Amalan Rebo Wekasan Menurut Ulama: Doa, Istighfar hingga Membaca Al-Qur’an

Aug 10, 2026 10:24 AM - 9 jam yang lalu 8
 Doa, Istighfar hingga Membaca Al-Qur’anAmalan Rebo Wekasan Menurut Ulama: Doa, Istighfar hingga Membaca Al-Qur’an

Kincai Media– Berikut ini adalah ibadah malam Rebo Wekasan. Istilah Rebo Wekasan merupakan istilah yang dikenal dalam tradisi masyarakat Muslim Nusantara untuk menyebut Rabu terakhir pada bulan Safar. Di tengah masyarakat, momentum ini sering diisi dengan beragam kegiatan keagamaan, seperti angan bersama, zikir, membaca Al-Qur’an, sedekah, dan ibadah lainnya.

Ada sejumlah ibadah yang dapat dilakukan sebagai corak ikhtiar jiwa untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Namun, krusial untuk memahami bahwa amalan-amalan tersebut tidak boleh diyakini sebagai tanggungjawab unik yang ditetapkan hukum untuk Rebo Wekasan.

Amalan Malam Rebo Wekasan

1. Memperbanyak Sedekah

Sedekah merupakan salah satu corak ibadah yang dianjurkan dalam Islam kapan pun dan di mana pun. Pada momentum Rebo Wekasan, masyarakat dapat memperbanyak sedekah, terutama kepada fakir miskin, anak yatim, dan orang-orang yang membutuhkan.

Sedekah dapat menjadi corak kepedulian sosial sekaligus ikhtiar seorang Muslim untuk memperoleh keberkahan dan pertolongan Allah SWT.

2. Membaca Al-Qur’an

Membaca Al-Qur’an merupakan ibadah yang sangat dianjurkan dalam Islam. Karena itu, malam Rebo Wekasan dapat diisi dengan membaca Al-Qur’an sebagai bagian dari ibadah dan upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ، وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلَامٌ حَرْفٌ، وَمِيمٌ حَرْفٌ

Artinya: “Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Qur’an), maka baginya satu kebaikan. Satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR Tirmidzi).

Sebagian masyarakat juga mengisi Rebo Wekasan dengan membaca Surah Yasin. Dalam tradisi tertentu, ketika sampai pada ayat “Salamun qoulam mir rabbir rahim”, ayat tersebut diulang sebanyak 313 kali dengan angan memperoleh keselamatan dan perlindungan dari Allah SWT.

Amalan semacam ini sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari tradisi dan ikhtiar pribadi, bukan sebagai ketentuan ibadah yang diwajibkan secara unik oleh syariat.

3. Melaksanakan Shalat Sunah Mutlak

Sebagian ustadz membolehkan penyelenggaraan shalat pada Rebo Wekasan andaikan diniatkan sebagai shalat sunah mutlak, bukan sebagai shalat unik Rebo Wekasan.

Dalam praktik yang berkembang di sebagian masyarakat, shalat tersebut dilakukan sebanyak empat rakaat dengan dua salam. Pada setiap rakaat setelah membaca Surah Al-Fatihah, dibaca Surah Al-Kautsar sebanyak 17 kali, Surah Al-Ikhlas lima kali, Surah Al-Falaq satu kali, dan Surah An-Nas satu kali.

Yang perlu diperhatikan adalah niatnya. Shalat tersebut tidak diniatkan sebagai ibadah unik yang mempunyai ketentuan tersendiri lantaran Rebo Wekasan, melainkan sebagai shalat sunah absolut yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Quds al-Makki, salah seorang ustadz yang banyak dirujuk di kalangan pesantren, menjelaskan bahwa shalat Rebo Wekasan dapat dilakukan andaikan diniatkan sebagai shalat sunah mutlak.

4. Memperbanyak Istighfar dan Zikir

Istighfar merupakan ibadah untuk memohon maaf kepada Allah SWT atas dosa dan kesalahan yang dilakukan. Seorang Muslim dianjurkan memperbanyak istighfar dalam beragam keadaan, termasuk ketika mengisi malam Rebo Wekasan.

Allah SWT berfirman dalam Surah Hud ayat 90:

وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَدُودٌ

Artinya: “Mohonlah pembebasan kepada Tuhanmu, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Mencintai.”

Selain istighfar, umat Islam juga dapat memperbanyak zikir dan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Amalan-amalan tersebut tidak terbatas pada Rebo Wekasan, tetapi merupakan ibadah yang dianjurkan sepanjang waktu.

5. Berdoa Memohon Perlindungan kepada Allah

Berdoa merupakan salah satu corak ikhtiar seorang Muslim dalam memohon perlindungan, keselamatan, dan keberkahan kepada Allah SWT.

Salah satu angan yang masyhur dibaca dalam tradisi Rebo Wekasan adalah sebagai berikut:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

اَللَّهُمَّ يَا شَدِيْدَ الْقُوَى وَيَا شَدِيْدَ الْمِحَالِ يَا عَزِيْزُ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيْعُ خَلْقِكَ، اِكْفِنِيْ مِنْ جَمِيْعِ خَلْقِكَ، يَا مُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ، يَا مَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، اِرْحَمْنِيْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ بِسِرِّ الْحَسَنِ وَأَخِيْهِ وَجَدِّهِ وَأَبِيْهِ وَأُمِّهِ وَبَنِيْهِ، اِكْفِنِيْ شَرَّ هَذَا الْيَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ، يَا كَافِيَ الْمُهِمَّاتِ يَا دَافِعَ الْبَلِيَّاتِ، فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ، وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Artinya: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semoga rahmat dan salam selalu tercurah kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabatnya.

Ya Allah, Tuhan Yang Maha Kuat, Maha Perkasa, dan Maha Mulia. Seluruh makhluk menjadi buruk di hadapan-Mu. Lindungilah saya dari segala kejahatan makhluk-Mu. Wahai Tuhan Yang Maha Baik, Maha Indah, Maha Memberi karunia, nikmat, dan kemuliaan. Tiada Tuhan selain Engkau. Kasihanilah saya dengan rahmat-Mu, wahai Zat Yang Maha Penyayang.

Ya Allah, dengan kemuliaan Sayyidina Hasan, saudaranya, kakeknya, ayahnya, ibunya, dan keturunannya, jauhkanlah saya dari keburukan hari ini dan segala yang turun padanya. Wahai Zat Yang Maha Mencukupi segala urusan, wahai Penolak segala bala. Cukuplah Allah bagiku. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Cukuplah Allah sebagai tempat bersandar dan Dia adalah sebaik-baik pelindung. Tiada daya dan upaya selain dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Semoga Allah mencurahkan rahmat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabatnya.”

Pandangan Ulama tentang Rebo Wekasan

Beberapa ustadz Nusantara memberikan catatan krusial mengenai tradisi dan ibadah Rebo Wekasan. Mengutip dari Salah satunya adalah Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Quds al-Makki yang menjelaskan bahwa shalat yang dilakukan pada Rebo Wekasan dapat dilaksanakan andaikan diniatkan sebagai shalat sunah mutlak.

Dengan demikian, shalat tersebut tidak diniatkan sebagai ibadah unik yang diwajibkan alias disyariatkan secara spesifik lantaran Rebo Wekasan. Niatnya adalah melaksanakan shalat sunah absolut sebagai corak ibadah kepada Allah SWT.

Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari juga memberikan penekanan bahwa ibadah yang tidak mempunyai dasar kuat dari Nabi SAW tidak semestinya diyakini sebagai tanggungjawab agama. Namun, memperbanyak doa, zikir, sedekah, dan ibadah lainnya pada waktu tertentu tetap dapat dilakukan selama diniatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan lantaran meyakini bahwa hari alias bulan tertentu secara unsur membawa kesialan.

Sementara itu, KH Maimoen Zubair memaknai Rebo Wekasan sebagai momentum tafā’ul, ialah mengambil sikap optimistis dan berambisi kebaikan. Dengan angan dan ibadah, seorang Muslim diarahkan untuk semakin bertawakal diri dan bertawakal kepada Allah SWT, bukan justru terjebak dalam rasa takut alias dugaan bahwa bulan Safar merupakan bulan yang membawa kesialan.

Pandangan tersebut menunjukkan pentingnya sikap yang seimbang dalam menyikapi tradisi keagamaan yang berkembang di masyarakat. Tradisi dapat dijalankan selama tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat, sementara kepercayaan yang berlebihan dan mengarah pada tahayul perlu dihindari.

Rebo Wekasan sebagai Momentum Memperbanyak Kebaikan

Untuk itu, tidak ada salahnya menjadikan ibadah malam Rebo Wekasan sebagai momentum untuk memperbanyak kebaikan kebaikan. Seorang Muslim dapat mengisinya dengan berdoa, membaca Al-Qur’an, memperbanyak istighfar dan shalawat, bersedekah, serta melakukan beragam ibadah lain yang memang dianjurkan dalam Islam.

Yang terpenting adalah meluruskan niat. Rebo Wekasan hendaknya tidak dipandang sebagai waktu yang pasti membawa kesialan alias bencana, melainkan sebagai kesempatan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memperbanyak kebaikan saleh.

Dengan demikian, umat Islam diharapkan senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT, bisa menjalani bulan Safar dengan penuh optimisme dan tawakal, serta menyambut bulan-bulan berikutnya dengan semangat untuk meningkatkan kualitas ibadah dan kebaikan kebaikan.

Sertifikasi Halal

Selengkapnya