Menyingkap Narasi Makhluk Pra-Adam dalam Kitab Akhbar az-Zaman

Aug 10, 2026 10:07 AM - 9 jam yang lalu 7
Menyingkap Narasi Makhluk Pra-Adam dalam Kitab Akhbar az-ZamanMenyingkap Narasi Makhluk Pra-Adam dalam Kitab Akhbar az-Zaman

Kincai Media– Keingintahuan manusia terhadap apa yang terjadi sebelum keberadaannya di Bumi merupakan dorongan eksistensial yang telah ada sepanjang sejarah peradaban. Sejak masa purba hingga era eksplorasi modern, pertanyaan mengenai apakah ada kehidupan lain sebelum jenis manusia diciptakan senantiasa membakar khayalan para filsuf, sejarawan, saintis, dan intelektual agama.

Dalam tradisi literatur Islam abad pertengahan, diskursus ini menemukan wadah yang sangat kaya melalui aliran kosmologi, sejarah purbakala, dan pengkajian narasi keajaiban alam (ajaib).

Salah satu karya paling monumental yang sering kali menjadi rujukan sekaligus bahan perdebatan dalam diskursus ini adalah kitab “Akhbar az-Zaman” yang dinisbatkan kepada cerdas pandai Muslim abad ke-10 M, Syaikh Abul Hasan Ali bin Al-Husain bin Ali Al-Mas’udi.

Narasi tentang adanya makhluk-makhluk unik dan asing yang mendahului keberadaan Nabi Adam AS (Makhluk Pra-Adam) di muka bumi membuka ruang obrolan yang mendalam. Penggambaran entitas-entitas ini tidak hanya menghadirkan dimensi fantastis, tetapi juga merefleksikan langkah pandang ilmiah dan kosmologis intelektual Muslim pada zamannya.

Sekurang-kurangnya, dalam tulisan ini, penulis bakal menguraikan, mendekonstruksi, serta membedah secara holistik teks klasik mengenai makhluk pra-Adam tersebut, melacak akar metodologis dan historisnya, serta menarik relevansi filosofis dan teologis bagi ketaatan manusia modern.

Mengenal Sosok Al-Mas’udi dan Potret Kitab Akhbar az-Zaman

Untuk memahami narasi tentang makhluk pra-Adam secara proporsional, langkah awal yang tak boleh diabaikan adalah mengenali sosok pengarang serta konteks historiografis karyanya. Syaikh Abul Hasan Ali bin Al-Husain bin Ali Al-Mas’udi (283-346 H/896-956 M) adalah seorang geografer, sejarawan, musafir, dan polimatik Muslim ternama dari Bagdad.

Itu sebabnya, tak heran jika Barat kerap menjulukinya sebagai “Herodotus Bangsa Arab” lantaran pengembaraannya yang banget luas menembus batas-batas geografis: mulai dari Persia, India, Sri Lanka, daerah pesisir Afrika Timur, hingga Laut Kaspia.

Al-Mas’udi hidup pada era keemasan peradaban Islam (Islamic Golden Age), suatu era di mana tradisi pencarian pengetahuan pengetahuan memadukan pengamatan empiris di lapangan dengan kajian teologis dan penyerapan warisan makulat Yunani, Persia, serta India.

Karya terbesarnya yang banget masyhur adalah “Muruj adz-Dzahab wa Ma’adin al-Jauhar” (Padang Emas dan Tambang Permata). Namun, beliau juga menulis kitab berjudul “Akhbar az-Zaman wa Man Abadahul Hadthan” (Berita Zaman dan Mereka yang Dibinasakan oleh Peristiwa Masa Lalu).

Kitab “Akhbar az-Zaman” dikenal sebagai karya yang menggabungkan sejarah purbakala, pengetahuan permukaan bumi spekulatif, kosmologi, folklor, serta kisah-kisah keajaiban dunia. Dalam historiografi Islam, karya jenis ini berfaedah bukan sekadar sebagai catatan empiris, melainkan juga sebagai ensiklopedia pengetahuan universal yang merekam memori kolektif peradaban-peradaban masa lalu, mitologi kosmologis, serta pemikiran astronomis yang berkembang saat itu. Mengartikan karya ini secara literal tanpa memahami aliran literatur ajaib bakal menjerumuskan pembaca pada kesalahpahaman metodologis.

Bedah Teks: Narasi Dua Puluh Delapan Umat dan Kosmologi Bulan

Mari kita amati secara mendalam petikan teks Arab beserta terjemahannya dari kitab “Akhbar az-Zaman” yang menjadi konsentrasi tulisan ini. Di dalam kitab itu dikatakan:

يقال إنه كانت الجملة ثمانيًا وعشرين أمة بأزاء المنازل العالية التي يحلها القمر، لأنه المستولي عندهم لتدبير العالم الأرضي بإذن الله تعالى جل ذكره خلقت من أمزجة مختلفة أصلها الماء والهواء والنار والأرض، فهي متباينة الخلق ومنها أمة طوال خفاف زرق ذات أجنحة كلامهم فرقعة، ومنها أمة أبدانهم كأبدان الاسد ورؤوسهم رؤس الطير لها شعور وأذناب طوال كلامهم دوي، ومنها امة لها وجهان قدامها وخلفها وأرجل كثيرة وكلامهم كلام الطير

Artinya; “Dikatakan bahwa jumlah keseluruhannya ada dua puluh delapan umat, sebanding dengan kedudukan-kedudukan tinggi yang ditempati oleh bulan, lantaran menurut mereka bulan berkedudukan sebagai yang mengatur urusan bumi bumi dengan izin Allah Swt. Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Mereka diciptakan dari campuran unsur yang berbeda, yang asalnya adalah air, udara, api, dan tanah. Karena itu, corak dan jenis mereka pun beragam.”

“Di antaranya ada suatu umat yang bertubuh panjang, ringan, berwarna biru, dan mempunyai sayap, sedangkan langkah berbincang mereka seperti bunyi letupan. Di antaranya ada umat yang tubuhnya seperti tubuh singa dan kepala mereka seperti kepala burung, mempunyai rambut dan ekor yang panjang, dan bunyi mereka seperti bunyi gemuruh.

Dan di antaranya ada umat yang mempunyai dua wajah, satu di bagian depan dan satu di bagian belakang, mempunyai banyak kaki, dan langkah bicara mereka seperti bunyi burung.”

Secara tidak langsung, teks di atas memuat beberapa prinsip krusial kosmologi Abad Pertengahan yang sangat menarik untuk dibedah secara filosofis dan ilmiah. Pertama, nomor 28 dan stasiun bulan (manazil al-Qamar).

Penulis menyebut bahwa terdapat 28 umat makhluk pra-Adam. Angka ini secara definitif dikaitkan dengan 28 manazil al-qamar (28 posisi alias stasiun orbit Bulan dalam pengetahuan astronomi tradisional).

Dalam sains antik (yang dipengaruhi oleh sistem Ptolemaik dan astrologi Islam), bulan dianggap sebagai barang langit terdekat dengan Bumi yang memancarkan pengaruh bentuk maupun simbolis terhadap perubahan musim, pasang surut air laut, hingga pertumbuhan makhluk hidup di alam bawah (alam as-sufli).

Penjajaran 28 umat dengan 28 stasiun bulan mencerminkan pandangan kosmologis bahwa struktur kehidupan biologis di Bumi mempunyai pengharmonisan numerik dengan tata surya.

Kedua, konsep empat unsur dasar (al-Anasir al-Arba’ah). Teks tersebut mencatat bahwa umat-umat ini diciptakan dari ragam racikan (amzijah) empat unsur utama: air, udara, api, dan tanah. Ini adalah manifestasi nyata dari makulat alam peripatetik (Aristotelian) yang diserap secara meluas oleh para cerdas pandai Muslim abad pertengahan.

Menurut teori ini, seluruh materi di alam bawah tercipta dari kombinasi empat komponen tersebut dengan komposisi yang berbeda-beda. Keanekaragaman bentuk makhluk dipahami sebagai akibat logis dari kekuasaan unsur tertentu, misalnya, unsur udara dan api menghasilkan makhluk yang ringan dan bersayap, sementara unsur tanah menghasilkan makhluk yang bentuk yang padat dan berat.

Tipologi Fisik dan Bahasa: Imajinasi alias Pertanda Hayat?

Poin paling mencolok dari quote kitab “Akhbar az-Zaman” adalah penjelasan morfologi bentuk serta modus komunikasi dari umat-umat pra-Adam tersebut. Al-Mas’udi merinci tiga ragam corak makhluk secara sangat kontekstual.

Pertama, umat bersayap biru dan berkata letupan (furqa’ah). Makhluk ini digambarkan bertubuh panjang, berbobot ringan, berwarna biru, dan berbulu alias bersayap. Cara mereka berkomunikasi bukanlah bahasa berartikulasi seperti manusia, melainkan berupa bunyi letupan alias gesekan. Karakteristik ini mencerminkan kekuasaan komponen udara dan api dalam komposisi tubuh mereka.

Kedua, umat hibrida berbadan singa dan berkepala burung. Penggambaran makhluk berbadan singa, berkepala burung, berambut, berbuntut panjang, dan bersuara gemuruh (dawi) sangat mirip dengan figur mitologis Griffin yang dikenal dalam peradaban Mesopotamia dan Persia kuno.

Dalam kosmologi klasik, campuran antara raja darat (singa) dan raja udara (burung) melambangkan kekuatan, kecepatan, dan daya tahan bentuk yang luar biasa.

Ketiga, umat berparas dua dan berkaki banyak. Makhluk dengan dua wajah (satu di depan, satu di belakang), yang mempunyai banyak kaki dan bersuara seperti kicauan burung, menunjukkan buahpikiran tentang persepsi visual omnidireksional (mampu memandang segala arah tanpa berbalik) serta mobilitas yang sangat tinggi. Bahasa mereka yang digambarkan seperti bunyi burung memperkuat kesan eksotisme nonmanusia.

Pertanyaannya adalah kenapa penjelasan semacam ini muncul dalam literatur klasik Islam? Apakah ini sekadar khayalan imajinatif para penulis masa lalu, ataukah refleksi dari penemuan fosil purbakala yang diinterpretasikan melalui kacamata pengetahuan era itu?

Dalam studi sejarah sains, ada asumsi menarik bahwa penemuan tulang belulang dinosaurus alias megafauna purba oleh masyarakat antik sering kali diinterpretasikan sebagai sisa-sisa makhluk ajaib yang pernah mendiami Bumi sebelum manusia.

Tanpa adanya metodologi paleontologi modern, para sejarawan Abad Pertengahan merekonstruksi corak makhluk-makhluk tersebut menggunakan kerangka berpikir kosmologis yang mereka miliki.

Dilema Epistemologis: Antara Sejarah Empiris, Isra’iliyyat, dan Kritik Khaldunian

Ketika berhadapan dengan narasi sejarah klasik seperti yang tertulis dalam “Akhbar az-Zaman”, ahli filsafat Muslim modern perlu bersikap kritis dan metodologis. Dalam keilmuan Islam, tidak semua teks sejarah mempunyai berat otoritas yang sama dengan teks norma alias akidah.

Terdapat perbedaan mendasar antara khabar shahih (berita yang terverifikasi) dengan khabar aja’ib (narasi keajaiban kolektif) alias isra’iliyyat (cerita-cerita yang berasal dari tradisi Ahli Kitab terdahulu).

Sosiolog dan sejarawan Muslim terbesar abad ke-14 M, Ibnu Khaldun, dalam karya masterpiece-nya “Muqaddimah”, meletakkan dasar-dasar kritik sejarah (naqd al-khabar).

Ibnu Khaldun secara tegas mengingatkan para sejarawan agar tidak menelan bulat-bulat narasi-narasi aneh, fantastis, dan tidak masuk logika yang sering disisipkan oleh penulis sejarah terdahulu. Ibnu Khaldun menekankan pentingnya menguji sebuah buletin sejarah dengan norma alam, rasionalitas, dan norma kebiasaan sosial (qanun al-adah).

Meskipun Al-Mas’udi adalah seorang intelektual besar, beliau sering kali memasukkan narasi-narasi lisan dan cerita rakyat yang beredar di beragam area bumi untuk menjaga kelengkapan catatan etnografisnya.

Oleh lantaran itu, narasi mengenai 28 umat pra-Adam dengan ciri-ciri bentuk ajaib tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai doktrin keagamaan yang wajib diyakini kebenarannya secara harfiah (dogma teologis). Narasi tersebut lebih tepat diposisikan sebagai warisan khazanah kosmologi antik dan etnografi spekulatif yang merekam langkah manusia abad pertengahan memahami rahasia masa lampau Bumi.

Diskursus Keberadaan Makhluk Sebelum Adam dalam Akidah Islam

Lantas, gimana aliran Islam memandang pendapat bahwa ada kehidupan alias makhluk sebelum Nabi Adam AS? Jika kita merujuk pada Al-Qur’an dan riwayat-riwayat tafsir yang diakui, rumor mengenai eksistensi kehidupan sebelum manusia memang mempunyai injakan naratif yang kuat, terutama ketika membahas peristiwa pembuatan Adam dalam Surah Al-Baqarah ayat 30:

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْۤا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ ۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ ۗ قَالَ اِنِّيْۤ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak Anda ketahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 30).

Pertanyaan malaikat “Mengapa Engkau hendak menjadikan khalifah yang bakal membikin kerusakan dan mengalirkan darah?” menjadi bukti analitis yang sangat menarik bagi para mufasir (ahli tafsir). Para ustadz seperti Ibnu Abbas, Ibnu Katsir, dan Al-Qurthubi menjelaskan bahwa pernyataan malaikat tersebut lahir dari pengalaman alias pengamatan mereka terhadap makhluk yang menghuni bumi sebelum Adam.

Dalam riwayat-riwayat klasik tafsir, makhluk-makhluk pra-Adam tersebut sering diidentifikasi sebagai golongan Al-Jinn (bangsa Jin) serta entitas-entitas sebelumnya yang disebut dengan istilah Al-Hinn, Al-Binn, Al-Tinn, dan Al-Rimm.

Dikisahkan bahwa mereka mendiami bumi ribuan tahun sebelum manusia, namun lantaran saling melakukan zalim, merusak ekosistem bumi, dan menumpahkan darah, Allah mengutus pasukan malaikat untuk mengusir mereka ke pulau-pulau terpencil dan lautan luas. Barulah setelah itu, Allah menciptakan Nabi Adam AS sebagai manusia pertama dan khalifah baru di bumi.

Dengan demikian, keberadaan kehidupan biologis alias bernyawa sebelum Nabi Adam secara teologis adalah perihal yang sangat mungkin dan tidak bertentangan dengan aliran Islam. Hanya saja, rincian bentuk seperti yang dituliskan dalam “Akhbar az-Zaman” (berwajah dua, berkaki banyak, alias bersuara letupan) merupakan domain ghayb (hal gaib) yang rincian spesifiknya tidak ditegaskan oleh dalil qath’i (teks yang absolut otentik), sehingga kita tidak diwajibkan untuk membenarkan ataupun mendustakannya secara mutlak.

I’tibar Teologis: Menembus Batas Takjub Menuju Puncak Keimanan

Bagian penutup dari quote yang kita kaji menyajikan sebuah konklusi yang banget mendalam dan sarat bakal nilai spiritual:

“Dari kisah-kisah tentang makhluk sebelum Nabi Adam AS ini, kita diingatkan bahwa alam Allah sangat luas, penuh dengan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan-Nya yang tidak terbatas. Namun pada akhirnya, semua riwayat dan gambaran ini tidaklah menjadi tujuan untuk diyakini secara pasti, melainkan untuk membuka alam renungan tentang sungguh agungnya buatan Allah SWT.”

Inilah prinsip utama (core wisdom) dari seluruh penjelajahan kosmologis ini. Ketika membaca kisah-kisah antik tentang rahasia penciptaan, seorang penuntut pengetahuan hendaknya tidak terjebak dalam dua lembah ekstrem: ekstrem pertama adalah menolak semua perihal secara arogan hanya lantaran belum terjangkau oleh sains hari ini, dan ekstrem kedua adalah percaya secara buta (taklid) terhadap setiap cerita dahsyat tanpa verifikasi ilmiah dan teologis.

Tujuan utama ditunjukkannya keajaiban-keajaiban ciptaan, baik yang ada di langit, di bumi, maupun dalam catatan sejarah masa lalu, adalah sarana i’tibar (pengambilan pelajaran). Dalam makulat tauhid, Allah SWT mempunyai nama-nama bagus seperti Al-Khaliq (Maha Pencipta), Al-Bari’ (Maha Mengadakan dari Tiada), dan Al-Musawwir (Maha Membentuk Rupa). Kekuasaan Allah tidak terbatas hanya pada bentuk-bentuk biologis manusia, hewan, dan tumbuhan yang kita lihat hari ini.

Alam semesta berumur sekitar 13,8 miliar tahun, sedangkan Bumi berumur sekitar 4,5 miliar tahun. Keberadaan jenis manusia (Homo sapiens) di Bumi, jika dibandingkan dengan skala waktu geologis Bumi, hanyalah sekedipan mata.

Menyadari realita ini, baik melalui sains modern maupun narasi kosmologi klasik, semestinya meruntuhkan sikap kesombongan manusia (anthropocentrism). Manusia bukanlah satu-satunya konsentrasi pembuatan di alam semesta yang maha luas ini, melainkan salah satu dari sekian banyak buatan Allah yang diberi amanah kekhalifahan.

Implikasi Bagi Pembaca Modern

Mengkaji ulang tulisan Syaikh Al-Mas’udi dalam kitab “Akhbar az-Zaman” memberikan kita dua pelajaran berbobot sekaligus: pelajaran sejarah intelektual dan pelajaran spiritual.

Secara intelektual, kita diajak menghargai khazanah literatur klasik Islam yang begitu kaya, berani menjelajahi batas-batas kosmologi, serta berupaya memahami rahasia alam semesta pada zamannya. Para intelektual Muslim masa lampau telah menunjukkan keterbukaan fikiran yang luar biasa dalam mendokumentasikan pengetahuan dan narasi dari beragam kebudayaan dunia.

Namun, secara spiritual, membaca narasi makhluk pra-Adam mengarahkan hati kita pada kesadaran ketauhidan yang murni. Pengetahuan tentang masa lampau yang gaib tidak disajikan untuk memuaskan sensasionalisme alias rasa penasaran spekulatif semata, melainkan untuk mempertebal rasa tunduk dan kagum (khasyah) kepada Pencipta Seluruh Alam (Rabb al-Alamin).

Syahdan. Pengetahuan sejati adalah pengetahuan yang membuahkan keagamaan dan kehendak untuk melakukan kebaikan. Kisah-kisah kosmologi masa lampau mengingatkan kita bahwa bumi ini fana, peradaban demi peradaban berganti, dan pada akhirnya hanya keagungan Allah SWT yang abadi. Wallahu a’lam bishawab.

—————————-

*) Alumni PP Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo dan PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

Sertifikasi Halal

Selengkapnya