bertahun-tahun kita bersusah payah berjuang mendidik anak-anak, bakal tetapi yang kita lakukan tidaklah sedikitpun membuahkan pahala, melainkan menjadikan kita berkuasa untuk memanen dosa kelak di akhirat.

Kedelapan: Syarat diterimanya sebuah kebaikan adalah dengan menggabungkan antara mengikhlaskan niat dan mengikuti hukum (ittiba’).

Baca juga: Pentingnya Meluruskan Niat (Bag. 1)

***

Penulis: Putri Idhaini 

Artikel Kincai Media

Referensi:

  1. ‘Arba’una Haditsan fii Tarbiyati wa al-Manhaj, Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad bin Abdullah as-Sadhaan hafidzahullah.https://url-shortener.me/2QUT
  2. Kaidah Penting dalam Memahami Al-Qur’an dan Hadits, Muslim Atsary, 2011, https://muslim.or.id/6966-kaedah-penting-dalam-memahami-al-quran-dan-hadits.html
  3. Kemuliaan, Hanya dengan Kembali kepada Manhaj Salaf, Ari Wahyudi, S.Si, 2010, https://muslim.or.id/1864-kemuliaan-hanya-dengan-kembali-kepada-manhaj-salaf.html
  4. Akhlak yang Mulia, Tanda Kesempurnaan IslamSeorang Muslim, Muhammad Idris, Lc., 2024, https://muslim.or.id/101334-akhlak-yang-mulia-tanda-kesempurnaan-Islam-seorang-muslim.html
  5. https://www.terjemahmatan.com/2019/05/arbain-tarbiyah-dan-manhaj-syaikh-abdul-aziz-sadhan.html
Selengkapnya