Hukum Memviralkan Aib Seseorang di Media SosialKincai Media– Bagaimana norma memviralkan kejelekan seseorang di media sosial? Membuka kejelekan orang lain pada dasarnya tidak diperbolehkan, apalagi sampai mengupload dan memviralkannya di media sosial. Karena perihal tersebut termasuk ghibah yang dilarang dalam hukum Islam, apalagi ghibah termasuk dalam kategori dosa-dosa besar.
Lebih lanjut, ghibah hukumnya haram andaikan dilakukan tanpa adanya suatu sebab, sebagaimana disebutkan di dalam sebuah hadits:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْغِيبَةُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ قِيلَ أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِي أَخِي مَا أَقُولُ قَالَ إِنْ كَانَ فِيهِ مَا تَقُولُ فَقَدْ اغْتَبْتَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ
“Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW pernah bertanya: “Tahukah kamu, apakah ghibah itu?” Para sahabat menjawab; Allah dan Rasul-Nya lebih tahu. Kemudian Rasulullah SAW bersabda:
Ghibah adalah Anda membicarakan saudaramu mengenai sesuatu yang tidak dia sukai. Seseorang bertanya; Ya Rasulullah, bagaimanakah menurut engkau andaikan orang yang saya bicarakan itu memang sesuai dengan yang saya ucapkan?
Beliau berkata: Apabila betul apa yang Anda bicarakan itu ada padanya, maka berfaedah Anda telah menggunjingnya. Dan andaikan yang Anda bicarakan itu tidak ada padanya, maka berfaedah Anda telah membuat-buat ketidakejujuran terhadapnya.”
Berdasarkan Hadits di atas makna ghibah adalah membicarakan orang lain mengenai sesuatu yang tidak dia sukai. Membuka kejelekan seseorang termasuk dalam ghibah, apalagi sampai memviralkan di media sosial. Karena orang yang dibuka aib, pasti tidak mau kejelekannya diketahui oleh orang lain.
Namun keharaman membuka kejelekan orang lain di sini tidaklah mutlak. Apabila tujuannya untuk suatu kepentingan yang dibenarkan hukum maka boleh. Sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah sebagai berikut:
إذا كان التشهير على سبيل نصيحة المسلمين وتحذيرهم، وذلك كجرح الرواة والشهود والأمناء على الصدقات والأوقاف والأيتام، والتشهير بالمصنفين والمتصدين لإفتاء أو إقراء مع عدم أهلية، أو مع نحو فسق أو بدعة يدعون إليها، وأصحاب الحديث وحملة العلم المقلدين، هؤلاء يجب تجريحهم وكشف أحوالهم السيئة لمن عرفها ممن يقلد في ذلك ويلتفت إلى قوله، لئلا يغتر بهم – الي ان قال – بشرط أن تكون النية خالصةً لله تعالى في نصيحة المسلمين في ضبط الشريعة.
أما إذا كان لأجل عداوة أو تفكه بالأعراض وجريًا مع الهوى فذلك حرامٌ، وإن حصلت به المصلحة عند الرواة.
“Apabila tujuan mempublikasikan adalah untuk menasehati dan memperingati kaum muslimin, seperti menghina perawi, saksi, orang-orang yang diamanahi shadaqah, orang-orang yang diamanahi wakaf dan anak yatim, para pengarang kitab dan orang yang menentang fatwa alias referensi di samping tidak kompeten, alias dengan corak maksiat alias bid’ah yang dapat membikin orang lain melakukan bid’ah, dan para mahir hadits, para muqallid yang mahir ilmu, maka bagi orang yang mengikuti mereka dan mengetahui bakal keburukannya kudu menyingkap keburukan mereka.
Dengan syarat diniatkan semata-mata lantaran Allah untuk menasihati kaum muslimin. Namun andaikan niatnya untuk permusuhan alias memfitnah lantaran mempunyai kepentingan dan mengikuti hawa nafsu maka itu haram, sekalipun tercapainya sebuah maslahat menurut para perawi.”
Dari quote di atas bisa disimpulkan bahwa, andaikan tujuan membuka kejelekan seseorang alias memviralkan kejelekan seseorang di media sosial adalah untuk kebaikan, seperti menasihati alias memperingati masyarakat agar tidak melakukan hal-hal buruk, mengungkap suatu kejahatan, memberi edukasi kepada masyarakat, maka hukumnya boleh dengan syarat diniatkan semata-mata lantaran Allah.
Namun andaikan niatnya untuk permusuhan alias memfitnah lantaran mempunyai kepentingan dan mengikuti hawa nafsu maka itu haram. [Baca juga: Aib yang Menetapkan Khiyar dalam Pernikahan]
Sekian penjelasan tentang norma memviralkan kejelekan seseorang, semoga bermanfaat. [Baca juga: Aib yang Menetapkan Khiyar dalam Pernikahan]
English (US) ·
Indonesian (ID) ·