Kisah Syekh Asnawi al-Bantani Pimpin Laskar Mujahidin, Putuskan Jaringan Telepon Belanda

Aug 10, 2026 02:22 PM - 4 jam yang lalu 5

asjid Agung As Salafie Caringin, Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten yang dibangun oleh ustadz kharismatik Syekh Asnawi bin Syekh Abdurrahman sekarang berumur 138 tahun dengan kondisi tetap terawat sampai sekarang.

Kincai MediaNama Syekh Tubagus Muhammad Asnawi al-Bantani tidak hanya dikenal sebagai ustadz berpengaruh dari Caringin, Labuan, Pandeglang, Banten tetapi juga sebagai salah satu tokoh yang turut mengobarkan perlawanan rakyat Banten terhadap pemerintah kolonial Belanda. Pada 1926, Syekh Asnawi berbareng para ustadz mendirikan Laskar Mujahidin sebagai bagian dari perjuangan menghadapi kesewenang-wenangan pemerintah kolonial.

Pada 1926, ketika suhu perjuangan menentang pemerintah kolonial Belanda semakin memuncak, Syekh Asnawi berbareng sejumlah ustadz di Banten mendirikan sebuah laskar yang diberi nama Laskar Mujahidin. Laskar ini menjadi salah satu wadah perjuangan rakyat dalam menghadapi pemerintahan kolonial yang dinilai semakin sewenang-wenang terhadap rakyat.

Dalam perjuangan tersebut, ustadz kelahiran tahun 1850 ini melakukan tindakan sabotase terhadap instansi Pos, Telepon, dan Telegraf (PTT) di Jakarta. Ia mengobrak-abrik sejumlah peralatan serta memutus kabel telepon yang menghubungkan komunikasi dengan Banten. Tindakan tersebut dilakukan sebagai bagian dari strategi perjuangan untuk menghalang komunikasi pemerintah kolonial Belanda dan memperkuat aktivitas perlawanan.

Dikutip dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Banten, diterangkan bahwa Syekh Asnawi menilai akomodasi komunikasi tersebut perlu dilumpuhkan lantaran dapat digunakan pemerintah kolonial untuk kepentingan pengendalian dan menghadapi aktivitas perlawanan rakyat. Dalam struktur Laskar Mujahidin, putranya, KH Emed Ahmad Hadi, dan menantunya, KH Tb Achmad Chatib, dipercaya sebagai panglima. Sementara itu, Ki Emed juga bekerja sebagai penanggung jawab seksi logistik.

Pada 15 November 1926, para pejuang pergerakan kemerdekaan dan Laskar Mujahidin menyerang konvoi serdadu Belanda di jembatan Sanggoma Caringin Labuan Banten. Perlawanan rakyat yang pada awalnya bakal dilaksanakan di seluruh Nusantara, namun akhirnya hanya dilancarkan di beberapa kota termasuk di Banten yang paling gencar mengadakan perlawanan. Terjadi Pertempuran dahsyat dengan diawali pelemparan granat tangan ke arah serdadu Belanda sehingga menewaskan lima orang dan belasan lainnya terluka.

Serdadu Belanda kemudian membalas dengan tembakan sehingga banyak yang gugur dan terluka dari pihak Laskar Mujahidin dan pejuang. Termasuk Komandan Mujahidin H Sali dan wakilnya Amad. Mereka yang syahid kemudian di makamkan di pinggir sungai Sanggoma (Cisanggoma) secara massal.

Selengkapnya