Kisah Ulama Aceh yang Paling Ditakuti Kolonial Belanda, Gugur Diracun Pengkhianat Bangsa

Aug 11, 2026 03:09 PM - 2 jam yang lalu 4

Teungku Chik Di Tiro (Ilustrasi).

Kincai MediaPerlawanan rakyat Aceh terhadap kolonialisme Belanda tidak lepas dari peran para ustadz yang menjadi penggerak sekaligus sumber semangat perjuangan. Salah satu sosok yang paling ditakuti Belanda adalah Teungku Chik Di Tiro Muhammad Saman, ustadz dari Pidie yang selama lebih dari satu dasawarsa memimpin perang sabil dan sukses merebut kembali sejumlah daerah Aceh dari tangan penjajah.

Belanda apalagi menawarkan bingkisan 1.000 dollar AS bagi siapa saja yang bisa menangkapnya hidup alias mati. Namun, ketika beragam upaya menghadapi perlawanan Teungku Chik Di Tiro di medan perang tidak berhasil, Belanda akhirnya menggunakan langkah licik hingga sang ustadz wafat setelah diracun oleh seorang penghianat bangsa.

Alkisah, pada akhir 1880, dapat dikatakan bahwa daerah yang disebut Aceh Lhee Sagoe ialah Kabupaten Aceh Besar dan Kotamadya Banda Aceh sekarang, telah jatuh ke tangan Belanda. Kecuali daerah pegunungan Seulawah yang dijadikan sebagai tempat persembunyian para pejuang Aceh.

Para pejuang yang berlindung di sekitar gunung Seulawah terus memikirkan solusi dalam menghadapi Belanda yang telah sukses menguasai Aceh Besar. Untuk itu, mereka melakukan pertemuan yang membahas langkah-langkah yang kudu diambil berangkaian dengan keadaan menghadapi kolonialis Belanda pada waktu itu.

Pertemuan itu dilaksanakan di gunung Biram dekat Lamtamot, sekitar 10 km dari Seulimum. Sesudah berganti pikiran secara panjang lebar, akhirnya mereka berkesimpulan bahwa perjuangan melawan kolonialis perlu dilanjutkan, dilansir dari kitab Tokoh Agama Dalam Perjuangan Kemerdekaan 1945-1950 di Aceh karya Rusdi Sufi, Muhammad Nasir, dan Zulfan yang diterbitkan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 1997,

Untuk itu, kudu diupayakan support dari luar Aceh Besar. Bantuan itu kudu diminta melalui para ulama, lantaran ulamalah yang mempunyai pengaruh besar dalam masyarakat pada waktu itu. Terlebih dalam menghadapi kolonialis Belanda yang kafir dan punya kekuatan besar.

Sebagai tindak lanjut dari kesepakatan tersebut, maka diputuskan agar beberapa orang ke daerah Pidie untuk menemui para ulama. Utusan gunung Biram itu berangkat melalui bukit Barisan di pinggir gunung Seulawah untuk menghindari dari penglihatan mata-mata kolonialis Belanda.

Selengkapnya